Faktor Internal-Eksternal Bakal Pengaruhi BI Rate di 2013

NERACA

Jakarta - PT Bank Mandiri Tbk memprediksi tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) akan tetap di level 5,75% pada 2013 mendatang. Pengaruh sektor komoditi menjadi alasan penurunan kredit perbankan tersebut. Chief Economist Bank Mandiri, Destry Damayanti menilai, BI cenderung akan melihat fasilitas simpanan bank Indonesia (Fasbi) ke depan.

“BI Rate diperkirakan tidak akan naik dan tetap di level 5,75%. Instrumen BI tidak hanya suku bunga acuan tetapi koridor bawah dan atas, yaitu fasbi yang justru menjadi panutan pasar,” kata dia di Batam, Jumat. Dia juga mengatakan, suku bunga kredit akan lebih lambat ke depan yang dipengaruhi juga oleh penurunan kredit ke sektor komoditi.

Selain itu, Fasbi tersebut disalurkan ke sektor otomotif, properti, dengan sektor-sektor tersebut sensitif terhadap siklus bisnis. Destry memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 6,5% hingga 2013. Hal ini didukung dari faktor eksternal, yakni pertumbuhan ekonomi China yang diprediksikan tumbuh 8% ke depan.

Pertumbuhan ekonomi didorong dari kebijakan moneter pemerintah Tirai Bambu itu dengan menurunkan suku bunga. “Mereka melakukan stimulus terhadap 2012 ini, dan dengan ada sedikit perbaikan di emerging countries sheingga mempengaruhi ekspor,” demikian dia memaparkan.

Secara terpisah, Chief Economist PT Bank Negara Indonesia Tbk, Ryan Kiryanto menerangkan, BI Rate tahun depan justru diprediksi akan mengalami kenaikan pada kisaran 6% dari level saat ini yang sebesar 5,75%. Hal itu akan terjadi jika tahun depan terjadi kenaikan inflasi menembus 5,5%.

Menurut dia, sejumlah kemungkinan naiknya inflasi bakal terjadi yang dipicu kenaikan tarif dasar listrik (TDL) sebesar 15% diselingi kenaikan harga barang. Selain itu, ada kenaikan ongkos angkutan umum atau transportasi. Sehingga dengan pertimbangan itu BI bakal mengambil kebijakan menaikkan BI Rate.

"BI Rate mungkin saja naik pada kisaran 6% jika inflasi naik menjadi berkisar 5,5% yang dipicu oelh TDL, harga barang melonjak dan ongkos transportasi naik," kata Ryan, kala ditemui saat Banker’s Dinner, pekan lalu. Akan tetapi, kata dia, bisa saja BI Rate tidak naik. Namun dirinya melihat bahwa strategi BI justru menaikkan bunga fasilitas simpanan Bank Indonesia (Fasbi) menjadi 4,5% sampai 5%.

Minyak dunia

Bahkan, Ekonom OCBC NISP, Gunady Cahyadi menambahkan, inflasi tahun depan diperkirakan bakal menembus level 6,5% dari proyeksi tahun ini yang sebesar 4,5%. "Tahun depan inflasi bisa naik sampai 6,5% akibat perkiraan kenaikan harga minyak dunia yang akan berdampak pada kenaikan subsidi pemerintah," ujar dia.

Gunady mengungkapkan, perkiraan adanya kenaikan tingkat inflasi di 2013 ini tentu akan berdampak ke BI Rate yang menurut dia, juga diperkirakan akan ikut naik dari level sekarang, 5,75%. Namun, dirinya enggan menyebut angka kenaikan tersebut.

Di sisi lain, sambung Gunady, nilai tukar rupiah di 2013 juga diperkirakan sedikit berprospek negatif. Namun, untuk jangka pendek diprediksi rupiah masih di kisaran 10%-15% undervalued (nilainya di bawah harga normal) terhadap dolar AS.

"Ini terjadi karena posisi net ekspor Indonesia yang masih sangat lemah. Sementara masih banyak publik yang membutuhkan dolar AS, dan yang mendapat dolar AS itu sedikit. Akibatnya, likuiditas dolar AS akan menjadi sangat tipis," terang Gunady.

Gubernur BI, Darmin Nasution mengaku optimis level BI Rate saat ini di 5,75% mampu menghidupkan sumber-sumber pembiayaan domestik terutama yang berasal dari sektor perbankan. "Level 5,75% disertai dengan suku bunga kredit secara bertahap mampu menghidupkan sumber pembiayaan domestik terutama berasal dari sektor perbankan," jelasnya. [dias/ria]

BERITA TERKAIT

Menilik Pengaruh Eksternal Terhadap Rupiah

Oleh: Calvin Basuki Perekonomian global ketika memasuki tahun 2018 mengalami perubahan yang lebih dinamis dibandingkan beberapa tahun sebelumnya akibat normalisasi…

KY: Dua Faktor Penyebab Pelanggaran Etika Hakim

KY: Dua Faktor Penyebab Pelanggaran Etika Hakim NERACA Jakarta - Hasil analisis Komisi Yudisial (KY) memperlihatkan terdapat dua faktor penyebab…

BEI Bakal Rilis Indeks Saham-Saham Likuid - Genjot Pertumbuhan Investor

NERACA Jakarta – Dalam rangka menggenjot pertumbuhan investor lokal lebih banyak lagi dan transaksi di pasar lebih likuid, PT Bursa…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

CIMB Group Jaring Talenta Bidang Digital

  NERACA   Jakarta - CIMB Group Holdings Berhad (CIMB Group) menyelenggarakan CIMB 3D Conquest, kompetisi yang bertujuan mendapatkan dan…

Persiapan Pertemuan IMF – World Bank Hampir Matang

      NERACA   Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhur Binsar Pandjaitan mengatakan persiapan penyelenggaraan Pertemuan Tahunan IMF-World…

Mandiri Utama Finance Luncurkan Produk Syariah

      NERACA   Jakarta – Melihat potensi pasar yang besar, PT Mandiri Utama Finance (MUF) meluncurkan produk pembiayaan…