QNB Kesawan Siap Tambah Modal Inti Jadi Rp1 Triliun - Targetkan Masuk 10 Besar

NERACA

Jakarta - PT Bank QNB Kesawan Tbk menyatakan kesiapannya menambah modal inti menjadi Rp1 triliun di awal 2013. Saat ini modal inti perseroan baru mencapai Rp900 miliar. Artinya, QNB Kesawan berada di kategori Kelompok Kegiatan Usaha 2 (BUKU-2) dengan modal inti Rp1 triliun-Rp5 triliun, berdasarkan aturan Bank Indonesia (BI).

Direktur Keuangan QNB Kesawan, Azhar bin Abdul Wahab menuturkan, pihaknya telah menyusun strategi bisnis di tahun depan, salah satunya menambah modal inti. “Apalagi dengan adanya aturan baru BI tersebut, kami sepakat akan menambah modal inti menjadi Rp1 triliun,” kata Azhar, usai paparan publik Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), di Jakarta, Kamis (23/11).

Azhar lalu memberikan opsi penambahan modal, salah satunya melalui rights issue. Sedangkan, jika menambah modal dengan cara subdebt dengan bank lain, dia mengaku khawatir akan bunganya yang tinggi. Dengan demikian, perseroan masih akan melakukan pembicaraan tripartit antara QNB Kesawan, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) serta BI.

“Kami masih belum memperhitungkan dengan pasti kebutuhan modalnya. Karena peraturannya baru dikeluarkan minggu kemarin. Tapi kami memiliki berbagai opsi, antara lain menambah modal di tier-1 atau tier-2,” imbuhnya. Azhar juga menerangkan kalau modal QNB Kesawan seharusnya berada di kisaran angka Rp1 triliun-Rp5 triliun.

Hal itu agar perseroan tetap bisa melakukan aktivitas bisnis seperti yang sudah dijalani sekarang. “Tapi, ini memang harus disinkronkan dengan (total) aset kita. Modal itu cost of fund-nya besar, bisa sampai 15% dari keseluruhan (aset). Kita mesti hati-hati untuk tambah modal,” terang Azhar.

Lebih lanjut dirinya menyatakan bahwa sebenarnya mereka sudah merancang kebutuhan modal perbankan hingga lima tahun ke depan. Hal itu merupakan komitmen antara manajemen dengan pemegang saham yang bertujuan agar QNB Kesawan masuk peringkat 10 besar bank di Indonesia pada 2017 mendatang.

“Kami sudah membuat rencana suntikan modal untuk tahun-tahun mendatang. Kami optimis kalau modal QNB Kesawan akan mencapai di atas Rp5 triliun,” jelasnya.

Dari sisi permodalan, Azhar menuturkan bahwa rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) per 30 September 2012, menyentuh angka 33,7%. Dengan demikian, CAR QNB Kesawan telah melebihi tingkat minimum CAR menurut BI, yakni sebesar 8%. Ke depan, lanjut Azhar, pihaknya akan menggenjot supaya CAR mencapai 10%-12%.

Porsi turun

Ketika disinggung mengenai aturan lisensi berjenjang (multiple license) yang mewajibkan perbankan menyalurkan 20% dari total portofolio kredit ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Azhar mengungkapkan kalau QNB Kesawan sudah melakukannya. Bahkan, saat ini porsi penyaluran kredit UMKM sudah mencapai 30% dari total penyaluran kredit.

“Kita punya yang namanya kredit mikro. Dan itu sudah termasuk UMKM. Jadi kita tidak ada masalah untuk memenuhi peraturan ini. Ke depan, kita akan fokus ke kredit korporasi, maka porsi (30%) itu akan turun. Karena kita akan menjaga supaya segmen (UMKM) ini bisa tetap jalan, minimal di angka 20%, untuk menyesuaikan aturan Bi. Sisanya (kredit) komersial 70%, yaitu di kredit ritel, misalkan sedikit di kredit tanpa agunan (KTA) atau konsumer,” jelas Azhar.

Secara historis, lanjut dia, QNB Kesawan tidak ‘main’ di sektor ritel, maka pihaknya akan membuka jalur ke arah sana. “Kemudian, kita juga harus punya cost yang kompetitif agar bisa bersaing (dengan bank-bank lain). Untuk tiga tahun ke depan, harusnya kita bisa memperdalam penetrasi pasar,” terangnya.

Terkait kinerja kuartal III 2012, QNB Kesawan berhasil membukukan pertumbuhan kredit Rp3 triliun atau meningkat 64,4%, dari periode sama tahun lalu. Kemudian nonperforming loan (NPL Nett) berhasil diturunkan dari 1,13% di 30 September 2011, menjadi 0,42% di periode sama tahun ini.

Sementara pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) tercatat 38,6%, dari periode 30 September 2011 yang sebesar Rp2,7 triliun, menjadi Rp3,72 triliun pada periode sama tahun ini. Lalu LDR-nya tercatat 80,47%. “Di 2013, target DPK kita adalah Rp12 triliun,” ungkap Azhar. [ria]

BERITA TERKAIT

Indonesia Diyakini Masuk Empat Besar Negara Kuat

NERACA Jakarta –Ditengah kekhawatiran pelaku ekonomi akan nilai tukar rupiah yang terus tertekan terhadap dollar AS, pemerintah selalu meredam hal…

Kadin akan Tambah Fasilitas untuk OSS

      NERACA   Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia akan menambah fasilitas meja bantuan (help desk)…

Sharp Siap Rajai Pasar Pompa Air - Perkenalkan Empat Tipe Baru

NERACA Jakarta– Sesuai komitmen yang terus dijaga PT Sharp Electronics Indonesia untuk menjadi pangsa pasar nomor satu di tanah air,…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bank Belum Penuhi Rasio Kredit UMKM

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat sekitar 20 persen dari total bank umum domestik belum…

LPDB Sederhanakan Persyaratan Pengajuan Pinjaman Dana Bergulir

  NERACA   Tangerang - Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) menyederhanakan kriteria dan…

Pembiayaan BTPN Syariah Tumbuh 19,1%

  NERACA   Jakarta - PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk (BTPN Syariah) hingga akhir Juni 2018 membukukan pembiayaan…