BRI Akui Hati-hati Terapkan Branchless Banking

NERACA

Jakarta - Meski mengaku sudah siap, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk tetap akan berhati-hati dalam menerapkan sistem branchless banking. "Kita ini kan punya pengalaman cukup banyak di daerah rural, tentu harus hati-hati branchless banking," ujar Direktur Bisnis UMKM BRI, Djarot Kusumayakti di Jakarta, pekan lalu.

Meski demikian, lanjut Jarot, BRI sudah siap melakukannya. "Sudah, tapi seperti apa persiapannya, ini yang baru kita garap. Tapi kita sudah siap. Siap dalam bentuk yang mudah-mudahan tujuannya mem-bankers-kan saudara-saudara kita di sana (daerah rural)," tuturnya. Menurut dia, kalau buka warung kopi dan warung lain-lain (sistem agensi) secara tidak bijak, maka imbasnya terkait dengan masalah tanggung jawab.

"Ini adalah ide yang baik, tapi harus di-cover dengan mitigasi risiko memadai. Jangan sampai saudara-saudara kita di sana nitip uang ke warung pulsa hilang. Kalau demikian siapa yang tanggung jawab. Jadi ini harus jelas. Kita sudah mencoba menyiapkan," kata dia.

Bank sentral akan mengatur branchless banking. Dengan sistem branchless banking ini diharapkan seluruh masyarakat Indonesia dapat menjangkau akses layanan perbankan. Sebelumnya, Direktur Micro Retail Banking PT Bank Mandiri Tbk, Budi Gunadi Sadikin, menambahkan, hingga 250 tahun perbankan masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia yang memiliki akses ke perbankan hanya 60 juta orang dari 240 juta penduduk Indonesia.

Jumlah ini lebih kecil dibandingkan akses masyarakat yang memiliki telepon selular mencapai 200 juta. Menurut Budi, dengan branchless banking tersebut diharapkan dapat membuat seluruh masyakat Indonesia dapat memiliki akses ke layanan perbankan.

Budi mengatakan, salah satu sistem branchless banking yang berhasil dilakukan yaitu di Kenya. Hampir seluruh masyarakat Kenya memakai branchless banking. Pihaknya pun telah menjalankan sistem branchless banking tersebut di Bank Sinar Harapan Bali, salah satu anak usaha Bank Mandiri.

Pihaknya bekerja sama dengan operator Axis dalam menjalankan sistem tersebut di Bank Sinar Harapan Bali. Budi menegaskan, sistem branchless banking ini memang membuat biaya operasional perbankan akan lebih rendah. Bila perseroan membuka kantor cabang maka membutuhkan dana investasi sekitar Rp1 miliar dengan biaya operasional Rp100 juta per bulan.

Untuk penggunaan mesin ATM pun membutuhkan biaya investasi Rp400 juta. Sementara itu transaksi EDC membutuhkan dana Rp3 juta. Selain itu, Budi menjelaskan sistem branchless banking ini juga membutuhkan super agent atau agen ekslusif yang berbadan hukum dan memiliki perjanjian dengan bank. Lalu nanti di bawah ada agen yang tidak perlu berbadan hukum. Namun hal itu harus mendapatkan persetujuan Bank Indonesia.

Agen ekslusif tersebut akan mendapatkan fee dari transaksi. Adapun penyetoran dana minimal Rp1 juta ke agen eksklusif dengan ketentuan tidak memakai know your customer (KYC) dan Rp5 juta dengan memakai ketentuan KYC. Budi menegaskan, sistem branchless banking dengan memakai agen itu tidak akan mengurangi jumlah ATM. "Setiap teknologi baru, tidak serta merta teknologi lama hilang," kata Budi.

Budi mengatakan, sistem branchless banking ini membutuhkan regulasi dari Bank Indonesia (BI). Selain itu, adanya regulasi sebagai platform kerjasama antara perusahaan telekomunikasi dan bank. Ia mengakui, saat ini memang hubungan perusahaan telekomunikasi dan perbankan masih belum harmonis. "Masih ada rasa curiga," kata Budi. [ria/ardi]

BERITA TERKAIT

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi

Investasi Ilegal di Bali, Bukan Koperasi NERACA Denpasar - Sebanyak 12 lembaga keuangan yang menghimpun dana masyarakat secara ilegal di…

Farad Cryptoken Merambah Pasar Indonesia

  NERACA Jakarta-Sebuah mata uang digital baru (kriptografi) yang dikenal dengan Farad Cryptoken (“FRD”) mulai diperkenalkan ke masyarakat Indonesia melalui…

OJK: Kewenangan Satgas Waspada Iinvestasi Diperkuat

NERACA Bogor-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharapkan Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi dapat diperkuat kewenangannya dalam melaksanakan tugas pengawasan, dengan payung…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Kena Dampak Covid 19, AAJI Minta Diizinkan Jual PAYDI Secara Online

    NERACA   Jakarta - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengizinkan Produk Asuransi…

Bank Mandiri Bayar BP Jamsostek Debitur KUR Senilai Rp5 Miliar

  NERACA Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan terkait penyediaan asuransi perlindungan bagi debitur…

OJK Minta Industri Jasa Keuangan Lakukan Penyesuaian Operasional

  NERACA Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta kepada seluruh lembaga di industri jasa keuangan untuk melakukan penyesuaian operasional…