Awal 2013, Stabilitas Harga Komoditas Pertanian Terancam

NERACA

Jakarta - Pakar pertanian dan peternakan dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia, Khudori, meminta pemerintah dan masyarakat mewaspadai instabilitas harga komoditas pertanian yang bakal terjadi awal tahun depan. Hal ini terjadi karena cadangan domestik dalam negeri dinilai tidak cukup memadai. “Dua sampai tiga bulan mendatang adalah puncak masalah,” katanya di Jakarta, Kamis (29/11).

Khudori memperkirakan Indonesia akan kekurangan beras pada periode Januari-Maret 2013 akibat mundurnya masa tanam padi menjadi November-Desember 2012. Stok beras yang seharusnya tersedia pada periode Januari-Maret belum dapat dipanen karena jadwal tanam mundur dari waktu normal.

Musim tanam tahun ini diperkirakan akan mundur sekitar dua bulan dari jadwal biasanya. Hal tersebut disebabkan kemarau yang berkepanjangan, menurut prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, baru akan berakhir dan musim hujan baru tiba pada awal Desember. "Selama musim paceklik ini, cadangan domestik akan banyak terkuras sehingga pemerintah harus perhatikan betul stok pangan dalam negeri,” katanya.

Karena itu, ia sepakat jika pemerintah jauh-jauh hari telah bersiap menambah realisasi impor beras. Kuota impor beras tahun ini yang belum terealisasi diminta segera dihabiskan dan jika perlu ditambah. Sebab, jika Bulog tidak memiliki cadangan yang cukup, bisa ada kekurangan cadangan beras di pasar pada musim paceklik tahun depan atau periode Januari-Maret 2013.

Khudori meminta pemerintah mewaspadai juga kenaikan harga produk pertanian lain yang ikut meroket seiring dengan musim paceklik di awal tahun mendatang. “Semua barang bisa naik harga,” katanya.

Krisis Eropa

Menurut Guru Besar Ilmu Pertanian Universitas Lampung, Bustanul Arifin memaparkan, secara analitis, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini cukup baik di tengah-tengah krisis yang melanda Amerika dan Eropa. Sebagian khawatir, kalau-kalau dampak buruk dari krisis didua benua yang sebelumnya menjadi kiblat ekonomi global itu akan sampai Indonesia.

Mudah-mudahan, kata dia, Indonesia yang pertumbuhan ekonominya ditopang oleh sektor pertanian, kalau toh ada dampak, tidaklah terlalu buruk. Paling-paling akan berdampak pada ekspor hasil pertanian yang semakin sulit ke Amerika & Eropa yang daya beli masyarakatnya semakin menurun itu. Selain itu, pertanian Indonesia dengan masyarakat petaninya yang terbiasa hidup “nrimo ing pandum” mudah-mudahan tidak akan terpengaruh dengan semakin sulitnya eksport itu. Bahkan kadang ditanggapi dengan aneh.

Anehnya, kalau harga hasil pertanian murah, atau disebut “ harga jatuh”, disikapi dengan kalimat “murah sandang - murah pangan” dianggap lebih baik dibanding dengan situasi “larang pangan” atau pangan mahal. Walau dengan murahnya harga panan itu para petaninya rugi dari sisi usahatani. Misalnya saja yang sedang terjadi menjelang berakhirnya tahun ini. Harga kentang petani disentra-sentra produksi “jatuh” dibawah Rp3.000,-/kg. Padahal harga pokok atau “break event point” (BEP)-nya lebih dari Rp3.500,-/kg. Komoditas Bawang merah, BEP-nya Rp4.500,-/kg, tetapi harga ditingkat petani hanya Rp 2.000 – 3.000,-/kg.

Kondisi permisif petani itu mestinya tidak dianggap biasa oleh para wakil rakyat, pejabat publik, tokoh masyarakat, para pelaku pasar bahkan oleh para konsumen. Karena, harga jatuh itu, ada penyebabnya. Salah satunya adalah karena banyaknya produk import masuk, khususnya kentang dan bawang merah yang dijual dengan harga “murah”. Pasar Asean maupun Asean+China memang sudah dibuka. Tetapi itu sebaiknya menjadi tantangan sekaligus menjadi peluang bagi para pihak yang mengusahakan produk (pertanian) mulai dari hulu hingga hilir, serta para pihak yang mengawal program pengembangan komoditas pertanian dinegri yang subur ini.

