Utang Grup Bakrie Melesat Jauh Lebihi Aset

NERACA

Jakarta- Rumor soal grup Bakrie yang bakal menjual stasiun televisi ANTV ke kompetitornya PT Elang Mahkota Teknologi, pemegang saham mayoritas stasiun Surya Citra Televisi (SCTV) untuk menutupi utang PT Bumi Resources Tbk (BUMI), menjadi gambaran jelas bila bisnis grup Bakrie yang dulu berjaya kini mulai meredup.

Meski kabar tersebut dibantah langsung oleh Direktur Direktur Visi Media, Erick Thohir. Namun kondisi tersebut menggambarkan, bila bisnis grup Bakrie sudah mulai rapuh dengan beban utang yang jatuh tempo. Hal ini dipertegas setelah PT Bakrieland Development Tbk (BTEL) menjual kepemilikan sahamnya di bisnis tol hanya untuk menutupi utang BUMI.

Menurut analis dari Trust Securities, Reza Priyambada, secara matematis jumlah utang yang saat ini dimiliki oleh grup Bakrie tidak akan dapat ditutupi oleh jumlah aset yang dimiliki perseroan. “Secara perhitungan di atas kertas, utangnya tidak mungkin tercover oleh aset yang dimiliki perseroan saat ini. Pastinya mereka harus punya cara agar tidak collaps,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Selasa (27/11).

Sejauh ini, lanjut Reza, beberapa analis menilai, dengan jumlah utang grup saat ini, secara operasional bukan tidak mungkin perusahaan diperkirakan akan mengalami kebangkrutan. Meski begitu, dia menilai masih adanya beberapa profesional dalam tubuh grup Bakrie yang masih mampu mengupayakan berbagai cara untuk mengurangi utangnya. “Mereka tentu akan kembali menggandeng pihak lain atau mengubah utang tersebut menjadi ekuitas.” ujarnya.

Lanjutnya, adanya rumor politik dalam pengelolaan bisnis grup Bakrie, perseroan tersebut seharusnya bisa berlaku profesional dan tidak mencampuradukkan masalah politik ke dalam bisnis. Hal yang perlu dilakukan adalah fokus terhadap strukturisasi utang dan strategi bisnis ke depan. Dengan demikian, investor yang masuk ke dalam saham emiten tersebut tidak lagi dihantui sentimen negatif.

Berisiko Besar

Hal senada juga disampaikan Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten (AEI), Isaka Yoga yang mengungkapkan, melihat utang dari grup Bakrie yang besar itu mempunyai risiko besar kedepannya. Terlebih produk komoditas akan menurun dan berimbas kepada penerimaan yang ikut turun, “.”Hal ini akan mempengaruhi pembayaran utang Bakrie Group apabila pergerakan sahamnya menurun,”paparnya.

Menurutnya, potensi bangkrut bisnis grup Bakrie bisa dilihat bagaimana dan berapa lama bertahan perusahaan dalam pembayaran utang tersebut. Apabila dengan menurunnya harga saham grup Bakrie akan mempengaruhi pembayaran utang beserta bunganya.”Kita akan bisa lihat ke depannya, dengan pembayaran utang yang besar, apakah grup bisnis itu bisa bertahan dalam menyelamatkan asetnya,” ungkapnya.

Dia juga menambahkan, terkait aset yang dimiliki grup Bakrie hanya diketahui oleh pemberi utang dari grup tersebut. Pada prinsipnya, pemberi utang sudah menghitung aset yang ada di grup Bakrie pada saat memberikan utang.”Pada saat kesepakatan utang, ikut terlapor juga aset yang ada di grup Bakrie, saya tidak mengetahuinya apakah asetnya bisa menutupi utang dari grup bisnis itu,” tambahnya.

Sementara pengamat pasar modal Agus S. Irfani mengatakan, grup Bakrie punya kemampuan tersendiri untuk membayar utang-utangnya, terutama dari aset-aset yang tidak tampak. "Mereka pasti punya resources assets. Tapi mungkin bukan dalam bentuk perusahaan, tapi dari akumulasi keuntungan berbagai perusahaannya di masa lalu. Mungkin itu bisa juga dana yang ditempatkan di luar negeri," ujarnya.

Hanya saja, lanjut Agus, grup Bakrie sedang direpotkan oleh biaya politik yang tinggi. Oleh karena itu, bagus atau tidak bisnisnya akan mempengaruhi elektabilitasnya di Pemilu 2014 mendatang. Dia juga menambahkan, grup Bakrie sebenarnya mampu membayar utang, namun memang komitmennya yang rendah yang membuat tunggakan utang tidak terlunasi sampai sekarang.

Menurut dia, secara bisnis sebenarnya grup Bakrie mampu untuk membayar utang, namun itu tidak menjadi prioritasnya. Karena itu, dirinya mengingatkan bahwa harga komoditas batu bara yang sedang jatuh sekarang ini dan terlebih Bumi Resources-lah yang selama ini menjadi tulang punggung penghasilan grup Bakrie. "Saham pertambangan sedang nyaris hancur saat ini. Jadi itu juga harus mereka pertimbangkan," tandasnya.

Asal tahu saja, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) punya total utang senilai US$ 3,79 miliar atau setara Rp 36 triliun hingga tahun 2017. Sebagian dari utang itu akan jatuh tempo mulai tahun ini. Tahun ini perusahaan tambang milik grup bakrie itu harus membayar utang US$ 17 juta.

Secara bertahap, utang-utang itu akan jatuh tempo setiap tahunnya dengan nilai yang berbeda. Tahun depan, utang yang harus dilunasi mencapai US$ 254,5 juta. Sementara di 2014 dan 2015, nilai utang yang harus dibayarkan cukup tinggi, yaitu masing-masing senilai US$ 1,23 miliar dan US$ 1,062 miliar. Sedangkan di 2016 kembali turun dan menjadi hanya US$ 530 juta.

Di 2017 nanti, utang jatuh tempo anak usaha perusahaan kongsi Rothschild dan Bakrie itu sebesar US$ 700 juta. Moodys dan S&P sudah menurunkan outlook utang BUMI itu dari BB- menjadi B+. lia/ria/mohar/ bani

BERITA TERKAIT

Perlu Penjadwalan Utang?

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini ternyata tidak hanya disebabkan oleh persoalan moneter, melainkan juga didominasi oleh…

Bukopin Finance Genjot Aset Rp 1 Triliun - Rencanakan Go Public

NERACA Jakarta – Perkuat modal guna pengembangan bisnis, PT Bukopin Finance berencana melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO)…

Moody’s Beri Peringkat Utang PGN Baa2 - Pasca Akuisisi Saham Pertagas

NERACA Jakarta - Lembaga pemeringkat internasional, Moody's Investors Service menegaskan kembali peringkat PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) dan peringkat…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Sudah Waktunya BUMN Direstrukturisasi

  NERACA Jakarta - Mantan Menko Maritim Rizal Ramli menilai sudah waktunya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dilakukan restrukturisasi menjaga…

MASIH ADA 4 POIN PROSES NEGOSIASI RI-FREEPORT - Menkeu: Penerimaan Negara Harus Lebih Besar

Jakarta-Menkeu Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, pemerintah masih harus memastikan empat poin dalam proses negosiasi dengan Freeport tercapai. Salah satunya soal…

BPS: Ketimpangan Pendapatan Masih Tinggi

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, tingkat ketimpangan antara penduduk kaya dan miskin di Indonesia (gini ratio) turun tipis dari 0,391…