Mata Uang ASEAN Baru Sebatas Mimpi

NERACA

Jakarta – Sukses dan berhasil dalam menetapkan mata uang tunggal di negara-negara Eropa menjadi Euro, tampaknya menjadi inspirasi yang bakal di susul oleh sejumlah negara anggota ASEAN. Wacana pembentukan mata uang tunggal di kawasan Asia Tenggara itu sempat dibahas dalam KTT ASEAN ke-18 yang berakhir kemarin di Jakarta. Namun pengamat ekonomi bersikap pesimistis atas terwujudnya wacana tersebut dalam waktu dekat ini.

Sikap pemisitis tersebut ditunjukkan oleh pengamat ekonomi Indef Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika yang menilai, terlalu dini merealisasikan rencana tersebut. Menurut dia, sangat jauh untuk mewujudkan mata uang tunggal di ASEAN yang meniru seperti di Eropa, apalagi menyatukan pasar modal.

“Untuk merelisasikannya masih sangat jauh. Bahkan sampai 25 tahun kedepan pun belum tentu terwujud,” katanya kepada Neraca di Jakarta, Minggu (8/5).

Menurut dia, masih banyak persoalan mendasar seperti masalah internal negara dan masalah bersama negara-negara Asia Tenggara. Contohnya kemiskinan, ketimpangan sosial sesama negara anggota ASEAN, dan sengketa perbatasan. Inilah yang harus diselesaikan dahulu.

Jika hal ini dipaksakan, maka Indonesia yang akan banyak dirugikan, karena kontribusi pasar modal Indonesia untuk membiayai korporasi hanya sekitar 15%. Perbankan mendominasi yaitu sebesar 80%, dan sisanya dari sektor keuangan lainnya seperti asuransi.

“Berbeda dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand. Ketiga negara ini tingkat keterlibatan publik di pasar saham tinggi. Contohnya Malaysia yang 30% UMKM-nya dapat pendanaan dari bursa, sedangkan kita nggak ada. Kalau integerasi ini terjadi, merekalah yang bakal menikmati dan kita hanya jadi penonton,” tegas Erani.

Walau pertumbuhan ekonomi Indonesia salah satu tertinggi di Asia, namun bermasalah di tingkat kualitas pertumbuhannya karena negeri ini hanya mengandalkan hasil dari perdagangan non-tradable. Jadi, tambah dia, tidak akan berpengaruh untuk mendongkrak pertumbuhan.

Hal senada juga disampaikan pengamat keuangan, Farial Anwar yang menilai, sulit sekali menghadirkan mata uang tunggal ASEAN. Pasalnya, tingkat perekonomian Indonesia masih sangat rendah dan belum tentu negara ASEAN yang lebih maju sepakat soal mata uang tunggal itu.

“Pengaruh perekonomian dari negara lain bisa mempengaruhi negara lainnya, karena mereka telah bergabung didalam satu mata uang. Jangan samakan ASEAN dengan Euro, dimana perbedaannya sangat jauh sekali. Di Eropa saja banyak negara menyesal bergabung ke Euro," ujarnya.

Hal senada pernah disampaikan pengamat ekonomi Universitas Atmajaya Dr. Prasetyantoko, bahwa penetapan mata uang bersama di negara Asia Tenggara akan sulit untuk diterapkan. Menurut dia, pembahasan mata uang bersama juga tidak akan dibahas dalam KTT ASEAN ke-18 di Jakarta

Menurut dia, tidak mudah untuk menetapkan mata uang bersama seperti yang dilakukan oleh negara-negara Eropa yang memberlakukan mata uang Euro. Dia menilai, yang menjadi kendala adalah perbedaan nilai mata uang antar negara masing-masing berbeda, sehingga belum tentu antar negara satu dengan yang lain mau menggunakan mata uang bersama. "Mata uang ASEAN bersama saya rasa akan sulit diwujudkan," ujarnya.

Selain itu, lanjut Prasetyantoko, stabilitas nilai tukar mata uang juga dianggap akan mempengaruhi bisa tidaknya mata uang bersama ASEAN diterapkan. "Misalnya, Indonesia dengan Singapura, mau tidak Singapura menggunakan mata uang yang sama dengan kita," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan, mewujudkan mata uang tunggal di kawasan ASEAN, hal itu adalah angan-angan yang terlalu jauh. “Soal mata uang tunggal, saya pikir ini masih jauh buat ASEAN. Eropa saja memerlukan waktu hampir 60 tahun sebelum mereka ke euro. Dan euro pun seperti Inggris tidak ikut di euro,"tegasnya.

Asal tahu saja, konsekuensi dari mata uang tunggal itu kita harus mempunyai sentral bank, seperti European Central Bank. Saat ini, yang terpenting bagi negara-negara anggota ASEAN adalah adanya koordinasi dalam kebijakan makro ekonomi. Koordinasi itu penting untuk menghadapi krisis finansial maupun pemulihan perekonomian di kawasan Asia Tenggara. iwan/ardi/bani

BERITA TERKAIT

Kepercayaan Masyarakat Tetap Tinggi Terhadap Bank

NERACA Jakarta - Penyebaran virus corona telah melemahkan pertumbuhan ekonomi dunia yang berdampak pada laju ekonomi negara berkembang seperti Indonesia.…

BELANJA NEGARA MEMBENGKAK AKIBAT PANDEMI COVID-19 - Pemerintah Kaji Ulang Gaji ke-13 dan THR bagi PNS

Jakarta-Pemerintah sedang mengkaji skenario terburuk jika pelebaran defisit APBN mencapai 5% dari PDB, termasuk mengkaji ulang terkait pembayaran gaji ke-13…

Karantina Wilayah Dorong Perlambatan Ekonomi Lebih Dalam - PERMENKES NO 9/2020 ATUR PSBB

NERACA Jakarta-Lembaga pemeringkat internasional, Moody's, menilai perekonomian Indonesia mendapatkan tantangan yang serius dari penyebaran virus corona. Terutama sisi fiskal dan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

PRESIDEN MINTA K/L GENJOT PADAT KARYA TUNAI - Pengusaha Khawatir PSBB Berdampak PHK

Jakarta-Kalangan pengusaha khawatir penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta yang sudah disetujui Kementerian Kesehatan demi menekan penyebaran…

JARING PENGAMAN SOSIAL - Bantuan Pemerintah Jangan Dipakai Buat Mudik

NERACA Jakarta - Pemerintah menyiapkan anggaran belanja dari APBN 2020 untuk penanganan dampak wabah Covid-19 sebesar Rp 405,1 triliun. Dari…

Kepercayaan Masyarakat Tetap Tinggi Terhadap Bank

NERACA Jakarta - Penyebaran virus corona telah melemahkan pertumbuhan ekonomi dunia yang berdampak pada laju ekonomi negara berkembang seperti Indonesia.…