Di lain pihak, situasi kalah bersaingnya produk-produk seperti kentang & bawang merah kita dengan produk import itu, harus juga menjadi bahan renungan bagi para petani. Kalahnya produk petani dengan produk import dipasaran, mungkin ada beberapa faktor diproses produksi yang harus dibenahi, khususnya yang menyangkut pemborosan biaya produksi. Sementara itu bagi pemerintah, mungkin perlu ada pengaturan yang lebih bepihak pada petani dengan produknya yang bersifat musiman itu. Sementara itu, untuk produk-produk “sensitive market” seperti cabe, gula, daging sapi dan telur perlu kebijakan yang sama dan kesigapan petani menghadapi pasar.

Dalam pengusahaan beras dan palawija, kita perlu introspeksi serius. Jumlah penduduk yang semakin besar, dengan kebutuhan beras yang semakin meningkat, “memaksa” kita harus meningkatkan produksi minimal 8 % untuk tahun mendatang. Kegagalan peningkatan produksi beras itu dapat menyebabkan meningkatnya import beras yang banyak ditentang oleh banyak pihak itu. Namun, proses budidaya padi ditahun ini banyak terganggu oleh beberapa hal, terutama hama dan kondisi irigasi. Hama wereng batang coklat (WBC) dan penyakit “blast” pada padi menjadi hambatan utama dimusim tanam lalu.

Sementara untuk pengembangan komoditas lain seperti jagung, perlu pembenahan tentang jenis yang tahan penyakit “bule”. Pengembangan buah-buahan seperti jeruk, klengkeng, pisang, melon, semangka yang mulai gencar “diserang” pula produk import, perlu perbaikan diproses produksinya sehingga produk lokal tidak hilang dari pasaran. Kemudian untuk komoditas lokal spesifik yang saat ini mulai diminati konsumen luar negri seperti salak Nglumut, Manggis, ubijalar perlu ditingkatkan produksi dan mutunya, difasilitasi petaninya dan dimudahkan prosedur eksportnya.

Hal lain yang sangat penting dari semua usaha pertanian yang perlu dibenahi didalam negri adalah pembuatan “peta produksi” yang disinkronisasikan dengan “peta konsumsi”. Hampir semua sentra produksi yang para petaninya ”dibina” untuk meningkatkan produksi selalu “gagal” karena penanganan pemasaran yang tidak terstruktur. Untuk itu ditahun 2012 nanti perlu dibangun kekuatan subsistem pemasaran ditingkat petani.

BERITA TERKAIT

Awal Pekan Ini, BEI Suspensi Saham Renuka

NERACA Jakarta - Setelah masuk pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) lantaran terjadi kenaikan harga saham di luar kewajaran, awal…

Strategi Antisipasi Penurunan Harga Sawit

Sekretaris Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kalimantan Barat, Idwar Hanis mengatakan bahwa anjloknya harga sawit harus segara diatasi…

Aplikasi Terintegrasi PLB Diberlakukan Awal Tahun Depan

  NERACA   Jakarta - Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan akan mulai memberlakukan secara penuh penggunaan sistem aplikasi Pemasukan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Hingga Akhir Tahun 2018, Udang Masih Jadi Primadona Ekspor Sektor Perikanan

  NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat hingga akhir tahun ekspor hasil perikanan jelang akhir tahun 2018…

Penilaian Menteri - Perang Dagang Seharusnya Bisa Tingkatkan Produksi dan Ekspor

NERACA Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan, fenomena perang dagang antara Amerika Serikat dan China seharusnya bisa…

Ekspor Melalui Kuala Tanjung Ditargetkan Capai 1.000 TEUS

NERACA Jakarta – Ekspor langsung melalui Pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, ditargetkan bisa mencapai hingga 1.000 TEUs saat dioperasikan pada…