Industri Tekstil Terindikasi Cemarkan Citarum

NERACA

Jakarta – Ratusan pabrik tekstil terindikasi mencemarkan Sungai Citarum mengingat bahan-bahan kimia berbahaya ditemukan di sungai yang bersinggungan dengan sekitar 500 pabrik tersebut dan lebih dari separuh pabrik-pabrik tersebut adalah industri tekstil.

Kesimpulan tersebut merupakan hasil dari studi yang dilakukan oleh Greenpeace Indonesia pada Juni-Oktober 2012 dan dipaparkan kepada publik Rabu (28/11).

Sampel yang diambil dari 10 titik Sungai Citarum kemudian diuji ke laboratorium Institute of Ecology Universitas Padjadjaran di Bandung dan Lab Afiliasi Kimia Universitas Indonesia di Depok. Hasilnya, Sungai Citarum mengandung banyak limbah buangan pabrik.

Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat Dadan Ramdan mengungkapkan bahwa industri tekstil di daerah aliran Sungai Citarum memperlakukan sungai, yang menjadi sumber air bagi masyarakat, seperti selokan pembuangan pribadi mereka. “Dan pemerintah dengan pendekatan reaktif 'atur dan awasi'-nya, terbukti gagal melindungi sumber air masyarakat dari pencemaran bahan kimia berbahaya,” kata Dadan.

Beberapa temuan penting adalah bahwa pada beberapa lokasi kandungan krom heksavalen (Cr6+) dan beberapa logam berat lainnya berada pada level yang mengkhawatirkan. Karena tidak dapat diurai, logam berat dapat terus terakumulasi di jaringan tubuh mahluk hidup dan dapat menyebabkan gangguan kesehatan.

Greenpeace menyatakan bahwa logam yang bersifat karsinogenik ini masih banyak digunakan oleh industri tekstil dan penyamakan kulit. Cr6+ terdeteksi di titik penyampelan Majalaya, Rancaekek, Margaasih, Batujajar, Cihaur, dan Jatiluhur.

Dalam pelaksanaan studinya, Greenpeace banyak menemukan pipa-pipa yang bermuara ke Sungai Citarum. Penduduk menyebutnya pipa siluman, karena tidak jelas dari mana limbah pipa tersebut berasal.

Koordinator Water Pool Greenpeace Asia Tenggara-Indonesia Hilda Meutia mengatakan, dari pipa siluman tersebut keluar cairan beruap, berwarna, panas, dan keluar dalam volume besar dalam waktu-waktu tertentu. Limbah seperti itu bukanlah ciri dari limbah domestik. “Itu indikasi limbah dari industri,” ujar dia.

Greenpeace tidak secara lugas menyatakan bahwa industri tekstil mencemarkan Sungai Citarum. “Tetapi ada indikasi,” kata Hilda.

Menurut Hilda, pencemaran sungai oleh industri adalah cerita lama. “Ini terjadi di banyak sektor industri,” kata dia.

Permasalahan yang utama, kata Hilda, adalah perusahaan masih mengandalkan instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Seharusnya industri lebih memikirkan bahan kimia yang digunakan sejak awal. Apakah akan menimbulkan limbah yang berbahaya atau tidak.

Produksi Bersih

Industri berpikir bahwa mengeluarkan limbah bersih ada harganya. Padahal sudah banyak bukti bahwa tidak selamanya mengeluarkan limbah bersih membuat ongkos produksi melambung.

Juru Kampanye Greenpeace Indonesia Ahmad Ashov Birry mencontohkan apa yang dilakukan pemerintah Massachusets, Amerika Serikat. Industri yang menggunakan bahan kimia beracun diminta untuk mengevaluasi sistem yang mereka gunakan dan merencanakannya dengan lebih ramah lingkungan. Program tersebut bernama Toxic Use Reduction Act (TURA).

Secara bisnis, sudah terbukti bahwa industri yang menjalankan program TURA justru mendapati biaya produksinya menurun. “Cost mereka berkurang 30%,” kata Ashov. Itu baru manfaat dari sisi bisnis, belum menghitung manfaat lingkungan yang didapat.

Indonesia memiliki program serupa, meskipun tidak sekuat yang dilakukan Massachusets. Pusat Produksi Bersih Nasional (PPBN) yang dibentuk pada 2004 mempunyai program bernama Manajemen Lingkungan Berorientasi Lingkungan (MeLOK). Program ini mendorong agar dunia industri menjalankan bisnisnya dengan lebih ramah lingkungan, tanpa melupakan aspek bisnisnya.

Sudah banyak contoh sukses MeLOK. Misalnya PT Indonesia Power yang dapat melakukan penghematan Rp 70.885.000 dari penghematan penggunaan bahan kimia Anti Foam. Padahal investasi untuk itu hanya Rp 5.000.000 dengan melakukan modifikasi sistem pemipaan.

“Hanya saja PPBN belum banyak menyentuh sisi limbah B3,” ungkap Hilda.

BERITA TERKAIT

Sektor Riil - Investasi Meningkat, Pemerintah Siapkan SDM Industri Kompeten

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berperan aktif menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten untuk memenuhi kebutuhan dunia industri.…

Industri Makanan dan Minuman Ditaksir Tumbuh 9 Persen

NERACA Jakarta – Kemenperin memproyeksikan industri makanan dan minuman dapat tumbuh di atas 9 persen pada 2019 karena mendapatkan tambahan…

Dunia Usaha - Pemerintahan Baru Perlu Didorong Berani Berpihak Pada Industri

  NERACA Jakarta – Pengamat ekonomi Hisar Sirait mendorong agar pemerintahan yang akan terpilih hasil Pemilu 2019 harus berani berpihak…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Bank Dunia Proyeksikan Perlambatan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik

      NERACA   Jakarta - Laporan terbaru Bank Dunia memproyeksikan adanya perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang Asia…

Pelabuhan Sebagai Pintu Gerbang Ekonomi Nasional

    NERACA   Jakarta - Sebagai Negara kepulauan, Indonesia menyimpan potensi besar terlebih letaknya yang strategis karena berada di…

Kinerja Penerimaan Pajak Triwulan I Dalam Batas Wajar

  NERACA   Jakarta - Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo menilai kinerja penerimaan pajak dalam…