Genjot Penjualan, BUMI Janjikan Utang Bakal Terlunasi

NERACA

Jakarta- PT Bumi Recources Tbk (BUMI) menyatakan dapat mengurangi beban utang perseroan di 2014 dengan menggenjot volume produksi dan penjualan batu bara di tahun depan. “Target produksi batu bara perseroan sekitar 85 juta metrik ton di tahun 2013, dan diperkirakan dapat melakukan peningkatan penjualan sebesar 10% dengan melihat pencapaian tahun ini,”kata Direktur PT Bumi Resources Tbk Dileep Srivastava, di Jakarta, Rabu (28/11).

Dileep mengatakan, produksi batu bara pada tahun 2012 diperkirakan mencapai 73-75 juta MT dari dua perusahaan besar batu bara yang dimiliki yaitu KPC dan Arutmin. Karena itu, pihaknya optimistis pada 2014 perseoran dapat memproduksi sekitar 104 juta metrik ton pada 2014.

Selain meningkatkan volume produksi dan penjualan, kata Dileep, perseroan memiliki aset lain seperti Fajar Bumi Sakti, Pendopo dan aset non inti lainnya yang dapat dijual kepada pihak lain. Dengan penjualan aset noninti tersebut, pihaknya berharap dapat mengurangi total utang perseroan sehingga mencapai ebitda 1 kali pada 2014.

Lebih lanjut Dileep mengatakan, sejauh ini perseroan juga akan melakukan efisiensi untuk mengurangi biaya produksi dan menguatkan kas internal dengan meningkatkan kinerja perseroan. Hal tersebut dengan harapan pasar batu bara ke depannya dapat mengalami perbaikan.

Dileep menambahkan, selain beberapa strategi tersebut, pihaknya berencana untuk menerbitkan convertible bonds sekitar US$ 1,2 juta pada kuartal keempat 2013. Untuk saat ini, kata dia, pihaknya akan memprioritaskan untuk melunasi utang kepada pihak CIC sekitar US$ 379 miliar. “Diperkirakan pada 2014 dapat dilunasi, tapi jika memungkinkan akan lebih baik dilakukan lebih awal.” ujarnya.

Sulit Tercover

Analis dari Trust Securities, Reza Priyambada sebelumnya mengatakan, secara hitungan kertas, jumlah utang yang saat ini dimiliki oleh BUMI tidak setara dengan jumlah aset yang dimiliki perseroan. Beberapa analis pun menilai, kata dia, dengan jumlah utang grup saat ini, secara operasional bukan tidak mungkin perusahaan diperkirakan akan mengalami kebangkrutan.

Meskipun demikian, Reza menilai pihak BUMI tentu akan mengupayakan berbagai cara untuk mengurangi jumlah utangnya dengan melakukan berbagai cara. “Opsinya, bisa dengan menggandeng pihak lain atau mengubah utang tersebut menjadi ekuitas.” ujarnya.

Menurut Reza, penting bagi perseroan untuk fokus terhadap strukturisasi utang dan strategi bisnis ke depan sehingga tidak menjadi ajang spekulasi dan menimbulkan sentimen negatif bagi pelaku pasar. Karena itu, dia menilai, pelaku pasar sebaiknya wait and see terhadap saham tersebut sampai ada pemberitaan positif, baik mengenai restrukturisasi utang maupun tukar guling saham yang direncanakan perseroan.

Pengamat pasar modal, Satrio Hutomo mengatakan, dana yang diambil oleh pihak BUMI sebagai pendapatan untuk pelunasan utang perseroan misalnya, sebaiknya diperoleh dari capital gain, bukan terbatas pada penjualan aset-aset perseroan.

Sementara untuk perkembangan sektor tambang atau batu bara, kata dia, kemungkinan untuk terjadinya penguatan di tahun 2013 masih sangat tipis, terlebih di akhir tahun ini. “Performanya tidak akan jauh berbeda, belum akan mengalami peningkatan di tahun depan.” ujarnya.

Saat ini, lanjut Satrio, pergerakan saham di sektor ini masih sangat sulit untuk naik sehingga sebaiknya pelaku pasar masih harus menunggu sampai kondisinya pulih. “Hanya tepat untuk membeli tambangnya secara riil memang bagus karena harga yang dalam posisi rendah, tapi kalau untuk ke sahamnya sebaiknya jangan dulu.” jelasnya. (lia)

BERITA TERKAIT

Urban Jakarta Bidik Penjualan Rp 240 Miliar - Harga IPO Rp 1000-1250 Per Saham

NERACA Jakarta – Tren pengembangan proyek properti berbasis transit oriented development (TOD) cukup menjanjikan kedepannya, apalagi pembangunan LRT yang digarap…

Pasar Mobil Premium RI Diyakini Bakal Berkembang

BMW Group Indonesia merasa optimistis pasar mobil kelas premium akan terus berkembang di Tanah Air. Ada berbagai faktor yang melatarbelakangi…

Nilai PDB vs Utang Luar Negeri

Oleh:Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Konstruksi dari setiap rencana pembangunan ekonomi secara umum diniatkan untuk mengurangi ketergantungan dari…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perdagangan Saham DIGI Disuspensi

Lantaran terjadi peningkatan harga saham yang signifikan, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara atau suspensi perdagangan saham PT…

BEI Dorong Perusahaan di DIY Go Public

Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Daerah Istimewa Yogyakarta mendorong perusahaan di daerah itu baik milik swasta maupun badan usaha…

MAYA Bagi Dividen Interim Rp 223,19 Miliar

PT Bank Mayapada International Tbk (MAYA) akan membagikan dividen tengah tahun sebesar Rp35 per lembar saham. Hal itu sesuai dengan…