Exploitasi Energi Lepas 4,7 Miliar Lembar Saham

PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO) berencana melepas 4,7 miliar lembar saham dalam penawaran umum terbatas dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue yang dilakukan perseroan di harga Rp500 per lembar.

Pihak menajemen perseroan menyampaikan, jumlah saham tersebut setara dengan 52,59% dari modal ditempatkan dan disetor. Pelaksanaan right issue tersebut akan dilaksanakan oleh perseroan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 6 Desember 2012.

Rencananya, CNKO akan menggunakan dana tersebut untuk mengembangkan bisnis di bidang batu bara dan energi, melalui akuisisi PT EBI dan menambah modal kerja. Dana akuisisi akan digunakan EBI untuk mengakuisisi lima perusahaan senilai Rp2,3 triliun dan sisanya sebesar Rp400 miliar bakal digunakan untuk modal kerja EBI setelah akuisisi.

Presiden Direktur & CEO PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO), Henry Sitanggang sebelumnya mengatakan, untuk meningkatkan kapasitas produksi batu bara dan listrik, perusahaan melirik saham PT Tenaga Listrik Bintan (TLB) senilai Rp48 miliar dan 5 pembangkit listrik minihidro. Namun sayang, Henry enggan menyebutkan asal dana tersebut.

Di samping itu, perusahaan juga berencana menyelesaikan proyek 5 pembangkit listrik minihidro di Sumatera, Jawa dan Sulawesi dengan target kapasitas 100 MW. “Bila akuisisi tersebut jadi, kami bisa mencatat penjualan listrik per tahun hingga Rp2 triliun,” ucapnya.

Kinerja Perseroan

Henry mengatakan, pada tahun 2012, perseroan menargetkan dapat memperoleh pendapatan senilai Rp2 triliun. Sementara pada semester pertama 2012, perseroan telah mencatatkan pendapatan senilai Rp1,2 triliun (unaudited) yang sebagian besar atau 90% diperoleh dari penjualan batu bara dan selebihnya merupakan penjualan listrik.

Selama ini, pasar batu bara dan energi listrik yang diproduksi oleh CNKO diserap untuk kebutuhan nasional dengan pembeli terbesar adalah PT Perusahaan Listrik Negara. Pihaknya mencatat, per tanggal 14 Oktober 2011, pembangkit listrik yang berlokasi di Pangkalan Bun secara resmi sudah beroperasi secara komersial, tetapi dua pembangkit listrik lainnya hingga saat ini masih dalam proses pembangunan dan diperkirakan selesai pada 2013. “PLTU di Riau masih dalam proses konstruksi tetapi semua barang modal sudah siap,” ujarnya.

Sampai dengan saat ini, perseroan memiliki sebuah unit pengolahan batu bara di Tanah Laut, Kalimantan Selatan dengan kapasitas 250 ton/jam. Selain itu, perseroan juga memiliki tiga unit pembangkit listrik dengan kapasitas masing-masing 2x7 MW yang berada di tiga lokasi, yaitu Pangkalan Bun (Kalimantan Tengah), Rengat (Riau), dan Tembilahan (Riau). (lia)

BERITA TERKAIT

Saham IPO Wahana Interfood Oversubscribed

NERACA Jakarta - Debut perdana di pasar modal, saham PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) dibuka naik 69,7% ke level…

Pertimbangkan Kajian Pelaku Pasar - Soal Saham Gocap Ditunda Hingga Tahun Depan

NERACA Jakarta – Menuai banyak penolakan, rencana PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus saham gocap atau penurunan batas minimal harga…

Akuisisi 56,77% Saham Phapros - Kimia Farma Anggarkan Dana Rp 1-1,5 Triliun

NERACA Jakarta – Aksi korporasi PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF) mengakuisisi 56,77% saham Phapros yang dimiliki PT Rajawali Nusantara…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Pembangunan Jaya Ancol Tumbuh 1,4%

PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) membukukan laba tahun 2018 sebesar Rp223 miliar atau tumbuh 1,4% dibandingkan dengan periode yang…

Laba Bersih Indocement Menyusut 38,3%

NERACA Jakarta – Pasar semen dalam negeri sepanjang tahun 2018 mengalami kelebihan pasokan, kondisi ini berdampak pada performance kinerja keuangan…

Pacu Pertumbuhan Investor di Sumbar - BEI dan OJK Edukasi Pasar Modal Ke Media

NERACA Padang - Dalam rangka sosialisasi dan edukasi pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Padang bekerja sama dengan…