Citilink Perkuat Brand Image di Sektor Domestik - Berebut Pasar Low Cost Carrier

NERACA

Jakarta – Jelang tutup tahun dan menyambut tahun baru, nuansa liburan sudah mulai terasa dan membahana. Pasalnya, banyak perusahaan travel banyak menawarkan berbagai promosi perjalanan wisata hingga perusahaan maskapai penerbangan domestik untuk merebut konsumen lebih banyak. Momentum liburan akhir tahun menjadi peluang emas bagi maskapai penerbangan berebut pasar di Indonesia, khususnya maskapai penerbangan domestik. Memanfaatkan momentum liburan akhir tahun, PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) beberapa waktu lalu menggelar event Garuda Travel Fair. Event ini di gelar, disamping mencari konsumen baru juga untuk memberikan informasi dan memudahkan bagi masyarakat yang ingin berlibur. Kata Ketua Forum Transportasi Udara Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Suharto Abdul Majid, arus perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) yang terus meningkat berpengaruh terhadap jumlah penemupang penerbangan domestik. Data Kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif menyebutkan pada tahun lalu jumlah wisnus mencapai 122,31 juta orang yang menghasilkan 234,38 juta perjalanan, “Kondisi penerbangan Indonesia memang anomali. Pada saat pertumbuhan penerbangan global terkoreksi akibat krisis Eropa, tetapi Indonesia tetap tumbuh," katanya. Dia memprediksikan, industri penerbangan nasional terus tumbuh disokong pasar penerbangan domestik seiring dengan perbaikan perekonomian Indonesia. Sepanjang tahun lalu, jumlah penumpang domestik mencapai 40 juta orang atau belum mencapai 10% dari total penduduk Indonesia 238 juta orang. Asumsinya, satu orang penduduk naik pesawat empat kali per tahun sehingga sekitar 7% saja dari total 238 juta penduduk yang naik pesawat. Asal tahu saja, tahun ini jumlah penumpang angkutan udara diyakini bakal menembus 70 juta orang. Hingga kini, realisasi pertumbuhan penumpang udara sudah menembus 13 persen dari realisasi tahun lalu yang mencapai 62 juta penumpang. Pertumbuhan tersebut di atas target pemerintah 10-20%, “Masa peak session akhir tahun ini dapat menggenapi realisasi jumlah penumpang angkutan udara menjadi 70 juta,” kata Dirjen Direktorat Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Herry S Gumay. Melihat potensial pasar tersebut, tidak salah bila banyak maskapai penerbangan asing berebut ekspansi ke Indonesia. Kini industri penerbangan di Indonesia berkembang pesatnya. Hal ini dipengarui tren prilaku masyarakat Indonesia yang mulai memliih pesawat sebagai moda transportasi, karena pesawat bukan lagi moda transportasi yang hanya dapat dinikmati kalangan menengah ke atas saja, tetapi bagi semua kalangan bisa menikmatinya. Disamping itu, meningkatnya daya beli masyarakat dan ditopang pertumbuhan ekonomi yang positif menjadi pemicu meningkatnya jumlah penumpang pesawat di Indonesia tiap tahunnya. Tercatat, pada semester I 2012 terjadi lonjakan penumpang yang cukup besar. Akibatnya, target pertumbuhan penumpang pesawat antara 15%-20% pada 2013 pun dirasa sangat realistis. Genderang Perang Dimulai Sengitnya persaingan industri penerbangan, sangat terasa di bisnis penerbangan berbiaya murah atau Low Cost Carrier (LCC). Pengamat penerbangan Alvin Lie pernah bilang, bisnis penerbangan berbiaya murah di Indonesia telah sejak lama menjadi arena pertempuran dari tiga maskapai besar. Ketiga perusahaan penerbangan itu adalah AirAsia, Lion Air, dan maskapai murah milik Garuda Indonesia, Citilink. Menurutnya, persaingan bisnis maskapai LCC sebetulnya tak sepenuhnya terkait harga tiket murah. "Saya sangat tak setuju dengan ide banting harga. Mereka pasti punya level tertentu, di mana tak bisa lagi menurunkan harga tiket," tuturnya Ke depan, Alvin justru melihat persaingan tiga maskapai LCC di Indonesia justru terletak pada rute dan jadwal penerbangan. Strategi ini bakal menentukan sejauh mana perusahaan mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan maskapai LCC. PT Citilink, anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk yang kini mulai mandiri dan melepaskan diri dari ketergantungan terhadap induk usahanya, telah menyatakan siap bersaing dengan maskapai penerbangan lain di kelas penerbangan murah atau low cost carrier. Citilink yang sudah mengantongi Air Operator Certificate (AOC) atau sertifikat penerbangan AOC 121-O46 dari Kementerian Perhubungan, menyatakan diri bersiap menghadapi maskapai penerbangan yang membidik kelas penerbangan murah. Citilink secara terang-terangan siap melawan AirAsia dan Lion Air atau maskapai penerbangan murah lainnya.

