Aturan Baru BI Justru Untungkan Bank BUMN

NERACA

Jakarta - Pengamat perbankan Katadata, Lin Che Wei mengatakan, delapan kebijakan Bank Indonesia (BI) yang baru sejatinya bertujuan memperkuat dan meningkatkan daya saing perbankan nasional di level regional. Namun, lanjut dia, hanya bank-bank milik negara (BUMN) yang akan mendapatkan manfaat dan kesempatan besar dari aturan tersebut.

“Empat bank BUMN, yakni Bank Mandiri, BNI, BRI dan BTN menjadi “the winner” (diuntungkan) dari kebijakan BI,” jelas Lin Che Wei di Jakarta, Rabu (28/11). Tak hanya itu saja. Selain empat bank pelat merah, dia menuturkan bahwa ada juga pihak yang diuntungkan secara umum, seperti BCA, BII, Bank Danamon, OCBC NISP, BTPN, dan Bank Panin.

Sementara kategori bank “the loser” (dirugikan) adalah CIMB Niaga, Bank Permata, serta Bank Mega. Berdasarkan hasil analisis, Lin menerangkan, dalam koridor penguatan ketahanan dan daya saing perbankan, yang mencakup pengaturan kepemilikan saham bank, kegiatan usaha dan perluasan jaringan, serta penyempurnaan kepemilikan tunggal perbankan, perbankan BUMN mendapatkan manfaat terbesar.

Lin lalu memberi contoh, untuk pengaturan kepemilikan saham yang mengizinkan kepemilikan lebih dari 40%, perbankan BUMN ini adalah yang dikecualikan atau diizinkan memiliki lebih dari 40% saham. Sedangkan bank-bank lain yang tidak terkena aturan tersebut adalah bank yang dimiliki oleh lembaga keuangan bank dengan kategori sehat, go public, dan mempunyai komitmen mengembangkan perekonomian nasional.

“Bank-bank ini seperti CIMB Niaga yang dimiliki CIMB Group asal Malaysia, dan Bank Permata yang dikendalikan oleh Standard Chartered Bank,” terang Lin. Sebelumnya bank sentral telah mengumumkan delapan kebijakan baru yang hampir semuanya akan efektif pada 2013. Kebijakan baru BI ini mencakup tiga koridor, yakni upaya memelihara stabilitas sistem keuangan, penguatan ketahanan dan daya saing perbankan, serta penguatan fungsi intermediasi perbankan.

BUKU 4

Terkait pengaturan yang terkait kegiatan usaha dan perluasan jaringan, Lin menjelaskan bahwa BI mensyaratkan tingkat kesehatan, alokasi modal inti, besaran pangsa kredit usaha mikro kecil menengah (UMKM), serta efisiensi dan pemupukan laba. “Di sini, perbankan BUMN lagi-lagi diuntungkan karena rata-rata memiliki tingkat kesehatan sangat baik dan persentase pembiayaan UMKM cukup tinggi, bahkan melebihi bank-bank lain,” paparnya.

Kemudian dari segi target kredit produktif, bagi bank yang termasuk BUKU 4 atau yang mempunyai modal inti minimal Rp30 triliun, yang dipersyaratkan adalah minimal 70% dari total portofolio kredit. Nah, selain empat bank pelat merah, bank swasta macam BCA yang memiliki rasio kredit bermasalah (loan to deposite ratio/LDR) di bawah 70% atau sebesar 67,75%, turut terkena aturan ini.

Menyinggung akses layanan pemberian kredit atau pembiayaan usaha kecil menengah, Lin seraya menambahkan, BI mewajibkan bank untuk menyalurkan kredit UMKM minimum 20% dari portofolio kredit secara bertahap yang diikuti dengan penerapan insentif dan disinsentif.

Dan aturan ini dikecualikan bagi bank yang fokus pada pembiayaan kepemilikan rumah untuk kepentingan rakyat. “Mengacu pada ketentuan tersebut, sedikitnya ada enam bank papan atas yang sudah memenuhi ketentuan ini. Bahkan beberapa di antaranya jauh melebihi batas minimum 20%,” tutur Lin. [ria]

BERITA TERKAIT

Bank Kalbar Buka 6 Kantor Cabang

      NERACA   Pontianak - Wakil Gubernur Kalbar Ria Norsan meresmikan enam kantor Bank Kalbar, yang tersebar di…

MRT Simbol Peradaban Baru Indonesia

  Oleh : Anisa Rahmawati, Mahasiswa PTN di Jakarta   Salah satu primadona dalam pelaksanaan Nawacita di bawah pemerintahan Presiden…

HSF Resmi Jadi Pengendali Baru Saham KMTR

HSF (S) Pte. Ltd. (HSF) tercatat menjadi pengendali saham baru PT Kirana Megatara Tbk (KMTR) melalui penerapan penerbitan saham baru…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Fintech Ilegal Berasal dari China, Rusia dan Korsel

  NERACA   Jakarta - Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menemukan fakta bahwa mayoritas perusahaan layanan finansial berbasis…

Laba BNI Syariah Tumbuh 35,67%

    NERACA   Jakarta - PT Bank BNI Syariah membukukan laba bersih sebesar Rp416,08 miliar, naik 35,67 persen dibandingkan…

Pemerintah Terbitkan Sukuk US$ 2 miliar

      NERACA   Jakarta - Pemerintah menerbitkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk wakalah global senilai dua…