Gas dan Infrastruktur Ganjal Pertumbuhan Industri

NERACA

Jakarta - Guna mengejar target pertumbuhan industri yaitu 7%, Menteri Perindustrian M.S Hidayat meminta kepada Perusahaan Gas Nasional (PGN) untuk memasok gas sesuai dengan kontrak yang telah disepakati. Pasalnya jika pasokan gas minim maka keberlangsungan industri akan terancam sehingga berimplikasi terhadap pertumbuhan industri.

"Masalah pasokan gas dan infrastruktur yang minim masih menjadi kendala pada sektor industri. Jika hal tersebut dapat diatasi, sektor industri akan tumbuh 7% di tahun depan," kata Menteri Perindustrian, M.S Hidayat, di Jakarta, Selasa (27/11).

Potensi untuk mengoptimalkan pasokan gas, menurut Hidayat, masih sangat terbuka. Hal ini didukung infrastruktur kilang gas alam cair (floating storage and regasification unit/FRSU) yang telah rampung. “Nantinya (FRSU) memindahkan gas dari satu tempat ke tempat lain, atau distribusi ke kawasan industri yang membutuhkan,” ujarnya.

Kalangan pelaku usaha, lanjut Hidayat, tidak akan mengeluhkan kebijakan kenaikan harga gas selama pasokannya mampu dipenuhi. “Pelaku industri bisa diajak bicara soal harga, asalkan suplainya teratur dan sesuai kontrak. Sepanjang suplainya ada dan harganya kompetitif, industri dalam negeri akan mempunyai daya saing,” paparnya.

Hidayat menambahkan, suplai energi dan sarana infrastruktur yang memadai mampu meningkatkan realisasi investasi. “Investor akan menanamkan modalnya jika 2 hal tersebut tidak mengalami kendala,” tandasnya.

Sebelumnya, Hidayat juga mengatakan untuk mempercepat proses industrialisasi pada 2012 hingga 2014, pengembangan industri nasional akan difokuskan pada dua program utama. "Program pertama adalah hilirisasi Industri Berbasis Agro, Migas dan Bahan Tambang Mineral. Program hilirisasi ini dilatarbelakangi banyaknya ekspor bahan mentah komoditi tersebut, dengan hilirisasi industri di dalam negeri akan mampu menghasilkan nilai tambah dan memperkuat struktur industri," paparnya.

Pada 2010 produksi minyak sawit mentah (CPO & CPKO) mencapai 23,5 juta ton dan lebih dari 46% langsung diekspor, produksi kakao 559 ribu ton dan 77,4% diekspor dalam bentuk bijih. Begitu pula ekspor bahan mineral mengalami peningkatan tajam sejak 4 tahun terakhir (2008-2011).

"Ekspor bauksit meningkat 500%, ekspor Nikel meningkat 750%, ekspor Bijih Besi meningkat 750%, dan ekspor tembaga meningkat 800%. Apabila ekspor bahan mineral tidak dikendalikan, beberapa tahun ke depan dikhawatirkan akan habis sebelum bisa diolah sepenuhnya oleh industri dalam negeri," ujarnya.

Program kedua adalah peningkatan daya saing industri existing. Saat ini industri dalam negeri bahan bakunya masih tergantung impor. "Selama ini, teknologi industri banyak yang masih tertinggal dan program ketiga adalah pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM). Pasalnya, IKM sudah terbukti bertahan ditengah gempuran krisis ekonomi global dan menyerap banyak tenaga kerja," tandasnya.

Kendala Pertumbuhan

Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Erwin Aksa Erwin Aksa mengatakan, ada beberapa masalah masih menjadi kendala pertumbuhan industri, seperti suku bank pinjaman dari perbankan yang besar dan infrastruktur. “Suku bunga pinjaman di dalam negeri masih tinggi dibandingkan negara Asean lainnya. Perbaikan pelabuhan serta infrastruktur lainnya masih menghambat pertumbuhan industri di dalam negeri,” paparnya.

Sedangkan masalah undang-undang pengadaan lahan lanjut Erwin, masih menjadi hambatan untuk berinvestasi. Pasokan gas juga menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah. “Undang-undang pengadaan lahan sampai dengan saat ini masih dibahas bersama DPR. Sedangkan pasokan gas masih menjadi kendala pemerintah, jika ini tidak diselesaikan, maka banyak investor yang akan beralih ke negara lain,” tuturnya.

Di tempat terpisah, Ketua Umum Apindo, Sofjan Wanandi mengatakan, industri nasional akan sulit bertumbuh hingga 7%. Menurut dia, pertumbuhan industri kemungkinan besar akan melambat pada tahun ini. “Ya melambat. Pertumbuhan ekonomi saja 6 % sudah bagus,” kata Sofjan.

Tak hanya kondisi perekonomian global, menurut dia, situasi politik tahun depan dikhawatirkan memengaruhi pertumbuhan industri secara negatif. “Saya paling pesimistis tahun depan karena mulai pemilu. Tidak ada lagi yang konsentrasi. Semuakonsentrasimenangkan pemilu.Faktor politik akan sangat memengaruhi pertumbuhan kita,” katanya.

Menurut dia, realisasi investasi saja yang akan menjadi faktor mendorong pertumbuhan industri pada tahun ini. Sektor industri automotif, besi dan baja, makanan dan minuman bakal terus mendominasi pertumbuhan industri nasional pada tahun ini. “Mobil dan sepeda motor tumbuh, karena pendapatan kelas menengah naik,” jelasnya.

BERITA TERKAIT

Infrastruktur Kerek Indeks Harga Properti

Pembangunan infrastruktur yang gencar dilakukan oleh pemerintah telah memberikan dampak bagi perkembangan harga properti. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh unit…

OJK Revisi Target Pertumbuhan Kredit Bank

    NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merevisi ke bawah target pertumbuhan kredit perbankan menjadi 9 persen…

PERTUMBUHAN PENDAPATAN

kiri ke kanan. Direktur PT Indoritel Makmur Internasional Tbk Kiki Yanto Gunawan, Presiden Direktur Haliman Kustedjo, Direktur Yunal Wijaya, Direktur…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Imbas Perang Dagang, Indonesia Punya Peluang

NERACA Jakarta – Indonesia dinilai memiliki peluang di tengah bergulirnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Sebab, Indonesia masih…

Dunia Usaha - Industri Daur Ulang Jadikan Limbah Plastik Punya Nilai Tambah

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong peningkatan nilai tambah terhadap limbah plastik dan kertas melalui peran industri daur…

Komisi VI DPR Terima Usul Anggaran Tambahan Kemenperin

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian telah mengusulkan kepada Komisi VI DPR RI mengenai tambahan anggaran sebesar Rp2,89 triliun untuk membiayai…