Menkeu: Dua Pilar Fiskal Jaga Stabilitas Pertumbuhan

NERACA

Jakarta – Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak mungkin tumbuh setinggi yang ditetapkan dalam UU Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Menteri Keuangan Agus Martowardojo menekankan, ada dua pilar fiskal yang perlu dijaga untuk mendorong kestabilan dan meningkatkan kesehatan ekonomi makro.

Kedua pilar itu adalah menjaga defisit anggaran di bawah 3% terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) dan menjaga rasio utang terhadap PDB dengan mengurangi ketergantungan pada utang. "Kita jaga konsolidasi anggaran nasional dan daerah tidak lebih dari 3% dan rata-rata defisit kita realisasinya pada 1-1,5%. Pilar fiskal lain yang perlu dijaga adalah mempertahankan rasio utang terhadap PDB pada kisaran 23% serta mengurangi ketergantungan kepada utang,” ujarnya, Rabu (28/11).

Agus memahami bahwa banyak lembaga yang telah merevisi proyeksi angka pertumbuhan ekonomi Indonesia seiring dengan masih belum jelasnya perbaikan krisis ekonomi di Eropa. Dia memperkirakan, pertumbuhan ekonomi 2012 hanya mencapai 6,3% atau lebih rendah dari asumsi APBN-Perubahan sebesar 6,5%. "Kalau pertumbuhan kita sekarang ini pada triwulan IV tercapai 6,2%, itu artinya setahun 6,3%. Angka itu adalah yang kemungkinan kita akan capai," katanya.

Bahkan, menurut dia, pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun bisa hanya 6,2% bila angka pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV di luar kisaran 5,9%-6,3%. "Selama 10 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia termasuk tiga terbaik dunia. Tapi kalau dilihat deviasinya, Indonesia paling stabil. Pertumbuhan ekonomi kita rata-rata 5,5% dan dalam 5 tahun terakhir 5,9%," ujar Agus.

Dia mengatakan bahkan IMF sendiri dalam memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia terus berubah-ubah. "Pada Juni tahun lalu, IMF masih memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini 4,4%, lalu direvisi menjadi 4%, berubah lagi menjadi 3,3%," kata Agus. Sementara itu, tahun depan pemerintah akan menjaga angka pertumbuhan ekonomi sesuai asumsi APBN Tahun 2013 sebesar 6,8% dengan mendorong kualitas penyerapan belanja pemerintah, terutama belanja modal.

"Pemerintah mengambil inisiatif karena sekarang belanja pemerintah sudah tinggi. Kita harapkan spending-nya bisa lebih baik. Kita mulai menata (penyerapan) anggaran untuk belanja modal dan infrastruktur yang terus meningkat," katanya.

Pemerintah, lanjut dia, juga akan meningkatkan investasi dan konsumsi domestik untuk mengantisipasi perlemahan laju ekspor serta mempercepat realisasi proyek infrastruktur pemerintah dalam Rencana Induk Perluasan dan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

"Yang selalu kami sampaikan dalam mengemukakan angka pertumbuhan ekonomi adalah angka yang ditetapkan dalam UU APBN. Tentu kami tidak melakukan revisi, karena ada dampaknya dalam anggaran. Jadi kalau untuk kami, harus resmi mengatakan pertumbuhan ekonomi 6,8% di 2013," pungkasnya.

BERITA TERKAIT

Berebut Tahta Nomor Dua

  Oleh: Stanislaus Riyanta, Kandidat Doktor Kebijakan Publik Fakultas Ilmu Administrasi UI Menuju pelaksanaan Pilpres 2019, koalisi yang sudah mengkristal…

Walikota Depok: STNK Nunggak Dua Tahun, Data Dihapus dan Dilarang Operasional

Walikota Depok: STNK Nunggak Dua Tahun, Data Dihapus dan Dilarang Operasional NERACA Depok - Walikota Depok Dr. KH M. Ideis…

Ayers Asia AM Bidik Dana Kelola Rp 500 Miliar - Luncurkan Dua Produk Dinfra

NERACA Jakarta –  Targetkan dana kelolaan atau asset under management (AUM) hingga akhir tahun sebesar Rp 350 miliar hingga Rp…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Defisit APBN Semester I Turun jadi 0,75%

  NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan realisasi defisit anggaran pada semester I-2018 tercatat sebesar Rp110,6…

Modal Asing Keluar, Utang Indonesia Melambat

    NERACA   Jakarta - Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia tumbuh melambat pada akhir Mei 2018 seiring arus dana…

Pengaduan THR ke Pemerintah Turun

      NERACA   Jakarta - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mulai memproses pengaduan terkait pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) pekerja…