Industri Pengolahan Susu Masih Tergantung Bahan Baku Impor

NERACA

Jakarta – Sejumlah kendala menghadang perkembangan industri susu lokal, mulai dari rendahnya tingkat produksi, mahalnya harga, hingga masih sangat tingginya kandungan bakteri. Kondisi ini membuat produsen susu olahan lebih banyak menggunakan bahan baku impor dari Selandia Baru dan Australia.

Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Pengolah Susu (AIPS) Syahlan Siregar mengatakan, selama ini enam perusahaan anggota AIPS konsisten menyerap susu produksi lokal meski harganya lebih tinggi dari susu impor. Produsen susu olahan dalam negeri membeli susu produksi lokal pada kisaran harga Rp3.800—4.100 per liter, sementara harga susu impor sudah mencapai Rp3.700 per liter.

“Harga pembelian susu produk dalam negeri tersebut belum termasuk biaya pemrosesan seperti pasteurisasi yang diperkirakan mencapai Rp300—400 per liter,” kata dia di Jakarta, akhir pekan lalu.

Syahlan juga mengatakan bahwa meski harga susu impor lebih murah ketimbang susu lokal, para anggota AIPS memiliki ‘ikatan batin’ dengan para peternak sapi binaan untuk menyerap susu mereka. Untuk membina peternak, kata dia, butuh dana sekitar Rp20 miliar per tahun.

Produksi Rendah

Menurut Syahlan, kebutuhan susu untuk industri dan perusahan besar mencapai sekitar 1.600 1.700 ton per hari sehingga susu dari peternak lokal terserap semuanya. “Namun yang menjadi kendala sampai saat ini adalah peternak susu lokal tidak mampu memenuhi permintaan industri dan perusahaan susu besar,” kata dia.

Senada dengan Syahlan, Direktur Industri Minuman dan Tembakau Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Enny Ratnaningtyas mengatakan bahwa sebagian besar bahan baku susu olahan diimpor dari Selandia Baru dan Australia dengan presentase impor sekitar 75% dari total kebutuhan industri per tahun.

Dari enam perusahaan besar anggota AIPS, imbuh dia, hanya lima yang mampu menyerap susu lokal. Kelima anggota tersebut adalah PT Nestle Indonesia, PT Frisian Flag Indonesia (FFI), PT Sari Husada Tbk, PT Indolakto, dan PT Ultra Jaya Milk Industry Tbk.

Masalah lain dalam proses produksi susu lokal adalah kandungan bakteri yang masih sangat tinggi. Kondisi ini terjadi karena minimnya fasilitas infrastruktur untuk produksi susu yang ideal di kalangan peternak. "Masih banyak kandungan bakteri yang membuat produksi susu peternak tak layak diproses industri. Kita harus cari cara untuk turunkan jumlah bakteri produksi susu agar bisa diolah," kata Direktur Pengolahan, Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP), Kementerian Pertanian Nazarudin.

Butuh Insentif

Di sisi lain, Nazarudin mengutarakan, untuk menggenjot produksi susu diperlukan pembinaan pada sentra-sentra produksi susu. “Pasalnya, pemeliharaan ternak sapi, khususnya sapi perah, membutuhkan keahlian khusus yang berbeda dengan perlakuan ternak yang lain,” terang dia.

Menurut Nazarudin, jumlah produksi susu sapi di Indonesia rata-rata hanya 10-12 liter per ekor per hari. Padahal, potensi produksi susu sapi jika dikelola maksimal bisa mencapai 40 liter per ekor per hari. "Sapi perah itu lebih sensitif, perlakuan harus lebih baik, termasuk penyediaan pakan. Penyediaan pakan sangat penting. Sebanyak 70% biaya produksi usaha sapi perah adalah untuk pemenuhan pakan," ujar Nazarudin.

Sementara Ketua Dewan Persusuan Nasional (DPN) Teguh Boediyana mengatakan, peraturan bea masuk (BM) bahan baku susu olahan, sangat memengaruhi daya saing industri pengolahan susu. “Agar industri susu dalam negeri bisa bersaing, pemerintah perlu memberikan insentif bagi industri dalam negeri yang bisa menyerap bahan baku lokal. Selama ini, industri susu telah masuk sebagai salah satu industri prioritas nasional,” tuturnya.

Corporate Communication Manager PT Frisian Flag Indonesia (FFI) Anton Susanto mengatakan, FFI sebenarnya juga sudah mendorong produksi susu dari peternak lokal baik dari sisi volume maupun kualitasnya. Untuk peternak, FFI menerapkan Program Pengembangan Peternak Sapi Perah (DDP-Dairy Development Program) di Indonesia.

DDP FFI diberikan dalam bentuk teknis seperti bantuan alat-alat peternakan, laboratorium, pendingin dan pengolahan susu serta bantuan pendidikan yang melibatkan pakar dari pusat pendidikan lokal hingga dari Belanda.

BERITA TERKAIT

Hingga Akhir Tahun 2018, Udang Masih Jadi Primadona Ekspor Sektor Perikanan

  NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat hingga akhir tahun ekspor hasil perikanan jelang akhir tahun 2018…

Mengobati Luka Bakar dengan Bahan Alami

Luka bakar termasuk salah satu jenis luka yang paling sering mampir di tubuh. Luka bakar bisa terjadi saat sedang menggosok…

Industri Sawit Bertahan

Industri kelapa sawit di Indonesia sudah sejak lama menarik reaksi negatif di dalam negeri karena dianggap merusak lingkungan. Hilangnya habitat…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

LBH Minta OJK Tuntaskan Kasus Fintech - LBH DAN YLKI TERIMA BANYAK PENGADUAN PINJAMAN ONLINE

Jakarta- Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta diketahui telah menerima pengaduan 1.330 korban pinjaman online selama kurun waktu 4-25 November 2018.…

PEMERINTAH UBAH PROGRAM PRIORITAS KE PEMBANGUNAN SDM - Presiden: Tanpa Kerja Keras, Jangan Mimpi Negara Maju

Jakarta-Presiden Jokowi menegaskan, tahun depan (2019) pemerintah akan menggeser program prioritasnya dari pembangunan infrastruktur dalam empat tahun terakhir ke sumber…

Kontribusi Ekonomi Digital Bisa Mencapai 8,5% PDB

NERACA Jakarta-Presiden Jokowi optimistis kontribusi ekonomi digital terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini bisa mencapai 8,5%, lebih tinggi dibandingkan…