Penjualan Listrik di Indonesia Timur Capai 11,76 Miliar KWh - Hingga Oktober 2012

NERACA

Jakarta - PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero mengaku telah berhasil menjual listrik untuk wilayah Indonesia Timur. Direktur Oprasional Indonesia Timur PLN, Vickner Sinaga mengtatakan hingga Oktober 2012 penjualan telah mencapai 11,76 miliar Kilo Watt Hour (KWh) atau naik sekitar 15% dibandingkan tahun lalu yang hanya 10,22 miliar Kwh.

"Penjualan listrik Indonesia Timur hingga Desember ditargetkan sebesar 13,53 miliar KWh, tapi kita menargetkan 14,47 miliar KWh atau diatas 7 persen dari target," ujar Direktur Oprasional Indonesia Timur PLN, Vickner Sinaga di Jakarta, Selasa (27/11).

Menurut Vickner Sejak 2010 pertumbuhan listrik di wilayah Indonesia Timur per periode Oktober selalu meningkat. Pada tahun 2011 pertumbuhan telah mencapai 9,8% jika dibandingkan dengan tahun 2010. Sementara pada tahun 2012 tumbuh 15% dibanding tahun 2011.

Menurut Vickner, terus meningkatnya penjualan listrik PLN dipicu oleh tumbuhnya perekonomian masyarakat Indonesia Timur. "Pertumbuhan penjualan listrik, karena tumbuhnya pelanggan rumah tangga dan industri secara seimbang," kata Vickner.

Vickner memaparkan, beban puncak pemakaian listrik di wilayah Indonesia Timur, hingga November 2012 sebesar 2.937 MW atau tumbuh 6% dari beban puncak tahun sebelumnya sebesar 2.529 MW. Sedangkan penggunaan listrik yang tak tercatat (losses) hingga Oktober 2012 sebesar 11,01%, sedangkan target losses hingga akhir tahun sekitar 10,24%. "Kita usahakan losses hingga akhir tahun bisa mencapai 9,43%," tutup Vickner.

Dia juga mengaku untuk penggunaan listrik di Pulau Banyu telah menggunakan 100% dari gas. Untuk meningkatkan produksi listrik di wilayah Timur, PLN Indonesia Timur juga bekerja sama dengan Pertamina EP mengalirkan listrik tenaga gas di Pulau Bunyu.Walau Pulau Bunyu hanya membutuhkan listrik sebesar 2 megawatt (MW), "Ini upaya agar tidak menggunakan BBM," ujar Vickner.

Sebelumnya pembangkit listrik di Pulau Bunyu menggunakan bahan bakar minyak. Namun setelah Pertamina EP memasok gas bagi Tarakan sebesar 5 mmscfd, PLN meminta gas tersebut sebagian untuk Pulau Bunyu sebesar 0,5 mmscfd. "Penggunaan 100% gas sebagai sumber energi premier di Pulau Bunyu sejak Oktober 2012 lalu," ujar Vickner. Jumlah pelanggan listrik di Pulau Bunyu saat ini telah mencapai 2.240 pelanggan. "Kita targetkan rasio elektrifikasi Pulau Bunyu 100%, kalau masyarakatnya mau. Kita akan jemput bola, langsung mendatangi ke masyarakatnya," terang Vickner.

PLN wilayah Indonesia Timur terus menurunkan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) untuk pembangkit listrik, dari 60% pada kuartal I-2012 menjadi 25% pada akhir tahun ini. Pasalnya ini sesuai dengan kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang melarang PLN membangun pembangkit listrik diesel baru. Padahal selama ini subsidi listrik untuk kawasan timur selama ini paling kecil dari kawasan-kawasan lain.

Dia menjelaskan pada 2011 lalu, kawasan yang terdiri dari 15 provinsi itu menggunakan BBM sebanyak 2,3 juta ton. Namun penggunaan BBM pada tahun ini akan ditekan di bawah dua juta ton. "Jatah BBM untuk PLN Indonesia Timur di 2012 ini hanya dua juta ton dan kami usahakan penggunaannya kurang dari target tersebut," kata Vickner.

Jika dibandingkan wilayah lainnya, seperti PLN wilayah Jawa-Bali dan wilayah Sumatera, PLN wilayah Indonesia Timur mengonsumsi BBM paling sedikit. PLN wilayah Jawa-Bali mengonsumsi BBM hampir dua kali lipat dari wilayah Indonesia Timur, sedangkan untuk PLN wilayah Sumatera mengonsumsi sekitar 2,5 juta ton BBM. Dari total subsidi listrik 2011 sebesar Rp90,5 triliun, PLN wilayah Indonesia Timur hanya disubsidi Rp18 triliun. Tentunya, jika dibagi 15 provinsi, setiap provinsi mendapatkan subsidi listrik sebesar Rp100 miliar per bulan.

Menurut Vickner, untuk mengurangi konsumsi BBM bersubsidi tidak mudah karena pertumbuhan listrik di wilayah Indonesia Timur meningkat 15 persen per tahun. Pada 2010, beban puncak Indonesia Timur baru 1.990 Mw tapi pada kuartal I-2012 mencapai 2.600 Mw. "Selama dua tahun ini tumbuh 600 Mw, sedangkan cadangan listrik di Indonesia Timur hanya tujuh persen. Kalau ada pembangkit satu saja overhaul dan ada pembangkit lain yang terkena gangguan tiba-tiba, maka bisa jadi masalah," katanya.

BERITA TERKAIT

Peduli Dunia Pendidikan - BCA Bantu Beasiswa Rp 4,95 Miliar Ke 16 Perguruan Tinggi

Mempertegas komitmen kepeduliannya pada dunia pendidikan, PT Bank Central Asia (Persero) Tbk (BBCA) kembali menyalurkan beasiswa bakti BCA terhadap 16…

Optimistis di 2019, BMW Indonesia Bakal Rilis 10 Mobil Baru

BMW Grup Indonesia akan meluncurkan sebanyak 10 mobil terbaru pada 2019, menunjukkan kepercayaan pabrikan mobil mewah asal Jerman itu dalam…

Ini Tantangan Baru Industri Pariwisata di Indonesia

Salah satu usaha mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun depan, Kementerian Pariwisata akan lebih fokus menggarap segmen pasar…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Sektor Pangan - Kasus Beras Turun Mutu Akibat Tata Kelola Distribusi Tak Optimal

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman menilai kasus 6.000 ton beras busuk di…

Manfaatkan e-Smart IKM, Omzet Usaha Jaket Tembus Rp 50 Juta

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin serius mendorong pelaku industri kecil dan menengah (IKM) di dalam negeri agar terus memanfaatkan…

Ekspor Mobil CBU Ditargetkan Sebesar 400.000 Unit

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor mobil CBU mencapai 400.000 unit pada tahun ini, atau naik 51,2% secara tahunan.…