Kuartal III, Investasi Asuransi Jiwa di SBN Tertinggi - Pertumbuhan Hampir Mencapai 5.000%

NERACA

Jakarta - Surat Berharga Negara (SBN) menempati urutan teratas untuk pertumbuhan investasi di industri asuransi jiwa di kuartal III 2012, yaitu senilai Rp25 triliun, atau melonjak tajam 4.979,1% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp498 miliar. Sedangkan total nilai investasi asuransi jiwa sebesar Rp219,7 triliun di sembilan bulan pertama di 2012, naik 21,6% dari kuartal III 2011 yakni Rp180,6 triliun.

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Hendrisman Rahim mengatakan, peralihan investasi tersebut dikarenakan nasabah melihat bahwa SBN dijamin pemerintah, berisiko kecil, dan jangka panjang. Meskipun, kata dia, bunganya tidak besar ketimbang investasi di saham. “Itu karena kondisinya sangat fluktuatif, sehingga kami memilih investasi yang lebih aman. Selain itu, SBN maupun SUN (Surat Utang Negara) kan dijamin pemerintah,” ujar dia di Jakarta, Rabu (28/11).

Benar saja. Investasi di sektor saham terjadi penurunan cukup drastis, yakni minus 31,7% dari Rp78 triliun menjadi hanya Rp53 triliun. Turunnya penempatan investasi di saham, selain masih adanya kekhawatiran industri terhadap kondisi saham yang masih fluktuatif, juga lebih banyak mengambil sikap wait and see dari nasabah yang ingin berinvestasi.

Berdasarkan data AAJI yang dikelola Neraca, pada kuartal II-2012, investasi di saham memang tercatat turun 32,3% menjadi Rp52,87 triliun dari periode yang sama 2011 sebesar Rp78,11 triliun. Sementara investasi di obligasi pemerintah terjadi lonjakan sebesar 2.171,3% menjadi Rp24,13 triliun dari periode yang sama 2011 sebesar Rp1,06 triliun.

Sementara posisi kedua, sambung Hendrisman, ditempati Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang tumbuh 100,2% dari Rp2 triliun menjadi Rp4,1 triliun. Lebih lanjut dirinya menerangkan, investasi di reksa dana juga meningkat 12,4%, dari Rp58 triliun menjadi Rp65 triliun.

Dengan demikian, pertumbuhan nilai investasi tersebut mendorong peningkatan signifikan atas jumlah aset industri menjadi Rp254,2 triliun atau naik sebesar 21,9% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Imbal hasil (yield) investasi perusahaan asuransi jiwa naik 217% menjadi Rp13,3 triliun pada kuartal III 2012 ketimbang periode yang sama di 2011.

"Peningkatan yield ini seiring dengan kinerja positif pasar modal Indonesia yang menjadi salah satu pilihan investasi utama para investor lokal, regional, dan global," terangnya. Pengamat pasar modal FEUI Budi Frensidy pernah bilang bahwa perpindahan investasi industri asuransi jiwa ke SBN dan obligasi atau SUN bukan disebabkan tidak menarik lagi, melainkan ingin mencari volatilitas atau risiko yang lebih rendah.

Lebih menggiurkan

Sementara investasi di saham, return dan risikonya sama-sama tinggi. “Investasi di SBN, SUN maupun ORI jelas jauh lebih aman ketimbang saham. Selain dijamin pemerintah juga karena bunganya tinggi dan jangka panjang,” jelas Budi kepada Neraca, belum lama ini. Dia lalu menjelaskan kelebihan SBN dan SUN dibandingkan saham.

Surat Utang Negara dan SBN, kata Budi, yield (imbal hasil) sebesar 5,96% selama 10 tahun. Instrumen ini ditujukan bagi investor institusi seperti perusahaan sekuritas atau manajer investasi. Budi juga menerangkan, saat ini inflasi Indonesia rendah dan kepercayaan investor asing lagi tinggi. “Pendapatan tetap dengan jaminan bunga tinggi, terus risiko rendah, aman, dan dijamin pemerintah. Siapa yang tidak tergiur? Apalagi, investor asing menguasai SBN sekitar 30%-35%. Paling tinggi di Asia Tenggara. Thailand dan Filipina saja hanya 5%,” ungkap dia.

Di tempat terpisah, Ekonom Senior Bank Pembangunan Asia (Asia Development Bank/ADB), Edimon Ginting juga mengaku setuju jika terjadi pergeseran investasi industri asuransi dan tabungan pensiun, dari saham ke obligasi (Surat Utang Negara/SUN) atau Surat Berharga Negara (SBN).

“Hal tersebut membuat pasar obligasi Indonesia semakin berkembang dan menciptakan kompetisi<’ kata Edimon, singkat, kepada Neraca. Munculnya pasar obligasi ini, lanjut dia, akan tercipta kompetisi, khususnya dari segi harga.

“Size bond kita hanya 15% dari GDP. Kalah dua kali lipat dibandingkan Filipina yang 36%, apalagi Malaysia sampai 99% dari GDP. Makin besar size-nya makin bagus karena ada kompetisi dalam menyediakan financing. Yang pasti nggak ada patokannya harus berapa persen dari GDP,” papar Edimon. [ardi]

BERITA TERKAIT

IPO DIVA Oversubscribe mencapai 5,6 kali - Patok Harga Rp 2.950 Per Saham

NERACA Jakarta - PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA) telah menetapkan pelaksanakan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) pada…

Investasi Energi, Jepang Minta Regulasi Diperbaiki

    NERACA   Jakarta – Managing Director The Energy Conservation Center Japan (ECCJ), Masahide Shima menyatakan bahwa banyak investor…

Generasi Milenial Potensial Pasar Asuransi

    NERACA   Jakarta - Perusahaan asuransi dan manajemen aset AXA Indonesia (AXA Group) menyatakan generasi milenial (penduduk Indonesia…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Naikkan Suku Bunga Jadi 6%

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuannya pada November 2018 menjadi enam persen,…

Perbankan Diminta Perbaiki Tata Kelola

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani berharap industri perbankan terus memperbaiki tata kelola perusahaan yang…

Bhineka Life dan OJK Gelar Literasi Keuangan untuk Guru

    NERACA   Bandung - PT Bhinneka Life Indonesia (Bhinneka Life) bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional…