Stabilitas Rupiah Tetap Terjaga

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) terus melanjutkan kebijakan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar sesuai dengan kondisi fundamental sehingga terjadi keseimbangan dengan eksternal. "BI akan memperkuat operasi moneter dalam mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dan pengendalian likuiditas," kata Gubernur BI Darmin Nasution di Jakarta, Selasa.

Dia mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pengawalan dalam menjaga stabilitas nilai tukar domestik sehinga fluktuasinya tidak terlalu tajam. "BI mengendalikan agar fluktuasinya tidak terlalu tajam. Namun, tidak melawan pasar karena hal itu bukan permainan di kisaran US$1 miliar-US$2 miliaR saja, tetapi belasan miliar dolar AS. Kalau melawan pasar, tentu bisa membuat cadangan devisa amblas," papar Darmin.

Lebih lanjut Darmin mengemukakan, secara "point to point" mata uang rupiah melemah sebesar 0,36% (month to month) ke level Rp9.605 per dolar AS atau secara rata-rata melemah 0,41%. "Tetapi, intensitas tekanan terhadap rupiah menurun sejalan dengan membaiknya defisit transaksi berjalan dan neraca pembayaran yang kembali mencatatkan surplus," katanya.

Menurut dia, salah satu faktor nilai tukar domestik tertekan yakni tertundanya kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada tahun ini. Darmin lalu mencontohkan, periode 2005-2008 lalu nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan, karena terjadinya defisit transaksi berjalan. Namun, saat itu pemerintah menyikapinya dengan menaikkan harga BBM.

"Tahun ini harga BBM tidak dinaikkan. Hal ini yang menjadi salah satu penyebab kurs melemah," kata dia. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Selasa sore bergerak melemah sebesar 25 poin di tengah sentimen positif terkait pemberian pinjaman dana kepada Yunani.

Nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksi antarbank di Jakarta Selasa sore bergerak melemah 25 poin menjadi Rp9.635 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.610 per dolar AS. "Nilai tukar rupiah melemah, meski demikian tekanannya terkikis oleh sentimen positif dari pemberian 'bailout' Yunani yang disepakati," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra, kemarin.

Dia menambahkan, mata uang berisiko termasuk rupiah masih menghadapi risiko "downside" saat kesepakatan terbaru itu tidak menawarkan resolusi mendasar untuk krisis hutang di negara-negara Eropa lainnya.

Pemberi pinjaman internasional untuk Yunani, sambung dia, bertujuan mengurangi utangnya sebesar 40 miliar euro menjadi 124% dari produk domestik bruto (GDP) pada 2020 mendatang, tidak langsung memberikan kejelasan bagaimana uutang Yunani akan berkurang. [ardi]

BERITA TERKAIT

Kinerja untuk Atasi Depresiasi Rupiah Dinilai Tepat

    NERACA   Jakarta - Anggota Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun mengatakan kinerja yang dilakukan sejumlah lembaga dan kementerian…

Menteri LHK: Saham Freeport Dikuasai Indonesia, Lingkungan Makin Terjaga

Menteri LHK: Saham Freeport Dikuasai Indonesia, Lingkungan Makin Terjaga NERACA Jakarta - Pemerintah melalui PT Inalum (Persero) resmi memiliki 51…

BI Sebut Rupiah Masih Punya Peluang Menguat

NERACA   Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berpeluang menguat, meski…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bank Belum Penuhi Rasio Kredit UMKM

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat sekitar 20 persen dari total bank umum domestik belum…

LPDB Sederhanakan Persyaratan Pengajuan Pinjaman Dana Bergulir

  NERACA   Tangerang - Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) menyederhanakan kriteria dan…

Pembiayaan BTPN Syariah Tumbuh 19,1%

  NERACA   Jakarta - PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk (BTPN Syariah) hingga akhir Juni 2018 membukukan pembiayaan…