Pasar Modal Tidak Perlu Khawatirkan Capital Outflow

NERACA

Jakarta–Kekhawaritan bakal terjadinya arus dana capital outflow dari pasar modal seiring lantaran keyakinan pemulihan ekonomi Eropa, dinilai suatu hal yang tidak perlu ditakutkan.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito mengatakan, tidak ada yang perlu ditakuti terkait potensi capital outflow karena masih tingginya jumlah investor asing dibandingkan investor domestik. Pasalnya, secara rata-rata transaksi setiap tahunnya investor asing di pasar modal selalu melakukan net buy, “Artinya, mereka keluar pun untuk sementara dan kembali lagi untuk berinvestasi di saham,”katanya di Jakarta kemarin.

Menurutnya, saat ini peringkat Indonesia masih bertahan di level investment gradesetelah kemarin Fitch menetapkan peringkat utang Indonesia di level BBB-, “Ini positif, karena ternyata peringkat Indonesia masih bertahan dibandingkan negara-negara lainnya,” tegas Ito.

Seperti diketahui, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida, sebelumnya menuturkan saat ini jumlah investor domestik di pasar modal telah mencapai 45% dan investor asing tinggal 54%.Meski masih didominasi Asing, jumlah Investor domestik tercatat sudah naik dari posisi tahun lalu yang hanya 30%. “Tahun lalu investor domestik cuma 30% dan asing mencapai 70%,” kata Nurhaida.

Dengan masih banyaknya investor asing, tambahnya, resiko terjadinya capital outflow bisa saja terjadi dan menjadi risiko tersendiri. “Jadi, risiko tersendiri jika aktivitas pasar modal lebih banyak dilakukan pemodal asing, salah satunya capital outflow,” jelasnya.

Maka untuk meningkatkan daya saing industri pasar modal, OJK kata Nurhaida, akan menerapkan beberapa kebijakan guna memajukan pasar modal Indonesia. Menurutnya, ada beberapa program prioritas OJK di bidang pasar modal. Dia menjelaskan, ada tiga prioritas utama yang nantinya menjadi pipeline kebijakan OJK di pasar modal. "Pertama capital market depending. Itu meningkat peran pasar modal sebagai sumber pembiayaan, menyeimbangkan asat sekunder SUN dan pengawasan, mengembangkan pasar modal berbasis syariah, dan meningkatkan efisiensi dan kredibilitas sistem," katanya.

Program kedua, yakni meningkatkan market intergrity. Ini dilakukan agar dapat meningkatkan keamanan dana nasabah. "Salah satunya meningkatkan investor area, perlindungan dana pemodal, investor protector fund, serta meningkatkan kualitas pelaku industri," jelas dia.

Sedangkan program ketiga, yakni peningkatan kualitas law enformance dia menjelaskan, program ini akan meningkatkan kualitas dan kuantitas pemeriksaan dan penyidikan. "Dengan adanya program ini, maka kita harap pasar modal kita bisa lebih dipercaya, sehingga makin banyak yang berminat," tutur Nurhaida.

Selain itu, dia mengatakan akan mengaplikasi sistim pemeriksaan dan penyidikan, serta melaksanakan kegiatan intelegen. Hal ini dilakukan lantaran dalam melakukan enforcement ada beberapa informasi yang tidak bisa OJK dapatkan. "Terakhir adalah membangun kerjasama yang efektif dengan penegak hukum lain,"paparnya. (lia)

BERITA TERKAIT

Quona Capital Berinvestasi Di KoinWorks

  NERACA   Jakarta - Accion Frontier Inclusion Fund, yang dikelola oleh Quona Capital, mengumumkan pendanaan kepada KoinWorks, platform digital…

BPR Diminta Konsolidasi Untuk Perkuat Modal

    NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta bank perkreditan rakyat (BPR) yang tidak bisa memenuhi syarat…

PASAR KREATIF

Pengrajin menata wayang kertas buatannya di salah satu stan dalam Pasar Kreatif di depan Balaikota Malang, Jawa Timur, Rabu (20/2/2019).…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

PPRO Berikan Kran Air Siap Minum di Semarang

Sebagai bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) pada lingkungan, PT PP Properti Tbk (PPRO) bersama…

Tawarkan IPO Rp 178 -198 Persaham - Interfood Bidik Kapasitas Produksi 10.600 Ton

NERACA Jakarta –Perusahaan produsen cokelat, PT Wahana Interfood Nusantara menawarkan harga penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO)…

Mandom Targetkan Penjualan Tumbuh 10%

Sepanjang tahun 2019, PT Mandom Indonesia Tbk (TCID) membidik pertumbuhan penjualan sebesar 5% hingga 10%. Hal itu ditopang pertumbuhan penjualan…