Penguatan IHSG Tahun Depan Perlu Diantisipasi - Indeks Akhir Tahun Tembus 4.500

NERACA

Jakarta- Ekspektasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang diproyeksikan dapat mencapai level 4.000-4.500 di akhir tahun 2012 dinilai dapat membawa IHSG untuk menembus level 5.000 di tahun depan. Meskipun demikian, penguatan tersebut perlu diantisipasi mengingat ada beberapa sektor yang berpotensi terkoreksi.

CEO Remax Capital, Lucky Bayu Purnomo mengatakan, hingga Desember 2012 penutupan harian IHSG tertinggi mencapai level 4.378 sehingga berpeluang mengalami penutupan 4.400 di akhir tahun dan berlanjut ke level 4.500 pada Januari 2013. Sementara, jika tidak mencapai level tersebut, diperkirakan hanya akan mencapai batas minimalnya, yaitu pada kisaran 4.225-4.230.

Dari sisi teknikal, lanjut Lucky, peningkatan IHSG yang diprediksi akan mengalami penguatan di tahun depan, memungkinkan berpeluang terjadinya koreksi bagi beberapa sektor yang saat ini mengalami penguatan (rebound) sehingga perlu diantisipasi, seperti infrastruktur dan properti. “Untuk sektor infrastruktur tetap akan up trend, tapi perlu diansipasi karena penjualan sudah terjadi sejak Oktober dan menunjukkan sell lebih banyak dari buyer.” jelasnya di Jakarta akhir pekan kemarin.

Sementara untuk sektor properti, menurut dia, berpotensi mengalami koreksi 11% dengan melihat beberapa emiten yang menunjukkan volume perdagangan yang mulai menyempit dan harga yang sudah terlalu tinggi.

Lucky mengatakan, selain kedua sektor tersebut, sektor yang masih mungkin mengalami penguatan secara positif, yaitu sektor manufaktur dikarenakan volume jual dan beli yang terjadi pada sektor ini cukup tinggi. Adapun untuk emiten berbasis agribisnis, sejauh ini masih layak dikoleksi, namun dengan prinsip kehati-hatian karena minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sebagai underlying-nya mengalami penurunan.

Proyeksi pertumbuhan IHSG juga diamini oleh Sekretaris Jenderal Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI), Pardomuan Sihombing. Dia mengatakan, IHSG diperkirakan dapat mencapai level 4.500. Bahkan dia memproyeksikan, secara fundamental, pertumbuhan IHSG tahun depan dapat menembus di kisaran 5.000-5.500.

Sentimen Global

Hal tersebut didasarkan dengan adanya beberapa kebijakan yang dilakukan oleh beberapa negara, seperti kebijakan moneter berupa penurunan tingkat suku bunga, quantitative easing (QE) serta kondisi makro ekonomi Indonesia yang diperkirakan berada pada kisaran 6,5%.“Pada bulan Desember efek memberikan return yang baik, yaitu 4,6% dibandingkan bulan lainnya yang hanya sekitar 2,6% sehingga dimungkinkan untuk closing di level 4.500 dari saat ini yang sudah mencapai di kisaran 4.300.” jelasnya.

Pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan 6,5%, dengan BI Rate yang diperkirakan akan flat di level 5,75%, serta inflasi sekitar 5% pada 2013 lanjut pardomuan, akan mendorong kinerja emiten mengalami pertumbuhan sekitar 20%. Karena secara year to date, pertumbuhan kinerja emiten rata-rata bisa mencapai 18%.

Pardomuan mengatakan, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia sempat terkoreksi menjadi 6,1% akibat anjloknya nilai ekspor dan tingginya impor, namun jika pemerintah dapat menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia dan menekan inflasi serta merealisasikan pembangunan infrastruktur tentu akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan investasi melalui pasar modal di Indonesia.“Secara empiris dalam 23 tahun terakhir IHSG naik rata-rata 19,6% dan pertumbuhan ekonomi Indonesia terjaga di kisaran 6% dalam 10 tahun terakhir. Bagaimana jika infrastruktur sudah dibangun tentu bisa lebih dari itu,” ucapnya.

Potensi peningkatan kinerja bursa saham, menurut Pardomuan ditopang adanya beberapa sektor industri yang masih memiliki prospek positif sampai dengan tahun depan, antara lain perbankan, infrastruktur, properti, perdagangan, dan industri dasar.

Pardomuan menambahkan, meski kondisi makro ekonomi Indonesia akan mendukung pertumbuhan IHSG pada 2013, pelaku pasar juga harus memperhatikan tantangan yang harus dihadapi pada tahun depan.

Pertama, masalah utang Eropa yang belum selesai dan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat kembali naik. Dia menilai, jika permasalahan tersebut berdampak kepada market di Indonesia maka potensi pertumbuhan emiten bisa terdiskon sebesar 5% menjadi 15% atau bahkan lebih. (lia)

BERITA TERKAIT

2019, Kemenkop Targetkan Bantu 2.500 Wirausaha Pemula

2019, Kemenkop Targetkan Bantu 2.500 Wirausaha Pemula NERACA Jakarta - Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Yuana Sutyowati menegaskan…

Gelar National Campaign Reksa Dana - APRDI Targetkan 500 Ribu Investor Baru

NERACA Jakarta- Pacu pertumbuhan investor reksadana lebih besar lagi, Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi (APRDI) bersama Asosiasi Bank Agen…

Sentimen Positif Global - Laju IHSG Masih Bertahan di Zona Hijau

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (22/1) berhasil ditutup menguat 0,27% atau 17,73 poin di…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Garap Proyek Berkonsep TOD - WIKA Realty Bidik Penjualan Rp 3,1 Triliun

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Wijaya Karya Realty (WIKA Realty) sebagai anak usaha PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA)…

Astra Beri Pinjaman Anak Usaha Rp 80,27 Miliar

Dukung pengembangan bisnis anak usaha, PT Astra International Tbk (ASII) memberikan pinjaman kepada PT Pelabuhan Penajam Banua Taka, anak usaha…

XL Rencanakan Rilis Obligasi Rp 2 Triliun

NERACA Jakarta – Danai ekspansi bisnisnya, PT XL Axiata Tbk (EXCL) berencana menerbitkan obligasi berkelanjutan I XL Axiata tahap I…