Industrialisasi Kelautan Butuh Sentuhan “Ekonomi Biru”

NERACA

Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengatakan, proses percepatan dan perluasan pembangunan sektor kelautan dan perikanan membutuhkan sentuhan dari prinsip-prinsip blue economy (ekonomi biru). Penerapan blue economy ini, selain diyakini balak meningkatkan pendapatan industri di sektor kelautan, juga merupakan program yang pro lingkungan.

“Prinsip-prinsip blue economy sangat cocok untuk diterapkan di dalam pembangunan sektor kelautan dan perikanan sehingga mampu meningkatkan nilai tambah (value added) yang dapat berdampak pada meningkatnya pendapatan industri dan para pelaku usaha kelautan dan perikanan dengan tidak merusak lingkungan,” jelas Sharif di Jakarta, seperti tertuang dalam rilisnya yang dikutip Neraca, Senin (26/11).

Menurut Sharif, Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar sehingga konsepsi tersebut dapat menjadi acuan pembangunan kelautan dan perikanan yang berbasiskan pada program integrated coastal and ocean management.

Selain itu, Menteri Kelautan dan Perikanan menegaskan, prinsip-prinsip yang terkandung di dalam blue economy serta strategi industrialisasi kelautan dan perikanan turut mengakomodasi kepentingan para nelayan. “Kedua kebijakan tersebut akan berpengaruh terhadap penguatan posisi tawar (bargaining position) para nelayan,” tuturnya.

Seperti diketahui, KKP ingin menjadikan sektor kelautan dan perikanan sebagai pondasi pembangunan nasional serta sebagai salah satu sumber ketahanan pangan Indonesia. Pembangunan sektor kelautan dan perikanan mengacu pada keseimbangan antara upaya pertumbuhan global dengan pembangunan berwawasan lingkungan.

Karena itu, KKP menempuh langkah strategis dengan menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) untuk memperkuat dan meningkatkan pemahaman mengenai konsep blue economy. Forum tersebut turut menghadirkan pakar-pakar disektor kelautan dan perikanan, termasuk inisiator sekaligus penulis buku tentang blue economy asal Belgia, Gunter Pauli.

Gunter, menurut Sharif, merupakan sosok penulis sekaligus pelaku bisnis yang telah mendalami pengetahuan di bidang lingkungan hidup. Pemerintah Indonesia ketika di forum internasional yakni Konferensi Pembangunan Berkelanjutan PBB Rio+20 di Rio de Janeiro, Brasil, mengenalkan gagasan blue economy kepada dunia internasional agar berpaling ke laut.

Sajikan Solusi

Dalam kesempatan yang sama, Pendiri Zero Emmission Research Initiative (ZERI) Gunter Pauli, menawarkan tiga point penting di dalam konsep blue economy kepada Pemerintah Indonesia. Tiga point tersebut yakni terkait kepedulian sosial (sosial inclusiveness), efesiensi sumber daya alam, dan sistem produksi tanpa menyisakan limbah. “Konsepsi blue economy dapat menunjukkan dunia akan masa depan yang cerah, menyajikan solusi yang tidak hanya baik tetapi juga lebih murah dan lebih kompetitif,” jelas Gunter.

Selain itu, Gunter menambahkan, konsepsi biru dapat memberikan solusi terhadap penyediaan lapangan pekerjaan, ketahanan pangan, melindungi lingkungan dari kerusakan sekaligus memberikan keuntungan kepada masyarakat yang terlibat.

Konsepsi blue economy dapat menawarkan platform yang luas dari ide-ide inovatif yang telah diimplementasikan di dunia, sehingga dapat menginspirasi kaum muda dan mendorong kemauan untuk, berwirausaha di setiap sektor bisnis kelautan dan perikanan melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia secara berkelanjutan.

Dia mencontohkan, keberhasilan Pemerintah Maroko dalam memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan dengan prinsip ekonomi biru dan teknologi yang ramah lingkungan, mampu meningkatkan pendapatan nelayan maupun perekonomian negaranya. “Kendati Maroko sebuah negara kecil, mereka mampu meningkatkan pemanfaatan SDA hingga berlipat ganda, sekaligus meningkatkan pendapatan nelayan yang mencapai lima kali lipat,” ungkapnya.

Di samping itu, ia pun menyampaikan sarannya agar, pemerintah Indonesia dapat melirik rumput laut untuk digunakan di dalam produksi tekstil. “Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan rumput laut sebagai bahan substansi pengganti kapas yang bersahabat dengan lingkungan,” jelasnya.

Gunter Pauli telah menelurkan sebuah buku yang berjudul Ekonomi Biru: 10 tahun - 100 inovasi - 100 juta pekerjaan. Buku ini mengungkapkan tujuan akhir dari model ekonomi biru yang akan menggeser masyarakat dari kelangkaan menuju kelimpahan dengan apa yang kita miliki "with what we have".

BERITA TERKAIT

Butuh Kenyamanan, Hidupkan Lagi KRL Ekspres

Kami sudah 20 tahun naik KRL Commuterline, ternyata sampai sekarang masih amburadul kondisinya. Faktanya setiap hari kepadatan KRL sudah di…

Pelaku IKM Harus Jadi Aktor Ekonomi

Pelaku IKM Harus Jadi Aktor Ekonomi NERACA Sukabumi – Guna meningkatkan  kesejahteraan dan pengembangan pangsa pasar pelaku Industri Kecil Menengah…

PENYEBAB PERTUMBUHAN EKONOMI TAK BISA TUMBUH TINGGI - Bappenas: Produktivitas SDM Masih Rendah

Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Prof Dr. Bambang Brodjonegoro kembali mengingatkan, pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Rendahnya Produktivitas Tebu Picu Tingginya Harga Gula

NERACA Jakarta – Rendahnya produktivitas tebu dapat dilakukan untuk menekan impor gula. Saat ini, harga gula lokal tiga kali lebih…

Keterampilan Tenaga Kerja di Sektor Industri Terus Dipacu

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian sedang gencar memacu keterampilan atau kemampuan dari tenaga kerja industri di Indonesia sesuai kebutuhan era…

Pendidikan Vokasi Industri Wilayah Sulawesi Diluncurkan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meluncurkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan…