Permen Propasar

Oleh: Ferry Alfiand

Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Zirconium Indonesia (APZI)

Selain masalah yang sudah dimenangkan Asosiasi Nikel Indonesia (ANI) melalui Mahkamah Agung (MA), sebetulnya masih banyak “bolong” Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 7 Tahun 2012. Permen ini tidak propasar, bahkan mengabaikan pasar.

Hakikat industri dan perdagangan seantero jagat adalah pertukaran barang kebutuhan. Barang yang dibutuhkan di tempat A, namun barang tersebut adanya di tempat B, terjadilah pertukaran/perdagangan. Intinya, ada yang membutuhkan, ada yang bisa memasok, tercipta mekanisme pasar.

Nafas Permen 7, sebetulnya adalah untuk mendorong pasar, mendorong masyarakat Indonesia untuk menikmati keuntungan dalam perdagangan mineral. Tetapi sayangnya, sebagian kebijakan mereka tidak mengena sasaran, alias jauh panggang dari api.

Salah satu “bolong” Permen 7 terjadi pada zirconium (Zr). Mineral ini, diatur dalam Lampiran II poin 7. Untuk zirconium, komoditas yang diatur adalah zirconia (ZrO2+Hf) dengan kadar > 99%. Padahal, dalam percaturan pasar zirconium dunia, konsumsi ZrO2+Hf hanya 10%. Sedikitya 80% pasar zirconium adalah zirconium silikat (ZrSiO4). Lha, koq pasar yang besar malah tak diatur?

Sebetulnya, semua perusahaan anggota asosiasi siap melaksanakan Permen 7, dan siap membangun smelter/pemurnian. Namun, sekarang ini kami justru dilanda kebingungan, sebab berinvestasi untuk membangun smelter untuk memproduksi komoditas yang pasarnya hanya 10%, tidak akan ekonomis.

Jika pengusaha zirconium Indonesia hanya “bertarung” di komoditas yang hanya 10%, tak akan ada investor yang mau membangun pemurnian. Indonesia akan sempoyongan sendiri melawan pemain-pemain besar zorconium dunia. Kita Indonesia hanya menempati urutan empat dalam deposit zirconium, setelah Australia, Afrika Selatan, China, baru Indonesia. Selebihnya tersebar dari Brasil, Ukrania dan India.

Maka sudah seharusnyalah Menteri ESDM segera merevisi lampiran, yaitu dengan mencantumkan derivatif/turunan mineral yang dibutuhkan oleh pasar. Industri/perdagangan hanya berlangsung manakala produk industri dibutuhkan konsumen. Mengatur yang “tidak banyak dibutuhkan konsumen,” hanya kesia-siaan semata.

Calon investor untuk membangun pemurnian untuk zirconium, 100% umumnya adalah investor asing, sehingga kebijakan yang tidak dilaksanakan secara konsisten, akan berdampak buruk bagi pembangunan iklim investasi di Indonesia. Kami khawatir, terulang lagi seperti penerbitan Permen ESDM Nomor 11/2012, tentang revisi Permen 7.

Perlu diketahui publik, setelah menerbitkan Permen 7, sebetulnya Kementerian ESDM menyadari bahwa Permen 7 belum bisa dilaksanakan konsisten. Akhirnya, diterbitkan lagi peraturan serupa, yang isinya hanya merupakan penambahan dua pasal terhadap Permen tersebut. Konsisten, sangat diperlukan. Bukan konsisten untuk inkonsisten.

BERITA TERKAIT

Permen KP 56/2016 Demi Lindungi Stok Kepiting dan Rajungan

NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) meluruskan anggapan keliru terkait pemberlakuan Permen KP No. 56 tahun 2016. Direktur…

KLHK Target Permen Pengurangan Sampah Plastik 2018

KLHK Target Permen Pengurangan Sampah Plastik 2018 NERACA Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menargetkan Peraturan Menteri Lingkungan…

DINILAI MERUSAK KETAHANAN ENERGI NASIONAL - IRESS Minta Jokowi Batalkan Permen 23/2018

Jakarta-Indonesia Resources Studies (IRESS) meminta Presiden Jokowi membatalkan Permen ESDM No.23 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Wilayah Kerja Migas yang berakhir…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Batam Butuh Regulasi Pasti

  Oleh: Dr. Enny Sri Hartati Direktur Indef Pertama, kita sering gagal paham. Dulu pak Habibie membangun Batam adalah sebagai…

Investasi, Divestasi, Privatisasi

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Mekanisme bisnis di bidang apa saja akan berjalan melalui proses yang umumnya…

Nikmatnya Koruptor

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Peringatan Hari Anti Korupsi Sedunia atau Hakordia 9…