BI Tolak Keinginan Bank BUMN - Terkait Branchless Banking

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) menegaskan ketidaksetujuannya apabila warung atau tempat menjual voucher pulsa dijadikan agent banking, sebagai bagian dari akses layanan perbankan nonkonvensional atau pihak ketiga, yaitu branchless banking. Pasalnya, hal tersebut berlawanan dengan keinginan sebuah bank BUMN sebelumnya, bahwa warung atau agen pulsa kecil dapat menjadi agent banking.

“Kita lebih mengutamakan yang bisa jadi agent banking adalah Kantor Pos Indonesia dan BPR, bukan warung voucher. Karena sekarang BI masih membuat standard operational procedure (SPO) jadi belum berani melakukan proses (lewat warung) itu” kata Difi Ahmad Johansyah, Kepala Biro Humas BI, di Jakarta, Selasa (27/11).

Bank sentral, lanjut dia, berharap pendekatan business to business (B to B) yang akan dilakukan antara bank dengan kantor pos atau BPR. “Penggunaan mobile phone (untuk transaksi branchless banking) dulu yang akan diutamakan. Baru kemudian (menggunakan) agen-agen. Sehingga untuk warung-warung itu tergantung kepada kesiapan bank-bank di masa depan,” tambahnya.

Difi juga menjelaskan, kalau konsep branchless banking memang dapat didekati dengan dua cara, yakni dengan teknologi (unconventional) lewat telepon selular, dan melalui agen (conventional). Dan menurut dia, proses melalui telepon selular yang nanti diterapkan akan berbeda dengan layanan mobile atau sms banking yang sudah ada saat ini.

“Ada perbedaan antara sistem mobile banking yang sudah ada sekarang, karena itu lebih untuk settlement transaksi. Sedangkan cara menggunakan mobile phone dalam branchless banking yaitu ditujukan untuk daerah-daerah yang remote, dan proses ini utamanya untuk transfer dana,” jelasnya.

Hal itu, sambung dia, utamanya disebabkan karena BI menginginkan nasabah tetap mempunyai akun bank, bukan hanya punya nomor telepon selular yang bisa jadi nomor transaksi juga. “Jadi ini bukan nomor (telepon) selular yang disimpan di bank,” imbuh Difi. Maka dari itu, BI menyarankan agar hybrid model-lah yang akan digunakan untuk mendukung branchless banking ini.

Kurangi shadow banking

Model ini mengsinergikan perbankan dengan perusahaan telekomunikasi, yang mana hal ini akan menguntungkan keduanya.

“Karena misalnya sekarang ada provider HP yang menyediakan layanan seperti perbankan, untuk menyimpan dana, dan sebagainya. Namun ini tidak dijamin oleh LPS, sedangkan jika nanti layanan perbankan dan telekomunikasi sudah menyatu dalam branchless banking maka (dananya) bisa dilindungi LPS, dan transaksinya bisa diawasi BI atau OJK nantinya,” demikian pemaparan Difi.

Konsep branchless banking, kata dia, diharapkan akan bisa mengurangi adanya shadow banking yang keberadaannya lebih sering merugikan masyarakat.

“Shadow banking adalah yang menyebabkan subprime mortgage di AS. Maka BI mau ada peraturan branchless banking. Karena masyarakat harus diberi edukasi finansial yang baik dan benar,” jelas Difi.

Mengenai saat ini sudah ada salah satu bank yang mengklaim sudah melaksanakan konsep branchless banking oleh anak usahanya di satu daerah, BI masih belum menganggap mereka sudah menjalankan sepenuhnya.

“Kalau yang itu (tanpa mau disebutkan namanya) sejauh ini hanya mencakup existing costumer-nya saja. Sedangkan visi BI adalah ingin memperluas akses perbankan ke orang-orang desa terpencil yang belum tahu bank. Mereka itu kan, ketika disurvei dan ditanya kenapa tidak ke bank, rata-rata jawabannya karena jauh,” ungkap dia. [ria]

BERITA TERKAIT

Perkuat Bisnis Mobile Banking - Telkomsel Rilis Aplikasi mBanking Telkomsel

NERACA Jakarta – Melengkapi bisnis layanan mobile banking di industri perbankan, Telkomsel meluncurkan layanan digital banking yaitu aplikasi mBanking Telkomsel,…

Inilah Hasil Survei PoliticaWave Terkait Percakapan Medsos Pasangan Capres

Inilah Hasil Survei PoliticaWave Terkait Percakapan Medsos Pasangan Capres NERACA Jakarta - Pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut…

Utang BUMN, Mau Untung Apa Buntung?

Oleh: Pril Huseno Dalam rapat dengar pendapat antara Direksi BUMN dengan DPR Komisi VI pada (03/12), terungkap bahwa besaran utang…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Asosiasi Dukung Penindakan Fintech Ilegal

      NERACA   Jakarta - Asosiasi FinTech Indonesia (AFTECH) mendukung penindakan hukum terhadap aksi perusahaan teknologi finansial (tekfin)…

Bank Mandiri Targetkan Pertumbuhan Kredit 11,5%

  NERACA   Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 11,5 persen pada 2019 lebih rendah…

Adira Insurance Berikan Penghargaan 23 Kota - Sistem Tata Kelola Keselamatan Jalan

      NERACA   Jakarta - Asuransi Adira menyelenggarakan Indonesia Road Safety Award (IRSA) sebagai upaya untuk menyadarkan pentingnya…