Kemenperin Terus Kembangkan IKM Komponen Otomotif - Bendung Penetrasi Produk Impor

NERACA

Bandung - Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Euis Saedah mengungkapkan 80% komponen otomotif masih impor. Oleh karena itu, Kemenperin berupaya untuk memajukan industri kecil dan menengah (IKM) komponen otomotif agar lebih berkembang dan bisa bersaing dengan negara-negara lain.

Euis memaparkan industri komponen otomotif di Indonesia masih tertinggal jauh dari negara Asia lainnya seperti Thailand. "Hal itu terlihat dari kuantitas supplier komponen otomotif lokal Indonesia yang hanya 14% dari yang dimiliki Thailand. Padahal, industri komponen otomotif di Indonesia sudah ada sejak tahun 1979, dan jumlah IKM komponen otomotif di Indonesia cukup banyak," ungkap Euis saat acara Dialog Interaktif Peluang dan Tantangan IKM Komponen Otomotif Indonesia di Bandung, Senin (3/12).

Selain itu, Euis mengungkapkan, beberapa kendala memang masih dijumpai saat ini untuk industri kecil menengah komponen otomotif Indonesia, di antaranya masih memiliki keterbatasan kemampuan untuk memenuhi persyaratan Quality, Cost dan Delivery (QCD), karena kemampuan SDM belum memenuhi dan kebutuhan beberapa teknologi kunci belum dimiliki.

Akibat beberapa kendala itu, menurut Euis, kondisi yang terjadi saat ini adalah sebagaian besar komponen otomotif yang beredar di pasaran masih merupakan produk impor. “Nah kedepan, kita ingin kondisi itu terbalik, dimana kita harus bisa memasok hampir keseluruhan produk komponen dan subkomponen otomotif,” ujarnya.

Euis menjelaskan beberapa upaya yang dilakukan Kemenperin untuk mendorong perkembangan industri komponen otomotif Indonesia diantaranya berupa fasilitasi pelatihan dan standardisasi.

Lakukan Kerjasama

Sementara itu, untuk mengembangkan industri komponen otomotif nasional itu, Kemenperin juga menjalin kerjasama dengan Koperasi Industri Komponen Otomotif (KIKO) Indonesia, dan Himpunan Bengkel Binaan Astra (HBBA).

Di tempat yang sama, Ketua Dewan Penasehat HBBA Pipin Machrufin mengatakan, sebagai wujud komitmem HBBA dalam pengembangan industri komponen otomotif Indonesia, pihaknya akan menyalurkan semua jenis komponen hasil karya industri komponen otomotif Indonesia ke seluruh bengkel anggota HBBA.

“Kita akan menyalurkan seluruh jenis komponen otomotif hasil karya industri komponen otomotif yang tergabung dalam KIKO itu ke seluruh bengkel HBBA di seluruh Indonesia yang berjumlah 127 bengkel,” ujar Pipin.

Pernyataan Pipin itu disambut baik Ketua Ketua KIKO M. Kosasih. Menurut M. Kosasih perkembangan volume pasar dari 2005 hingga 2010 terus mengalami peningkatan, baik untuk komponen Motor, maupun Mobil.

“Perkembangan penyerapan pasar dari industri komponen otomotif itu terus mengalami peningkatan baik komponen otomotif yang akan dikirim untuk industri perakitan mobil atau motor, Original Equipment Manufacture (OEM), maupun komponen yang akan dijual ke langsung ke pasar, atau Product After Based” ujar Kosasih.

Menurut Kosasih, perkembangan ini menjadi tantangan tersendiri bagi IKM Komponen Otomotif, untuk mengingkatkan kualitas dan kuantitasnya produknya. Dalam kesempatan yang sama, Kosasih juga mengungkapkan impor. kendaraan yang mencapai US$ 11,9 juta pada semester I tahun ini akan menggerus produksi industri komponen lokal terutama skala kecil menengah.

"Nilai impor komponen yang sangat tinggi pada paruh pertama tahun ini membuat produsen komponen dari dalam negeri khususnya skala kecil menengah semakin terpuruk. Kondisi ini menunjukkan pasar komponen masih dikuasai prinsipal utama dari luar Indonesia," kata Kosasih.

Pelaku industri kecil menengah (IKM) komponen lokal, menurut Kosasih, masih meng-hadapi banyak permasalahan. "Masalah utama yang dihadapi adalah kurangnya rasa percaya masyarakat untuk menggunakan komponen buatan dalam negeri. Hal ini berimbas pada pelaku industri yang menjadi semakin tidak percaya diri terhadap kualitas produk mereka," paparnya.

Pemerintah, lanjut Kosasih, diharapkan memberikan bimbingan kepada IKM komponen lokal mengenai standardisasi dan pendaftaran merek. "Sebagian besar pelaku masih belum memahami masalah ini, sehingga banyak produk komponen lokal tanpa merek beredar di pasaran," ujarnya.

Kosasih menambahkan, pihaknya tengah berusaha meningkatkan mutu dan kualitas komponen lokal yang sesuai dengan standar nasional Indonesia (SNI). Kiko juga mendaftarkan 9 jenis komponen lokal yang sesuai SNI dan siap diluncurkan awal tahun depan. "Kami mengharapkan pemerintah merancang regulasi yang melindungi IKM komponen lokal. Peraturan ini diharapkan dapat meningkatkan porsi komponen lokal dan mengurangi impor komponen yang juga dibarengi dengan peningkatan kualitas komponen lokal," tandasnya.

BERITA TERKAIT

Pertamina Menggandeng UNPAD, Produksi Hand Sanitizer

NERACA Bandung - PT Pertamina (Persero) mendukung berbagai pihak untuk memproduksi produk pencegahan penyebaran virus Covid-19. Salah satunya dengan Fakultas…

Mencegah Corona, Panen Tetap Harus Mengikuti Prosedur

NERACA Indramayu – Pandemi covid-19 tidak menjadi halangan bagi petani untuk panen. Di Desa  Nunuk, Kecamatan Lelea, Indramayu, para petani…

Covid-19 Tak Mempengaruhi Akses Pengiriman Logistik Perikanan

NERACA Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meminta akses pengiriman sarana produksi dan logistik di Bidang Kelautan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Lawan Covid-19, Industri Otomotif Siap Produksi Ventilator

NERACA Jakarta – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong industri otomotif di dalam negeri untuk dapat memproduksi alat…

Pemerintah Menggandeng Jasa Layanan Umum Mengamankan Pangan

NERACA Jakarta – Berbagai cara dilakukan oleh pemerintah untuk mengamankan bahan pangan. Diantaranya Kementerian Pertanian (Kementan) dengan menggandeng Gojek Pengamat…

Konsolidasi dan Perkuat Bisnis Utama, Pertamina Rasionalisasi 25 Entitas Usaha

NERACA Jakarta - PT Pertamina (Persero) siap mendukung upaya pemegang saham dalam rangka konsolidasi Anak Perusahaan BUMN untuk meningkatkan efisiensi…