Ekonom Peringatkan Waspadai Krisis 2014

NERACA

Jakarta – Krisis ekonomi Eropa dan Pemilu 2014 dikhawatirkan akan memicu krisis ekonomi Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh lembaga swadaya masyarakat Bright Indonesia Institute di Jakarta, Senin (26/11).

“Kinerja makroekonomi pada 2013 masih amat baik. Namun gejala untuk menjadi buruk segera terlihat. Jika tidak segera diantisipasi, bisa menimbulkan perlambatan, bahkan bisa jadi menghentikan kecenderungan perbaikan selama tiga tahun terakhir,” kata Senior Researcher Bright Indonesia Awalil Rizky.

Rentannya perekonomian global bisa menjadi gangguan yang serius yang pada akhirnya menyeret ekonomi Indonesia menuju krisis 2014. Lebih-lebih pada tahun tersebut akan dilangsungkan pemilu legislatif dan pemilihan presiden. Sedikit banyak, itu akan membuat kondisi sosial politik labil yang tentu akan memberikan efek negatif pada perekonomian nasional.

Menurut Awalil, krisis Eropa mempunyai dampak yang kuat terhadap Indonesia. “Memang tidak berdampak langsung ke Indonesia. Tetapi jika Jepang dan China yang punya hubungan kuat dengan Indonesia juga mempunyai hubungan kuat terhadap Eropa, maka tetap saja akan berefek,” jelas dia.

Secara teks book, kata Awalil, memang perekonomian Indonesia sudah baik. “Tetapi tiga tahun ke belakang, kondisi yang baik itu belum bisa dimaksimalkan. Sekarang kesempatannya tinggal satu tahun sebelum gejolak politik 2014. Otoritas ekonomi harus melakukan langkah riil,” ujar Awalil.

Menurut Awalil, otoritas ekonomi terlalu berhati-hati untuk government spending. Harusnya bisa lebih produktif lagi. “Tetapi government spending yang untuk investasi, bukan untuk konsumsi,” jelas dia.

Managing Director Bright Indonesia Lukman Hakim merentang waktu lebih jauh lagi ke 2015. “Waktu kita hanya tersisa setahun lagi, karena 2014 Indonesia akan melangsungkan pemilu dan di 2015 sudah diberlakukan Asean Free Trade Are,” kata Lukman.

Bright Indonesia membuat perkiraan untuk ekonomi Indonesia pada 2013. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2013 bisa tergelincir sampai 5,9%,” kata Awalil.

Inflasi diprediksi akan berada di kisaran 5%. Neraca pembayaran internasional akan mengalami defisit sebesar US$ 3-5 miliar. Kurs rupiah terhadap US$ sebesar Rp 9.800. Angka pengangguran terbuka hanya akan sedikit turun di tingkat 6%.

Berbeda dengan prakiraan Bright Indonesia, Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) Aviliani di tempat yang berbeda mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi masih akan tumbuh di atas 6%. “Dengan mengandalkan konsumsi domestik, pemerintah tidak melakukan apa-apa saja sudah bisa 6%. Apalagi pemerintah melakukan sesuatu. Bisa lebih,” jelas Aviliani.

BERITA TERKAIT

Waspadai Defisit Perdagangan

Data BPS mencatat neraca transaksi perdagangan Indonesia (NPI) pada akhir Desember 2018 defisit US$8 miliar lebih, kontras dengan periode akhir…

Waspadai Upaya KKB Ganggu Kinerja Pemerintah di Papua

  Oleh:  Aditya Pratama, Mahasiswa Universitas Indonesia Keberadaan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) diperkirakan akan menjadi  penghambat bagi pembangunan di wilayah…

Waspadai Manuver Gunakan Modus Hoaks

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo meminta masyarakat mewaspadai berlanjut manuver politik yang menggunakan modus kabar bohong atau hoaks karena kemungkinan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

LPEI Dukung Pembiayaan Ekspor Kereta ke Bangladesh

  NERACA   Jakarta - Lembaga Pemerintah Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank memberikan pembiayaan menggunakan skema National Interest Account…

Cara Pemerintah Turunkan Angka Kemiskinan 9%

      NERACA   Jakarta - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas berharap pada akhir tahun 2019 angka persentase kemiskinan di…

Hongkong Ingin Tingkatkan Perlindungan TKI

    NERACA   Jakarta - Sekretaris Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Hongkong, Law Chi Kwong mengunjungi Indonesia dengan misi bertukar…