Industri Komponen Kapal Harus Bisa Tangkap Peluang - Pasar Makin Cerah

NERACA

Batam - Staf Ahli Menteri Perindustrian bidang Pemasaran dan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN), Ferry Yahaya terus mendorong pemakaian komponen lokal untuk industri kapal di Indonesia. Pasalnya satu galangan kapal ukuran kecil setiap tahun belanja komponen dan besi baja sekitar 12 juta dolar Singapura atau setara dengan Rp 80 miliar sehingga jika ke-86 industri galangan kapal di Batam masing-masing belanja Rp 100 miliar, nilai transaksi penjualan komponen mencapai Rp 8,6 triliun dan hampir 98% komponen kapal ini di impor dari beberapa negara.

"Nilai transaksi dari industri komponen kapal ini sangat besar, jadi bagaimanapun caranya industri komponen lokal, harus bisa mengambil peluang yang besar ini," ungkap Ferry saat melakukan kunjungan kerja di Batam, akhir pekan lalu.

Lebih jauh lagi Ferry memaparkan,sebenarnya industri komponen untuk kapal ini bisa dibuat di industri dalam negeri, khususnya di Tegal, Jawa Tengah, namun ada beberapa kendala yang cukup berat,seperti biaya pengiriman dari Tegal ke Batam jauh lebih mahal dibanding dari Singapura. Demikian juga waktu pengiriman. Impor dari Singapura pengirimannya hanya hitungan jam sementara dari Pulau Jawa bisa berminggu-minggu. Oleh karena itu, Ferry bertekad akan memajukan industri komponen lokal dan berkoordinasi dengan beberapa kementerian terkait untuk mengatasi masalah tersebut, sehingga kebutuhan komponen kapal ini bisa dipasok dari dalam negeri.

Di tempat yang sama, Herman Tan, Direktur PT Asia Pertama Abadi selaku distributor komponen kapal di Batam mengungkapkan kalau beberapa tahun terakhir ini, kebutuhan bahan baku dan komponen kapal di Batam, Kepulauan Riau, melonjak pada tahun ini seiring dengan peningkatan permintaan pembangunan dan reparasi kapal, baik dari perusahaan pelayaran dan migas lepas pantai nasional maupun asing.

Herman juga mengungkapkan permintaan kebutuhan komponen kapal melonjak karena didorong oleh penurunan harga bahan baku pelat baja dunia yang cukup signifikan. "Harga pelat baja turun dari sekitar Sin$ 1.000 per ton pada awal tahun menjadi Sin$790 per ton saat ini. Kondisi ini sepertinya dimanfaatkan oleh perusahaan pelayaran ataupun lepas pantai untuk segera merealisasikan pembangunan kapal karena biaya lebih murah," papar Herman.

Ironisnya,ujar Herman, lonjakan permintaan bahan baku itu hampir semuanya masih dipenuhi dari impor karena industri dalam negeri belum mampu menyediakan produk yang dibutuhkan dengan harga kompetitf dan pengiriman yang cepat. Saat ini, ungkap Herman, hampir 98% bahan baku dana komponen kapal masih diimpor, terutama dari Singapura dan China.

"Berdasarkan pemantauan kami, pengapalan pelat baja saja dari Singapura bisa empat trip per hari. Setiap pengiriman, kapal itu mengangkut sekitar 3.000 ton, sehingga total volume material itu yang dikirim ke galangan di Batam mencapai 12.000 ton per hari," ujarnya.

Herman mengatakan para pemasok komponen kapal di Batam yang umumnya importir selama ini kesulitan memperoleh komponen lokal dalam jumlah besar dan cepat, meskipun dia mengakui kualitas produk dalam negeri tidak kalah dibandingkan dengan produk impor.

"Kalau impor,kami bisa mendapatkan komponen dalam waktu 1x24 jam, sedangkan dari dalam negeri bisa 1 bulan. Apalagi harga produk impor lebih murah. Kondisi ini memang menjadi dilema bagi kami,” jelasnya.

Menurut dia, industri galangan di Batam yang kini berjumlah lebih dari 80 perusahaan membutuhkan komponen dengan jumlah yang terus meningkat. baik untuk pembangunan kapal baru maupun reparasi. "Potensi ini seharusnya bisa dimanfaatkan oleh industri dalam negeri. Kami sebagai pemasok pun sebenarnya lebih memilih produk lokal jika harganya bersaing dan delivery cepat,” tambahnya.

Herman juga menyayangkan, kenapa hal ini bisa terjadi. Oleh karena itu, dia siap membantu untuk memajukan industri komponen lokal dari Tegal bisa memenuhi kebutuhan industri komponen kapal. Untuk itu, katanya, agar produk Tegal bisa dipasarkan di Batam, pihaknya bersedia melakukan kerjasama dengan produsen di Tegal dengan cara membuka industri sejenis di Batam. Jika industri itu ditumbuhkan di Batam, biaya operasional dan biaya distribusi otomatis jauh lebih ringan.

