Pembatasan Waralaba Ancam Bisnis Fast Food

Pengelolaan waralaba dengan sub francise yang diskemakan pemerintah melalui Peraturan Menteri Perdagangan tentang pembatasan waralaba untuk toko modern disayangkan pelaku usaha makanan cepat saji (fast food) Indonesia. Pasalnya, hal tersebut tidak hanya memberatkan dari sisi administrasi, namun juga pengelolaan yang harus dilakukan perusahaan, “Investasi dengan sub franchise itu diperkirakan mencapai Rp10 miliar. Padahal pembangunan outlet atau gerai di mall dengan luas 250,2 sekitar Rp4 miliar dan free standing sekitar Rp8 miliar,”kata Direktur PT Fast Food Indonesia Justinus D.Juwono, di Jakarta, Kamis (29/11).

Justinus mengatakan, pemegang lisensi waralaba KFC ini mengusulkan agar walaraba itu tidak dibatasi karena tidak hanya memberatkan perseroan dari sisi administrasi, namun juga cara pengelolaannya. Pengelolaan waralaba tersebut, kata dia, diharapkan dikelola dengan bentuk kerja sama seperti distribusi dan supplier.

Menurut Justinus, pihaknya masih membicarakan mengenai ketentuan pembatasan waralaba tersebut dengan Pemerintah, dan akan kembali melakukan pertemuan untuk diskusi pembatasan waralaba dengan pemerintah pada 10 Desember 2012.

Hingga kuartal ketiga 2012, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp139,75 miliar atau Rp 304 per saham. Angka tersebut menunjukkan penurunan 20,34% apabila dibandingkan dengan laba bersih pada periode yang sama di tahun lalu sebesar Rp175,44 miliar atau Rp 381 persaham.

Sementara pendapatan perseroan mengalami kenaikan dari Rp 2,33 triliun pada kuartal ketiga tahun lalu menjadi Rp 2,61 triliun di tahun ini. Terjadinya penurunan pada laba bersih tersebut disebabkan meningkatnya beban pokok perseroan dari Rp1,38 triliun menjadi Rp 1,52 triliun.

Sebelumnya Justinus mengatakan, pertumbuhan kinerja perseroan akan didorong pembukaan beberapa restoran baru pada tiga bulan pertama tahun 2012, “Pembukaan beberapa gerai mendongkrak penjualan tahun ini lebih agresif,” katanya.

Asal tahu saja, di tahun ini perseroan menganggarkan belanja modal sebesar Rp 300 miliar. Rencananya, belanja modal akan digunakan untuk pembukaan gerai baru, renovasi toko dan juga pergantian mesin. Sebagian besar dana perseroan, lanjut dia akan lebih banyak untuk menambah gerai baru dan hal ini sejalan dengan rencana bisnis perseroan yang menargetkan pendapatan Rp 3,78 triliun di tahun depan atau mengalami peningkatan sebesar 15% dari akhir 2011, yang diperkirakan mencapai Rp 3,34 triliun. (lia)

BERITA TERKAIT

Pembatasan Kantong Plastik Dinilai Bukan Solusi Atasi Sampah

      NERACA   Jakarta - Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyambut baik langkah pemerintah derah…

Etawa Agro Prima Perluas Bisnis Lewat UlaMM PNM

Etawa Agro Prima Perluas Bisnis Lewat UlaMM PNM NERACA Yogyakarta - Pengelola Etawa Agro Prima, Poniman di Kemirikebo Girikerto Turi…

Panorama Optimalkan Bisnis Industri MICE - Kejar Pertumbuhan Bisnis 20%

NERACA Jakarta – Di paruh kedua tahun ini, PT Panorama Sentrawisata Tbk (PANR) begitu optimis bisa mengejar pertumbuhan 20% hingga…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Hasnur Group Bina Juara Dunia Karate

NERACA Jakarta - Keinginan Fauzan, karateka asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan yang belum lama ini berhasil memenangi Kejuaraan Dunia Karate Tradisional…

BNI Terbitkan MTN Subordinasi Rp 100 Miliar

NERACA Jakarta - Perkuat likuiditas dalam rangka rangka mendanai ekspansi bisnis, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) pada tanggal 10…

ADHI Kantungi Kontrak Baru Rp 7,45 Triliun

NERACA Jakarta — Sampai dengan Juli 2018, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mengantongi kontrak baru Rp7,45 triliun dengan kontribusi…