Genjot Produksi, AALI Akuisisi Lahan 2.000 Hektar di Kalsel

NERACA

Bandung – Meskipun harga komoditas diproyeksikan hingga tahun depan masih suram, tidak membuat ekspansi dan produksi CPO PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) bakal melorot. Sebaliknya, persreoan berencana mengakuisisi sejumlah lahan karet di Kalimantan Selatan (Kalsel) dengan luas lahan sebesar 2.000 hektare (ha).

Direktur AALI Santosa mengatakan, aksi korporasi yang dilakukan perseroan mengakuisisi lahan di Kalimantan dilakukan untuk meningkatkan produksi, “Kesepakatan tersebut menunggu proses pembebasan lahan, karena itu memakan biaya yang besar, karena berkaitan dengan pembebasan lahan dengan warga, sehingga nantinya diharapkan tidak akan ada konflik, ganti ruginya yang kita perhitungkan," katanya Bandung akhir pekan kemarin.

Akuisisi tersebut guna mendukung strategi perusahaan merambah bisnis karet. Namun sayang, dia enggan menyebutkan nilai investasi yang akan dikeluarkan perseroan untuk merambah bisnis baru tersebut, “Belum dapat ditentukan karena masih dalam proses pembebasan lahan dan dalam proses perhitungan baik lahan maupun bibit yang akan digunakan," jelasnya.

Sebagai informasi, perseroan mencatatkan laba yang dapat didistribusikan kepada pemilik perusahaan sebesar Rp1,67 triliun pada akhir kuartal III-2012. Laba itu turun 10,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,86 triliun.

Kenaikan beban pokok pendapatan menjadi Rp5,5 triliun dari sebelumnya Rp4,9 triliun menggerus laba bruto. Di mana laba bruto turun menjadi Rp3,02 triliun dari sebelumnya Rp3,03 triliun.

Lalu tingginya beban penjualan sebesar Rp386,3 miliar dari sebelumnya Rp316,4 triliun membuat kinerja keuangan perseroan makin terpuruk. Alhasil, laba sebelum pajak perseroan turun menjadi Rp2,4 triliun dari sebelumnya Rp2,6 triliun.

Selain itu, perseroan juga mengungkapkan realisasi belanja modal atau capital expenditure (capex) per September sudah mencapai Rp1,9 triliun dari jumlah belanja modal tahun ini sebesar US$250 juta.

Penggunaan belanja modal tersebut digunakan untuk perawatan tanaman sawit dan tanaman baru sawit sebanyak 35 sampai 38 hektare (ha), “Penggunaan belanja modal paling besar digunakan untuk perawatan dan menanam tanaman baru yang belum dapat menghasilkan ini memerlukan biaya yang besar,"ujar Santosa.

Sedangkan untuk tahun depan, AALI menganggarkan belanja modal sebesar US$ 275 juta sampai US$ 300 juta. Belanja modal tersebut berasal kas dan pinjaman bank bilateral.

Namun demikian, Santosa belum dapat memastikan besarannya karena belum disetujui oleh pemegang saham. Namun, dana tersebut digunakan untuk dividen dan sisanya belanja modal."Belanja modal dari pinjaman bilateral, ada beberapa bank asing. Namun untuk besarannya belum dapat dipastikan karena kita lihat juga kan ada penambahan upah tenaga kerja,"jelasnya. (iwan)

BERITA TERKAIT

DEWA Catatkan Overburden Tumbuh 26,24%

NERACA Jakarta – Sampai dengan Februari 2020, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) membukukan peningkatan volume pengupasan tanah (overburden removal/OB) sebesar…

Ancaman Virus Corona - Bisnis Cokelat Wahana Interfood Masih “Manis”

NERACA Jakarta -Meluasnya penyebaran pendemi virus corona memberikan dampak terhadap aspek perekonomian dan termasuk bisnis PT Wahana Interfood Nusantara Tbk.…

Nara Hotel Batalkan Pelaksanaan IPO

NERACA Jakarta – Setelah tertunda penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) PT Nara Hotel Internasional Tbk karena…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Bidik Dana IPO Rp 150 Miliar - Bumi Benowo Tambah Land Bank di Gresik

NERACA Jakarta – Di tengah kondisi pasar saham yang lesu, minat perusahaan untuk mencatatkan saham perdananya di pasar modal masih…

Penjualan Alat Berat UNTR Masih Terkoreksi

NERACA Jakarta – Penjualan alat berat PT United Tractors Tbk (UNTR) di awal tahun ini masih terkoreksi seiring dengan lesunya…

Berkat Stimulus Negara Maju - IHSG Masih Bertahan di Zona Hijau

NERACA Jakarta – Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Kamis (26/3) kembali unjuk gigi…