Industri Otomotif Diperkirakan Stagnan di 2013 - Terbelit Sejumlah Masalah

NERACA

Bandung – Pertumbuhan industri otomotif diperkirakan bakal stagnan di 2013. Pasalnya pada tahun depan, indutri otomotif akan banyak menemukan masalah antara lain krisis ekonomi yang melanda kawasan Eropa dan Amerika Serikat (AS), kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL), Kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP), Berlakunya kebijakan Down Payment (DP), rencana naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan harga komoditi yang cenderung fluktuatif.

“Dengan banyaknya kendala-kendala antara lain masalah krisis yang tak kunjung usai, permasalahan ketenagakerjaan, harga komoditas yang fluktuatif, aturan DP yang bisa menurunkan penjualan serta potensi kenaikan harga BBM. Semua itu bisa mempengaruhi tingkat pertumbuhan industri otomotif,” ungkap Executive Vice President Director PT Astra Honda Motor (AHM) Johannes Loman dalam Workshop Wartawan Industri dan Otomotif di Bandung, akhir pekan lalu.

Tak sekedar mengancam, tetapi menurut dia, keputusan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menaikkan Upah Minimum Provinsi (UMP) menjadi Rp2.200.000 juga bisa berpotensi menaikkan harga sepeda motor. "Untuk menghadapi kenaikan UMP, kami akan meningkatkan produktivitas dan juga penurunan biaya produksi, namun apabila tidak bisa, ada penyesuaian harga sepeda motor," kata Johannes. Ia mengakui bahwa tantangan ini tak mudah untuk dilewati akan tetapi perlu segera diatasi.

Menurut dia, besaran UMP yang telah ditetapkan memang memiliki dampak yang sangat besar terhadap pabrikan, namun menurutnya, kenaikan UMP ini tidak terkait dengan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). “UMP tidak akan terkait dengan PHK. Kita tidak akan melakukan PHK, tetapi kita juga berharap pasar otomotif segera meningkat sehingga keputusan PHK tidak akan kita lakukan,” ucapnya.

Terkait dengan aturan DP yang nantinya mulai berlaku untuk Syariah, menurut dia, Sampai kini tercatat 75% dari total penjualan kredit memanfaatkan lembaga pembiayaan atau perbankan syariah. "Target pasar tahun ini diprediksi 7 - 7,05 juta unit dan tahun depan sepertinya tetap flat (tetap). Tapi dengan kenaikan DP syariah April 2013, akan turun lagi cuma seberapa besar masih dihitung," beber Loman.

PT Astra Honda Motor hingga Oktober 2012 baru menjual 70% kendaraan roda dua mereka dari target 2012 yang mencapai 7 juta unit. Melihat kondisi saat ini, terutama pada kuartal IV, AHM masih memperkirakan target produksi tahun depan tidak bergerak jauh. "Ini diperberat dengan isu ketenagakerjaan, di mana biaya produksi meningkat. Kami berharap daya beli masyarakat juga meningkat, sehingga penjualan bisa stabil," ujarnya.

Sulit Diprediksi

Di tempat yang sama, Vice President PT Isuzu Astra Motor Indonesia, Yohannes Nangoi, mengatakan, kondisi pasar saat ini memang sulit untuk diprediksi. Mereka belum bisa menentukan target tahun depan. Target pasar mereka akan diubah pada kendaraan jenis truk. Karena pasar kelas ini mempunyai peluang yang besar dan belum banyak tersentuh. "Isuzu mampu masuk pasar ini," katanya.

Dari target penjualan 1,1 juta unit, hingga Oktober 2012 sudah terealisasi 923.132 unit. Dari hasil penjualan ini, permintaan truk dipastikan ada kenaikan hingga 15%. "Ini salah satu indikator Isuzu bergeser ke produksi truk," katanya.

Namun demikian, Yohannes tidak berani menargetkan jumlah produksi tahun depan, seiring dampak krisis global, melemahnya harga komoditas, isu bahan bakar, dan kenaikan upah minimum. "Ini menaikkan ongkos produksi. Kami berharap pada kuartal kedua tahun depan ada perbaikan. Kami masih menargetkan produksi dan penjualan yang sama seperti tahun ini," katanya.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto menilai pertumbuhan industri pada 2013 akan semakin berat karena penurunan harga komoditas, efek krisis ekonomi yang melanda kawasan Eropa dan Amerika Serikat (AS) serta kenaikan upah minimum provinsi (UMP).

“Turunnya harga komoditas serta kondisi ekonomi yang belum stabil membuat permintaan ekspor seperti crude palm oil (CPO) semakin menurun pada tahun depan. Selain itu, kenaikan UMP membuat biaya produksi semakin besar dan kondisi di pasar internasional akan menurun,” katanya.

Selain krisis global yang melanda Eropa dan Amerika Serikat, menurut Prijanto, naiknya harga BBM dan bakal diberlakukannya aturan mengenai Kredit Syariah pembelian kendaraan bermotor pada 1 April 2013 menjadi hambatan bagi sektor industri.

“Pada 2013, memasuki kondisi yang tidak mudah karena banyaknya kendala di sektor industri. Strategi antisipasi bergantung pada setiap lini usaha dan kami melihat masih bisa menaikkan produktivitas dan meningkatkan efisiensi,” paparnya.

Pada kesempatan itu, Prijono mengungkapkan optimismenya perseroan masih bisa menutup tahun 2012 dengan prestasi sesuai proyeksi dan target. Sepanjang periode Januari sampai dengan September 2012, perseroan masih bisa mencatat pertumbuhan laba yang fantastis.

“Saat ini, 50% bisnis Astra bergerak di bidang otomotif. Sekitar 14-15% bisnis Astra bergerak di bidang jasa keuangan yang juga berhubungan dengan otomotif dan bisnis Astra bergantung pada bisnis otomotif,” ujarnya.

Prijono menambahkan, ke depannya, selain memperkuat bisnis otomotif, perusahaan juga fokus melakukan antisipasi di lini-lini bisnis yang lain. “Dengan antisipasi yang baik, kami yakin hambatan di sektor industri bisa ditekan seminim mungkin,” katanya.

BERITA TERKAIT

Kemenperin Ukur Ratusan Industri untuk Siap Masuki Era 4.0

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus memacu kesiapan sektor manufaktur nasional dalam memasuki era industri 4.0. Berdasarkan peta jalan Making…

Penggunaan Teknologi di Era Industri 4.0 Dongkrak Produktivitas IKM

NERACA Bogor - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan penggunaan teknologi era revolusi industri 4.0 akan mampu mendongkrak produktivitas industri manufaktur…

KTP Belum Bisa Jawab Semua Masalah Publik

  Oleh : Sugeng Hermansyah, Pemerhati Masalah Sosial Politik Dalam debat putaran ketiga yang mempertemukan kedua cawapres, KH Ma’ruf Amin…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Kemenperin Ukur Ratusan Industri untuk Siap Masuki Era 4.0

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus memacu kesiapan sektor manufaktur nasional dalam memasuki era industri 4.0. Berdasarkan peta jalan Making…

Dunia Usaha Dimintai Dukungan Hadapi Diskriminasi Sawit UE

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia menggandeng dunia usaha asal Uni Eropa untuk ikut membantu proses negosiasi dan diplomasi kepada UE…

Dunia Usaha - Perang Dagang AS-China Disebut Beri Peluang Bagi Manufaktur RI

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian tengah fokus menggenjot investasi di lima sektor yang menjadi prioritas dalam Making Indonesia 4.0, yaitu…