Solusi Atau Eksperimen? - Pengembangan Pendidikan Inklusi

Sekolah inklusi menghapus sekat sosial yang membedakan para difabel dengan masyarakat umum. Namun, pelayanan program alternatif yang yang digaungkan untuk menunjang pendidikan bagi anak difabel ini, akhir-akhir ini semakin surut.

Sekolah inklusi tak lain merupakan sekolah formal yang menerima kaum difabel dan menyediakan sistem layanan pendidikan yang disesuaikan dengan kebutuhan anak tanpa kebutuhan khusus (ATBK) dan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) melalui adaptasi kurikulum, pembelajaran, penilaian, dan sarana prasarananya.

Maklum, kepedulian dunia terhadap penyandang difabel untuk memperoleh pendidikan telah digaungkan sejak tahun 1994. Melalui gagasan pendidikan inklusi, PBB mengkampanyekan bahwa anak yang memiliki kebutuhan khusus harus mendapat akses pendidikan di sekolah-sekolah umum (formal).

Di Indonesia, gagasan ini dipromosikan melalui UU No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat dan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menekankan hak setiap warga negara untuk memperolah pendidikan sesuai dengan jenjang, jalur, satuan, bakat, minat, dan kemampuannya tanpa diskriminasi.

Dengan kata lain, dalam sektor pendidikan formal seharusnya tidak ada lagi sekat sosial yang membedakan para difabel dengan masyarakat umum. Orang tua bisa mendaftarkan anak difabel mereka ke sekolah umum. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan pelayanan program pendidikan alternatif yang menunjang bagi anak difabel.

Di sekolah tersebut difabel mendapat pelayanan pendidikan dari guru pembimbing khusus dan sarana prasarananya. Prinsip mendasar dari pendidikan inklusi adalah selama memungkinkan, semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka.

Menurut Thomas Lombar dalam diskusinya tentang “Responsible Inclusion”, siswa difabel yang diberikan pengajaran di kelas terpisah seringkali merasa tidak termotivasi, rendah diri, dan tidak berdaya. Dengan penempatan anak difabel di sekolah inklusi dapat menumbuhkan sikap positif bagi siswa difabel yang berkembang dari komunikasi dan interaksi dari pertemanan dan kerja sebaya.

Dengan adanya sekolah inklusi, anak difabel dapat belajar keterampilan sosial dan menjadi siap untuk tinggal di masyarakat karena mereka dimasukkan dalam sekolah umum. Selain itu, anak terhindar dari dampak negatif dari sekolah segregasi, label cacat yang memberi stigma pada anak dari sekolah segregasi membuat anak merasa inferior, serta kecilnya kemungkinan untuk saling bekerjasama, dan menghargai perbedaan.

Kini, gaung semangat untuk meneguhkan pendidikan inklusi bagi kaum difabel semakin surut. Terbukti, tidak semua sekolah umum mampu menerapkan sistem pendidikan ini. Kalaupun ada, jumlahnya masih terbatas dan tidak cukup untuk agenda pencerdasan bagi para penyandang disabilitas.

Guru sebagai garda terdepan penyelenggara pendidikan masih kerap menunjukkan sikap negatif terhadap anak difabel. Ketersediaan guru pembimbing khusus atau tenaga ahli profesional yang diperbantukan di sekolah inklusi sangat terbatas. Terutama untuk sekolah yang berada di daerah-daerah, masih susah mendatangkan tenaga ahli di bidang ini.

BERITA TERKAIT

Pendidikan Vokasi Industri Wilayah Sulawesi Diluncurkan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meluncurkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan…

Pemerintah Akselerasi Pengembangan Kendaraan Listrik

NERACA Jakarta – Pemerintah segera menyiapkan fasilitas insentif fiskal dan infrastruktur dalam upaya mengakselerasi pengembangan kendaraan listrik di Indonesia. Untuk…

Gubernur Jabar Tawarkan Solusi Gaet Peserta BPJS Ketenagakerjaan

Gubernur Jabar Tawarkan Solusi Gaet Peserta BPJS Ketenagakerjaan NERACA Bandung - Gubernur Jawa Barat (Jabar), Ridwan Kamil, menawarkan solusi kreatif…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

Peran Ibu Tak Akan Tergantikan dengan Teknologi

    Peranan ibu dalam mendidik anak tidak dapat digantikan oleh kemajuan teknologi seperti pada era digital saat ini, kata…

Pendidikan untuk Si Kecil di Era Teknologi

      Pada era millenial seperti saat ini, teknologi digital menjadi realitas zaman yang tidak dapat dihindari. Seiring perkembangan…

Mengapa Anak Usia 7 Tahun Ideal Masuk SD

    Selain kemampuan intelektual, kesiapan mental anak juga harus dipertimbangkan dalam aktivitas kegiatan belajar di jenjang pendidikan Sekolah Dasar…