Produksi Gula Nasional Diperkirakan Meleset dari Target

Selasa, 04/12/2012

NERACA

Jakarta - Pemerintah memperkirakan produksi gula nasional hingga akhir tahun ini tidak sesuai dengan target yang telah ditetapkan sebesar 2,7 juta ton karena tidak ada tambahan lahan baru bagi perkebunan tebu.

“Hingga akhir tahun, produksi gula nasional hanya 2,58 juta ton, lebih sedikit dari realisasi target yang ditetapkan awal tahun sebesar 2,7 juta ton. Minimnya penambahan lahan perkebunan tebu menjadi salah satu faktor yang menghambat produksi gula nasional,” kata Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan), Gamal Nasir di Jakarta, Senin (3/12).

Produksi gula pada tahun ini, menurut Nasir, telah melalui penghitungan final karena musim giling tebu selesai akhir bulan lalu. “Untuk produksi gula pada 2012 memang naik 2,23 juta ton dari realisasi tahun lalu. Sedangkan rendemen gula juga mengalami kenaikan dan proyeksi produksi gula tersebut mencakup produksi dari pabrik gula milik badan usaha milik negara (BUMN) dan pabrik gula swasta,” paparnya.

Sedangkan produksi gula pada 2013, lanjut Nasir, diproyeksi mencapai 2,8 juta ton. “Kami optimistis dapat mencapai target produksi pada tahun depan sebesar 2,8 juta ton karena akan dilakukan penambahan lahan tebu yang relatif luas sekitar 50.000 hektar. Saat ini, kebutuhan gula konsumsi di dalam negeri setiap tahun sebanyak 2,7 juta ton,” ujarnya.

Produksi gula di dalam negeri selama ini hanya untuk kebutuhan konsumsi masyarakat. Kebutuhan gula untuk industri dipasok oleh produsen gula rafinasi yang masih mengimpor bahan baku berupa gula mentah (raw sugar). Produksi gula Indonesia saat ini masih di bawah tingkat kebutuhan sekitar 200 juta jiwa penduduk. Saat ini hanya 140 juta penduduk yang bisa mengkonsumsi gula. Jalan keluarnya adalah impor.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan dan Logistik Natsir Mansyur mengatakan, dari keseluruhan total produksi gula, terdapat 60 juta penduduk yang tidak dapat mengkonsumsi gula. "Kita sudah ketahui bersama bahwa gula tidak sesuai suplai dan demand. Hanya 140 juta jiwa yang mengkonsumsi gula, berarti 60 juta sisanya tidak mengkonsumsi gula," ungkap Natsir.

Dia menjelaskan, saat ini kebutuhan gula dalam negeri mencapai 2,7 juta ton per tahun. Sedangkan total produksi gula dalam negeri hanya mencapai 2,1 juta ton. "Target produksi 2,7 juta ton, produksi 2,1 juta ton. Kalau 2,1 juta dibagi 12 kg (konsumsi per kapita) dengan asumsi yang mengkonsumsi gula itu 200 juta jiwa, maka itu hanya dapat dikonsumsi oleh 140 juta jiwa," jelasnya.

Lebih lanjut Natsir mengatakan, mayoritas penduduk yang tidak mendapatkan gula ialah di daerah perbatasan luar Jawa. "Daerah perbatasan, jadi 140 juta hanya bisa dikonsumsi oleh pulau Jawa saja," tambahnya.

Karena itu, ujar Natsir, untuk menutupi dan mengantisipasi kekurangan ini, mau tidak mau pemerintah harus membuka kran impor agar pendistribusian gula konsumsi dapat dilakukan secara merata. "Ya mau tidak mau harus impor," cetusnya.

Peningkatan Rendemen

Di tempat berbeda, Sekretaris perusahaan PTPN X, Mochamad Cholidi, menuturkan peningkatan rendemen dan pasokan tebu menjadi faktor bertambahnya produksi gula perusahaan. Produksi tebu yang diolah di pabrik gula milik PTPN X tahun ini mencapai 6.072 juta ton, tumbuh 8,1% dibandingkan tahun 2011 sebesar 5.616 juta ton. Kenaikan rendeman tebu juga meningkat menjadi 8,14 % ketimbang tahun 2011 sebesar 7,94%.

Bagi Cholidi, ini tak lepas dari revitalisasi mesin-mesin produksi dan luas area tanam tebu di bawah PTPN X. Dengan demikian, dia bisa memaksimalkan potensi rendemen dan meningkatkan produksi gula PTPN X. "Perbaikan ini pararel. Tahun 2011 PG Pesantren Baru sudah direvitalisasi. Tidak harus mengganti total, mana yang masih layak dipertahankan," kata Cholidi.

Bahkan, luas area tanam tebu tahun 2013 diperkirakan meningkat menjadi 76.000 hektare dari 72.000 hektare tahun ini. Dari jumlah itu, 2.000 hektare lahan milik PTPN X dan 70.000 hektare sisanya kebun tebu rakyat. Cholidi menambahkan, rencananya pada 2013 mendatang mereka menambah kapasitas produksi dan mengoptimalisasi 11 pabrik gula.

Untuk optimalisasi 11 pabrik gula tersebut butuh belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai Rp 560 miliar. Salah satunya, modenisasi dan penambahan kapasitas giling PG Kremboong di Kabupaten Sidoarjo. Saat ini, PG Kremboong memiliki kapasitas giling 1.600 ton cane day (TCD). Tahun depan akan menjadi 2.500 TCD. "Tentunya produksi gula tahun depan juga naik lagi," kata dia.

Administratur PG Kremboong, Soemartono, mengatakan musim giling 2012 ini pabriknya berkontribusi sebesar 20.000 ton dari total produksi gula PTPN X. Minimnya kontribusi lantaran kapasitas giling dan mesin produksi yang dimikili tergolong uzur.

Dia menjelaskan, PG Kremboong berdiri pada 1847 dan alat-alat produksinya berusia 1 abad lebih. Karena itu, ia meminta kepada jajaran manajemen PTPN X segera merevitalisasi PG Kremboong dengan tidak menghilangkan sentuhan sejarahnya. "Tahun depan direncanakan segera dimodernisasi," kata Soemarton.