Likuiditas Tak Masalah, Mandiri Siap Terapkan Basel III

NERACA

Batam - Perbankan global mesti siap menerapkan Basel III pada 2013 mendatang. Meskipun perbankan di Amerika Serikat (AS) dan Eropa mengaku belum siap, namun sepertinya hal itu tidak berlaku bagi perbankan Indonesia.

Ditemui saat media gathering di Batam, pekan lalu, Sentot A Sentausa, Direktur Risk Management PT Bank Mandiri Tbk, mengaku kalau pihaknya siap menerapkan Basel III. Menurut dia, alasan kesiapan tersebut dikarenakan perbankan nasional tidak memiliki masalah dalam nominal permodalan.

"Saya kira Indonesia siap menghadapi Basel III. Kalau AS kan karena masih memperhitungkan apa manfaat untuk bisnis mereka," ungkap Sentot. Lebih lanjut dia menjelaskan, penerapan Basel III mesti dilihat dalam konteks kebutuhan.

Dia menilai ketidaksiapan perbankan AS lebih ke pertimbangan kepentingan nasional mereka. Sentot mengungkapkan, perbankan Indonesia juga harus memiliki buffer untuk mengelola modal dalam rangka menghadapi Basel III. Oleh karena itu, persoalan likuiditas menjadi penting dalam pelaksanaan Basel III serta untuk perkembangan bisnis bank ke depannya.

Pasalnya tidak semua bank mempunyai likuiditas yang besar. "Likuiditas memang harus menjadi perhatian khusus. Tapi kita harus lihat lagi konteks ke-Indonesia-an. Kita kan berbeda dengan negara-negara lainnya. Coba lihat dalam struktur balance sheets bank kita. Di sana tidak ada masalah. Kita semua benar-benar ter-manage dengan baik. So, likuiditas tidak terlalu kompleks," papar dia.

Semakin terbatasnya likuiditas perbankan, kata Sentot, tercermin dari tingkat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang selama enam tahun terakhir hanya berkisar 16% per tahun. Hal ini jauh lebih kecil dari pertumbuhan kredit yang sudah mencapai 21% per tahun dalam periode yang sama.

“Misalnya, untuk memberikan kredit 100 rupiah, maka kita harus punya modal minimal delapan rupiah, bukan. Padahal, untuk memenuhi likuiditas pasti bank akan mencari sumber dana dari DPK. Hanya saja, mungkin harus dilihat sekarang ini imbalance-nya itu dimana. Apakah di size, profil deposito, atau di struktur funding-nya,” kata dia, menerangkan.

Genjot dana murah

Sementara Chief Financial Officer and Managing Director Bank Mandiri, Pahala N Mansury menambahkan, Mandiri akan mengejar dana murah (giro dan tabungan) untuk memperbaiki profil DPK. Rasio dana murah Bank Mandiri, kata dia, sudah mencapai 63% dari jumlah keseluruhan DPK.

“Selain akan menumbuhkan dana murah, perlu juga kita mempertimbangkan bagaimana penerbitan obligasi (surat utang) rupiah, yang mungkin akan dilakukan di akhir 2012 atau awal 2013. Ini melihat kebutuhan likuiditas kita,” jelas Pahala.

Dia menerangkan bahwa pinjaman dan obligasi dalam bentuk rupiah memang penting untuk perseroan pada tahun depan. “Memang dengan adanya pertumbuhan kredit rupiah yang lebih tinggi lagi di tahun depan, juga LDR kita yang sudah mencapai 84%, maka kita perlu memiliki likuiditas jangka panjang,” ungkapnya. [ria]

BERITA TERKAIT

Bank Syariah Mandiri Siapkan IPO di 2019 - Dinilai Momentum Tepat

NERACA Jakarta – Menyusul beberapa bank syariah yang sudah go public atau mencatatkan sahamnya di pasar modal lewat penawaran umum…

Sharp Siap Rajai Pasar Pompa Air - Perkenalkan Empat Tipe Baru

NERACA Jakarta– Sesuai komitmen yang terus dijaga PT Sharp Electronics Indonesia untuk menjadi pangsa pasar nomor satu di tanah air,…

PLN: KPK Harus Kedepankan Azas Praduga Tak Bersalah

PLN: KPK Harus Kedepankan Azas Praduga Tak Bersalah NERACA Jakarta - Direksi PT PLN (Persero) menegaskan bahwa perusahaan menghormati proses…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Bank Belum Penuhi Rasio Kredit UMKM

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat sekitar 20 persen dari total bank umum domestik belum…

LPDB Sederhanakan Persyaratan Pengajuan Pinjaman Dana Bergulir

  NERACA   Tangerang - Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDB-KUMKM) menyederhanakan kriteria dan…

Pembiayaan BTPN Syariah Tumbuh 19,1%

  NERACA   Jakarta - PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk (BTPN Syariah) hingga akhir Juni 2018 membukukan pembiayaan…