Masa Depan Bank Kecil

Di tengah tantangan perbankan lokal menghadapi ASEAN Economic Community (AEC) 2015, persoalan efisiensi menjadi titik krusial. Sepintas tingginya spread antara suku bunga kredit dan BI Rate memang menjadi salah satu alasan rendahnya efisiensi perbankan. Namun selain spread, sumber utama inefisiensi perbankan adalah tingginya rasio biaya operasional dibanding dengan pendapatan operasional (BOPO) yang mencapai 75%-90%.

Tingkat suku bunga kredit yang tinggi saat ini rata-rata di atas 12% diduga oleh sejumlah pihak termasuk Bank Indonesia (BI) sebagai efek dari tingginya suku bunga deposito (deposit rate). Karena perbankan nasional belakangan ini tengah menghadapi trade off antara upaya menghimpun dana masyarakat secara “kecil-kecilan” atau menghimpun dana dari big player.

Kita menyadari bahwa menghimpun dana dari big player umumnya lebih hemat waktu dan risiko ketimbang mengumpulkan dari masyarakat biasa. Namun yang menjadi cost-nya adalah adanya bargaining power yang besar yang dimiliki oleh big player untuk menentukan deposit rate bank. Kewenangan inilah yang hingga saat ini menjadi problem mendasar perbankan karena mau tidak mau tingkat bunga kredit yang mereka tawarkan pun harus dinaikkan untuk mendapatkan net interest margin (NIM) yang besar pula.

Jelas dari gambaran tersebut, perbankan nasional saat ini dinilai tidak efisien. Mengapa? Menurut Gubernur BI Darmin Nasution, tingginya suku bunga pinjaman (credit rate) paling tidak mencerminkan daya dorong perbankan untuk menekan tingkat bunga kredit masih rendah. Bank juga belum efisien menggunakan sumber yang ada. Bahkan Menko Perekonomian Hatta Radjasa menambahkan, perbankan masih menikmati keuntungan yang terlalu besar dari spread yang tinggi antara bunga kredit dan BI Rate.

Terkait dengan upaya penguatan persiapan daya saing menuju Asean Economic Community (AEC) pada 2015, pemerintah hingga saat ini masih mencari dan mencoba berbagai cara untuk meningkatkan efisiensi perbankan. Keluarnya sejumlah peraturan baru BI pekan ini sama sekali belum mencerminkan langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi perbankan.

Patut diketahui, tingkat bunga kredit dan net interest margin (NIM) perbankan di Indonesia merupakan rate tertinggi di ASEAN. Bla dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand maka deposit rate perbankan nasional jauh lebih tinggi. Padahal kondisi perekonomian negara kita mirip dengan Filipina, namun suku bunga negara tetangga itu tidak setinggi suku bunga di negeri ini.

Contoh efisiensi perbankan yang dilakukan oleh BFA/Bankia, bank terbesar keempat di Spanyol yang bakal menutup seribu cabangnya terkait rencana restrukturisasi, patut jadi pelajaran. BFA/Bankia yang didirikan pada 2010 merupakan hasil merger antara Bank Caja Madrid dengan lima bank lebih kecil.

Secara internal pula, restrukturisasi itu bakal menyusutkan jumlah karyawan Bankia dari 20.588 orang menjadi 14.500 karyawan. "Ini adalah cara paling baik demi menjamin kelangsungan hidup Bankia," ujar CEO Bankia Ignacio Goirigolzarri.

Jadi, BI sebaiknya mendorong bank-bank kecil yang rata-rata modalnya di bawah Rp 1 triliun untuk segera melakukan restrukturisasi kepemilikan melalui konsolidasi/merger yang bertujuan meningkatkan efisiensi dalam jangka pendek. Karena tujuan restrukturisasi perbankan pada awalnya adalah menekan cost of fund, menurunkan suku bunga kredit, dan penerapan kebijakan lisensi berjenjang ke depan. Ini untuk menyelamatkan bank kecil dari praktik hostile take over yang jadi modus bank besar.

BERITA TERKAIT

Pengembangan Industri Kecil Dorong Produktivitas Nasional

NERACA Jakarta – Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita memberikan pujian kepada pelaku IKM tenun di Provinsi Riau. Dia senang terhadap…

Bank Muamalat Kerjasama Remitansi dengan Al Rajhi Bank Malaysia

      NERACA   Jakarta - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk bersama Al Rajhi Bank Malaysia menandatangani perjanjian kerjasama…

Ibu Siti, Nasabah Bank Wakaf Mikro, Jahit Baju Untuk Jokowi

Ibu Siti, Nasabah Bank Wakaf Mikro, Jahit Baju Untuk Jokowi NERACA Jombang - Sudah banyak masyarakat yang gembira memanfaatkan dukungan…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Ancaman Defisit Serius?

Kondisi ekonomi negara salah satunya tercermin dari  indikator neraca perdagangan dalam periode tertentu, apakah surplus atau defisit. Nah, jika melihat…

Stabilitas Rupiah vs Pertumbuhan

Di tengah tantangan ekonomi global yang tak menentu belakangan, persoalan target pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas mata rupiah selalu menjadi…

BUMN Jadi Alat Politik?

Sudah menjadi rahasia umum BUMN kerap jadi pembicaraan banyak pihak terkait sumber dana menjelang Pemilu dan Pilpres. Namun yang harus…