Dana Revitalisasi Mesin Tekstil Diminta Tepat Sasaran

NERACA

Jakarta – Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G.Ismy mengharapkan dana revitalisasi mesin tekstil dan produk tekstil (TPT) yang nantinya akan digelontorkan oleh pemerintah kepada industri tekstil harus tepat sasaran. “Dana revitalisasi yang tadinya Rp135 miliar lalu dipangkas menjadi Rp100 miliar harus tepat sasaran. Karena bagi produsen dana TPT adalah hal yang utama,” kata Ernovian di Jakarta, Jumat (23/11).

Menurut dia, perusahaan yang bergrak di industri TPT telah mencapai 2.600 perusahaan. “Itu untuk semua katagori mulai dari perusahaan skala kecil, menengah dan perusahaan besar yang totalnya mencapai 2.600 perusahaan,” katanya. Untuk itu, Ernovian meminta agar pemberian dana revitalisasi harus tepat sasaran.

Sedangkan Direktur Industri Tekstil dan Aneka Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Ramon Bangun mengatakan, awalnya pemerintah mengusulkan alokasi anggaran program revitalisasi mesin TPT sebesar Rp135 miliar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2013.

Namun, dalam pembahasan dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) anggaran diturunkan menjadi Rp100 miliar untuk menutupi kebutuhan pembiayaan program pemerintah yang dianggap lebih penting. “Untuk anggaran revitalisasi mesin TPT pada 2013 turun menjadi Rp100 miliar dari realisasi tahun ini sebesar Rp145 miliar. Dana sebesar itu normalnya untuk 110-120 perusahaan,” tuturnya.

Ramon menyatakan walaupun anggaran berkurang, pemerintah meyakini program revitalisasi permesinan tetap efektif membantu meningkatkan kinerja industri TPT pada tahun depan. “Program ini sudah jalan sejak lama dan 2013 merupakan tahun keenam. Tidak masalah jika anggarannya hanya Rp100 miliar,” katanya.

Seperti diketahui, selama 4 tahun terakhir, Kemperin meluncurkan program restrukturisasi mesin untuk industri tekstil. Pemerintah menyediakan insentif berupa uang sebesar 10% dari anggaran yang diajukan perusahaan TPT untuk merestrukturisasi mesin tekstil mereka agar mesin-mesin yang telah uzur bisa lebih kompetitif.

Menurut data Kementerian Perindustrian, selama 1998-1911, 670 perusahaan TPT telah memanfaatkan program ini. Untuk tahun 2012, Kemperin menganggarkan dana restrukturisasi TPT sebesar Rp 128,5 miliar yang kemudian diperebutkan oleh 73 perusahaan TPT. Namun, perkembangan industri TPT sendiri tidak terlampau menggembirakan tahun ini. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kinerja industri tekstil mengalami penurunan di kuartal III tahun 2012 dibanding periode yang sama 2011.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat optimistis investasi TPT masih akan terus bertambah karena pelaku industri mulai menyiapkan diri. Pasar Eropa diperkirakan mulai membaik tahun depan. "Industri dalam negeri maupun luar negeri sudah mulai mempersiapkan diri," kata dia.

Untuk menarik investor asing, Ramon bilang, pihaknya akan terus melakukan berbagai langkah seperti pelatihan tenaga kerja siap pakai. Ini agar Indonesia mampu bersaing menghadapi Vietnam yang upah buruhnya lebih rendah dari Indonesia.

Industri TPT Membaik

Ramon juga menilai bahwa walaupun kinerja Industri tekstil mencatatkan kinerja penurunan produksi pada kuartal ketiga tahun ini. Namun, indsutri ini dinilai masih berpotensi untuk membaik pada tiga bulan terakhir walaupun tidak terlalu signifikan. Bahkan dia memprediksi investasi di sektor ini pada 2012 akan melebihi Rp2 triliun. Keyakinan Ramon ini karena melihat tingginya peminat restrukturisasi mesin TPT pada tahun ini senilai Rp100 miliar. “Saat ini saja jumlahnya dirasa masih kurang karena dananya memang dibatasi, ini menunjukkan bahwa industri masih optimis untuk terus menggenjot investasi,” katanya.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), industri tekstil tergolong ke dalam jajaran sektor indsutri yang mencatatkan penurunan produksi pada kuartal ketiga tahun ini. Industri tekstil mencatatkan penurunan produksi sebesar 15,38% selama kuartal ketiga tahun ini bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Penurunan produksi di beberapa sektor industri membuat total produksi industri manufaktur melambat.

BPS mencatat pertumbuhan produksi manufaktur hanya tumbuh 3,6% di kuartal ketiga tahun ini terhadap kuartal III tahun lalu. Padahal pada kuartal ketiga 2011, produksi indsutri manufaktur berhasil menembus pertumbuhan sebesar 7,57% dibanding kuartal ketiga 2010.

BERITA TERKAIT

Dunia Usaha - Revitalisasi Pabrik Gula Harus Didukung Inovasi Teknologi

NERACA Jakarta – Revitalisasi pabrik gula di Indonesia harus didukung adanya inovasi dalam teknologi. Pemerintah perlu membangun dan mengembangkan ekosistem…

Tiga Kepala Daerah Diminta Jadi Agen Pemberantasan Korupsi

Tiga Kepala Daerah Diminta Jadi Agen Pemberantasan Korupsi NERACA Jakarta - Tiga kepala daerah hasil Pilkada 2018 yang telah dilantik…

Bidik Dana IPO Rp 62,5 Miliar - Bima Sakti Pertiwi Percantik Mal di Pekanbaru

NERACA Jakarta – Guna mendanai ekspansi bisnis berupa pembebasan lahan dan pembangunan mall baru, PT Bima Sakti Pertiwi (BSP) perusahaan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Minerba - Pabrik Pengolahan Nikel 230.000 Ton Ditargetkan Beroperasi 2021

NERACA Jakarta – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar bersama Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi…

Akuakultur - Penerapan Prinsip Berkelanjutan di Budidaya Tilapia Diapresiasi

NERACA Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengapresiasi komitmen penerapan budidaya berkelanjutan dalam meningkatkan produksi ikan nila nasional oleh…

Dunia Usaha - Revitalisasi Pabrik Gula Harus Didukung Inovasi Teknologi

NERACA Jakarta – Revitalisasi pabrik gula di Indonesia harus didukung adanya inovasi dalam teknologi. Pemerintah perlu membangun dan mengembangkan ekosistem…