Lebih jauh lagi Herman mengungkapkan pihaknya sedang menjajaki dan kami mengharap adanya bantuan serta dukungan dari pemerintah sehingga dapat segera membuka industri komponen kapal dengan mendatangkan sumber daya manusia dan teknisi dari Tegal ke Batam, bisa segera terwujud.

Herman menambahkan bahwa pihaknya telah menyediakan lahan seluas 5 hektare untuk lokasi workshop dan siap mendatangkan mesin pengolah. ‘’Kami sudah siap untuk benar-benar mendekatkan produsen Tegal dengan pasar,"tegas Herman.

Butuh Investasi

Sebelumya Dirjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Budi Darmadi memaparkan kalau saat ini Indonesia membutuhkan investasi sekitar Rp 10 triliun untuk membangun industri komponen galangan kapal hingga 2014.

Budi juga mengatakan, Indonesia idealnya mempunyai 200 unit industri komponen kapal hingga tahun 2014 dari saat ini baru 100 unit. "Jadi, kita masih butuh 100 lagi dengan investasi Rp 50100 miliar per unit agar memenuhi skala ekonomis. Sedangkan kapasitas produksi idealnya sekitar 10 komponen untuk setiap jenisnya per bulan," ujarnya.

Menurut Budi, Indonesia perlu membangun industri komponen kapal agar industri galangan kapal juga lebih mandiri dan menekan impor. Apalagi, 100 industri komponen galangan kapal yang saat ini beroperasi di Tanah Air bukan murni industri komponen. Industrinya saat ini masih menyatu dengan industri galangan kapal.

Budi pun berharap, secara bertahap, semua pekerjaan produksi komponen kapal yang selama ini dipegang oleh industri galangan kapal harus dialihkan sepenuhnya ke industri komponen murni. Selanjutnya, industri utama galangan kapal di Tanah Air akan lebih didorong memproduksi kapal baru atau menjalankan reparasi.

Kemenperin akan terus mendorong pembangunan industri komponen kapal di dalam negeri. Langkah tersebut diperlukan sebagai salah satu strategi untuk memacu industrialisasi galangan kapal nasional. "Karena itu, langkah dan kebijakan kami fokuskan pada upaya penciptaan pasar agar ada repeat order, sehingga industrinya juga efisien," imbuhnya.

Saat ini, lanjut Budi, pihaknya sedang merancang dan mengembangkan program standardized resse/nya, yakni program pembangunan kapal dalam jumlah yang banyak dengan varian yang sedikit.

Budi cukup optimistis dengan prospek industri perkapalan dan komponennya. Apalagi, industri galangan kapal di dalam negeri memiliki kemampuan teknologi yang telah diakui. Bidangbidang yang telah dikuasai di antaranya teknologi untuk sistem kontrolpanel, ruang kemudi, lambung kapal (hull), hingga interior dan sistem komunikasinya.

Tantangannya justru pada ketersediaan modal untuk investasi dan membangun industrinya. "Karena itu, kami sasar penciptaan pasar agar ada repeat order. Ini kami lakukan dengan pararel strategy," tutur Budi.

Direktur Industri Maritim, Kedirgantaraan, dan Alat Pertahanan Direktorat Jenderal Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Soerjono menuturkan, investasi baru pada industri galangan kapal cukup besar dan sehingga cukup banyak investor yang keberatan.

Oleh karena itu pihak Kementerian Perindustrian menyediakan beberapa insentif pajak untuk memacu para investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Pasalnya investor baru harus mengeluarkan dana yang besar untuk membangun galangan dengan berbagai ukuran untuk banyak jenis kapal agar investasinya menguntungkan.

BERITA TERKAIT

Pilpres 2019, Pasar Properti Nasional Diprediksi Tetap Stabil

Pilpres 2019, Pasar Properti Nasional Diprediksi Tetap Stabil NERACA Jakarta - Pasar properti nasional pada tahun 2019 mendatang diprediksi bakal…

Azuz Zenfone Max Pro M2 dan Zenfone Max M2 Masuk Pasar Indonesia

Asus secara resmi memperkenalkan Zenfone Max Pro M2 untuk pasar Indonesia. Penerus Zenfone Max Pro M1 ini menjanjikan performa lebih…

Dunia Usaha - Industri Hijau Bisa Masuk Bagian Program Digitalisasi Ekonomi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian bertekad untuk terus mendorong sektor industri manufaktur di Indonesia agar semakin meningkatkan kegiatan yang terkait…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Minuman Ringan Sudah Terapkan Teknologi HPP

NERACA Jakarta – Industri makanan dan minuman di Indonesia semakin siap menerapkan revolusi industri 4.0 dengan pemanfaatan teknologi terkini. Berdasarkan…

Memacu Manufaktur Lewat Percepatan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan pihaknya berkomitmen untuk membangun industri manufaktur nasional yang berdaya saing global melalui…

Pemerintah Serahkan Bantuan ke 47 Usaha Kreatif

  NERACA Jakarta – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) telah menyerahkan secara simbolis Bantuan Pemerintah untuk 47 pelaku di sektor kreatif.…