Direktur Utama PT Citilink Indonesia Arif Wibowo mengatakan, guna memenuhi target penumpang tahun ini sebanyak 4,2 juta, pihaknya akan terus mencari pasar lebih luas lagi. Oleh karena itu, perseroan terus membuka rute baru diantaranya membuka delapan rute baru hingga akhir tahun ini. Rute-rute baru ini diharapkan mampu menggenjot jumlah penumpang hingga 4,2 juta dan penjualan Rp 2 triliun, “Untuk menggenjot penjualan, kami membuka delapan rute baru yang disiapkan yakni Batam-Padang, Surabaya-Batam, Jakarta-Makassar, Banjarmasin-Makassar, Balikpapan-Makassar, Denpasar-Bandung, Makassar-Yogya, dan Makassar-Banjarmasin, “katanya.

Bahkan belum lama, Citilink Indonesia telah membuka rute Surabaya-Lombok (PP) dengan frekuensi dua kali sehari. Rute Lombok dipilih karena secara lokasi banyak diminati wisatawan dan didukung infrastruktur bandara yang memadai.

Buka Rute Cantik

Kata Arif, pembukaan delapan rute penerbangan baru tersebut dinilai merupakan kota-kota yang memiliki potensi tinggi. "Dari segi pariwisata, Indonesia kaya akan wisata alam dan kulinernya. Dari sisi bisnis, tren masyarakat melakukan perjalanan dinas ke daerah dengan menggunakan pesawat kian meningkat. Hal inilah yang mendorong Citilink untuk terus menambah rute,"tuturnya.

Menurutnya, pemilihan lokasi rute baru ini lebih difokuskan kepada daerah yang sudah memiliki pangsa pasar perjalanan berbiaya murah. Sehingga, pihaknya tidak perlu lagi berspekulasi pada pasar yang belum digarap. Kelengakapan infrastruktur bandara juga menjadi pertimbangan pemilihan lokasi rute baru.

Selain itu, masih dalam rangka meningkatkan jumlah penumpang dan tiket penjualan, Citilink juga gencar menjalin kerjasama dengan travel agent atau agen perjalanan. Sebanyak 52% penjualan Citilink merupakan kontribusi dari travel agent, sedangkan sisanya 48% bersumber dari call center, internet maupun tiketing Citilink.

Seminggu ini, Arif menambahkan, pihaknya melakukan pertemuan dengan pengusaha travel dan pengurus ASITA daerah. Dia menjelaskan dalam pertemuan tersebut dipaparkan sistem baru yang digunakan Citilink Indonesia, yaitu Passenger Service System (PSS) yang sudah terintegrasi dengan seluruh sistem di Citilink mulai dari rotasi pesawat, pilot dan cabin crew, reservasi hingga finance.

Terobosan lain, secara bertahap Citilink akan menambah armada hingga 21 pesawat sampai akhir 2012 dan mampu melayani 137 frekuensi penerbangan setiap hari. Saat ini, Citilink melayani 78 frekuensi penerbangan setiap hari dengan jumlah total armada 16 pesawat yang beroperasi. (bani)

BERITA TERKAIT

EVALUASI HASIL PEMERIKSAAN BPK

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar (tengah) mengikuti raker dengan Komisi IV DPR di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa…

LPS TURUNKAN SUKU BUNGA PENJAMINAN

Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah (kedua kiri) berbincang dengan Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan (kedua kanan),…

PERESMIAN KANTOR BARU JD.ID

Group Chief Financial Officer GO-JEK Thomas Husted, President International and Vice President JD.com Soon Sze Meng dan President & CEO…

BERITA LAINNYA DI BERITA FOTO

KOLABORASI SINERGIS BLUEBIRD - DANA

Direktur PT Blue Bird Tbk Sigit Djokosoetono (kiri) bersama CEO DANA Vincent Iswara, berfoto usai Grand Launching DANA di My…

Pasar Properti Bergairah, IPEX 2019 Dipadati Pengunjung

Jakarta, Indonesia Properti Expo (IPEX) 2019, telah berlangsung selama 5 hari sejak resmi dibuka pada 16 November 2019 lalu di…

EVALUASI HASIL PEMERIKSAAN BPK

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar (tengah) mengikuti raker dengan Komisi IV DPR di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa…