Ekspor CPO ke Pakistan Bakal Semakin Meningkat - Dampak Ratifikasi Perdagangan Bebas Terbatas

NERACA

Jakarta - Selepas mengunjungi Konferensi Tingkat Tinggi Developing-8 di Islamabad, Pakistan, pada 19-22 November lalu, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengabarkan rampungnya ratifikasi kesepakatan Perdagangan Bebas Terbatas (Preferential Trade Agreement/PTA) dengan Pakistan.

Gita yakin perdagangan kedua negara, terutama terkait ekspor kelapa sawit Tanah Air ke negeri tetangga India itu bisa meningkat signifikan selepas ratifikasi. Gita menyatakan tanpa PTA itu pun, sebetulnya volume perdagangan antara Indonesia-Pakistan sudah tinggi. Khusus minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO), Indonesia bahkan berhasil mengekspor 400.000 ton per September tahun ini.

Ekspor kelapa sawit tahun lalu telah menurun akibat tertundanya perjanjian perdagangan bebas secara bilateral itu. Jumlah impor kelapa sawit di Pakistan dari Indonesia hanya sekitar 86.000 ton. "Belum berlaku saja trennya sudah naik 60 %. Total perdagangan (Indonesia-Pakistan) sudah US$ 1,1 sekian miliar sampai 9 bulan pertama, mayoritas kelapa sawit, dan saya rasa kalau (PTA) bisa dieefektifkan, bisa meningkat lagi," ujar Gita di kantornya, akhir pekan lalu.

Gita yang kini juga menjadi Ketua Umum Persatuan Bulu Tangkis Indonesia (PBSI) ini menilai jumlah ekspor CPO bisa meningkat drastis tahun depan. "Pasti kita bisa jualan lebih dari 400.000 untuk 9 bulan pertama tahun depan," tegasnya.

Sebetulnya PTA antara Indonesia-Pakistan sudah ditandatangani sejak 20 Januari 2012. Namun proses ratifikasi berlarut-larut karena kedua negara terus berunding mengenai tarif bea masuk produk unggulan masing-masing.

Salah satu isi PTA yang cukup strategis adalah Pakistan menurunkan tarif bea masuk CPO Indonesia. Selain tarif sawit, perjanjian ini juga memberi penyesuaian tarif bea masuk kertas, produk elektronik, dan batu bara. Kementerian Perdagangan mencatat PTA ini meliberalisasi 176 produk dari sisi Indonesia, dan 250 barang asal Pakistan.

Gita menjamin ratifikasi ini tidak akan molor lagi, karena kedua pihak berharap implementasi PTA dapat dilaksanakan secepatnya. Draf yang akan dituangkan dalam peraturan presiden (Perpres) itu saat ini telah ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan dikirim ke Kementerian Keuangan untuk diterbitkan dalam waktu dekat.

"Mereka sangat gembira dengan ditandatanganinya perpres ini. Tinggal implementasi saja, tinggal penyelesaian lampiran, sudah dibahas dengan Kementerian Keuangan, saya sudah menargetkan kalau bisa dalam satu-dua minggu (terbit Perpres)," ungkapnya.

Potensi Ekspor

Keuntungan lain dari ratifikasi PTA ini adalah potensi Indonesia menjual produknya tidak hanya ke Pakistan. Sebab negara mayoritas muslim itu merupakan salah satu distributor utama (hub) yang menyalurkan pelbagai komoditas ke negara sekitarnya di kawasan Asia Tengah."Pakistan ini sebagai hub untuk Afghanistan, Nepal, Iran, untuk kita bisa mengirim produk-produk kita," jelasnya.

Beberapa waktu lalu Mendag juga mengungkapkan negara Arab Saudi dan Pakistan menjadi tujuan ekspor non-migas Indonesia terbesar pada periode Januari hingga Juni 2012. "Arab Saudi dan Pakistan jadi tujuan ekspor tertinggi dimana nilainya berturut-turut mencapai US$ 947,5 juta dan US$ 757,48 juta ," kata Gita.

Sejumlah komoditas ekspor utama Indonesia ke dua negara tersebut antara lain adalah produk otomotif kendaraan roda empat serta kelapa sawit, batu bara dan kacang Pada periode yang sama 2011, nilai ekspor ke Arab Saudi dan Pakistan berturut-turut sebesar US$ 659,79 juta dan US$ 428,98 juta .

Sejumlah negara yang menjadi tujuan ekspor dengan nilai dibawah Arab Saudi dan Pakistan adalah Kenya, Finlandia dan Djibouti. Menurut Gita, nilai ekspor non-migas Indonesia pada semester I-2012 berjumlah US$ 76,826 juta atau turun 2,79 % secara tahun ke tahun.Komoditas utama yang menyumbang angka terbesar adalah bahan bakar mineral dengan nilai US$ 13,955 juta.

Selain itu komoditas lemak dan minyak hewan atau lemak nabati menempati posisi kedua dengan nilai US$ 10,245 juta."Untuk ekspor Indonesia pada bulan Juni 2012 tercatat mencapai US$ 15,4 miliar , turun dari bulan sebelumnya 8,7 %," kata Gita.

Menurut Gita, nilai ekspor tersebut berasal dari ekspor minyak dan gas sebesar US$ 2,8 miliar dan ekspor non-migas US$ 12,6 miliar. Sedangkan pertumbuhan ekspor Indonesia ke luar negeri pada semester I-2012 mengalami penurunan sebesar 1,76 % dari periode yang sama 2011 menjadi US$ 96,884 juta"Penurunan pertumbuhan ekspor tidak hanya terjadi di Indonesia, bahkan ekspor Brazil mengalami kontraksi dibanding periode yang sama pada 2011," jelas Gita.

Pada semester I-2012, China mengalami pelambatan pertumbuhan ekspor menjadi 9,17 % dari sebelumnya 24,01 % sedangkan nilai ekspor Jepang menjadi 4,18 % dari sebelumnya 8,26 %."Pertumbuhan nilai ekspor Brazil menjadi 0,92 % dari sebelumnya 32,65 %,"terang Gita.

Dia menilai penurunan pertumbuhan ekspor beberapa negara tersebut, termasuk Indonesia, diakibatkan menurunnya daya beli pasar tradisional seperti di wilayah Eropa, Amerika Serikat, Jepang dan China.

BERITA TERKAIT

Dampak Perang Dagang - Ekspor MARK Ke Malaysia Berpeluang Naik 7%

NERACA Jakarta – Selalu mencari peluang di tengah tantangan bisnis global adalah strategi pelaku bisnis dan hal inilah yang dilakukan…

Pemohon "Kartu Kuning" di Lebak Meningkat Tajam

Pemohon "Kartu Kuning" di Lebak Meningkat Tajam NERACA Lebak - Pemohon "Kartu Kuning" di Kabupaten Lebak, Banten, setelah lebaran meningkat…

Perang Dagang Diharapkan Tidak Semakin Gerus Ekspor RI

NERACA Jakarta – PT. Bank Central Asia Tbk mengingatkan perlunya antisipasi dari pemerintah agar berlarutnya konflik perdagangan antara Amerika Serikat…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Ini Penjelasan Harga Cabai Merah Stabil Tinggi

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan mencatat harga cabai merah keriting dan cabai merah besar di sejumlah pasar tradisional menunjukkan peningkatan…

Perang Dagang Diharapkan Tidak Semakin Gerus Ekspor RI

NERACA Jakarta – PT. Bank Central Asia Tbk mengingatkan perlunya antisipasi dari pemerintah agar berlarutnya konflik perdagangan antara Amerika Serikat…

Reformasi WTO Untuk Mengembalikan Kredibilitas

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyampaikan reformasi terhadap Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dapat mengembalikan fungsi lembaga tersebut terhadap…