Investasi Saham

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Menjelang tutup tahun yang tinggal dua bulan lagi, menjadi catatan bagi industri pasar modal untuk terus berbenah diri dan termasuk prospek investasi saham di tahun 2013. Meski pemulihan krisis ekonomi Eropa diproyeksikan tahun depan belum selesai, tentunya kondisi ini memberikan kekhawatiran bagi para pelaku pasar untuk berinvestasi di pasar modal.

Investasi saham di pasar modal, tentunya berbeda medan dan tantangannya dengan investasi di properti ataupun emas. Pasalnya, ketika seorang investor memutuskan berinvestasi di saham tentunya dituntut untuk aktif mengikuti perkembangan kondisi ekonomi dalam negeri dan juga global, tidak hanya memperhatikan pergerakan sahamnya semata. Alasannya, investasi saham sangat rentan terhadap berbagai isu dari dalam negeri dan luar negteri. Apalagi bila menyangkut kebijakan yang memberikan dampak terhadap pergerakan saham.

Oleh karena itu, berinvestasi saham menuntut seorang investor jeli dalam menganalisa ketika akan melakukan penjualan dan pembelian saham, bukan sebaliknya hanya mengikuti tren semata. Kembali diawal, melihat prospek pasar modal tahun depan banyak kalangan analis menyakini masih tetap positif kendatipun ancaman krisis eropa masih menghantui volatalie pergerakan harga saham.

Tahun depan, seiring dengan menjelang moment pemilu menjadi alasan bila likuiditas saham bakal bergerak melesat. Pasalnya, banyak dana-dana kampanye pemilu ditanamkan di pasar modal untuk investasi jangka pendek. Meski investasi ini hanya kondisional, namun cukup memberikan sentimen positif bagi kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) untuk percaya diri menembus level angka yang lebih tinggi 5000 poin.

Menurut, Presiden Direktur PT Kresna Graha Sekurindo Michael Steven, prospek investasi saham pada 2013 masih memiliki ruang pertumbuhan yang tinggi didorong oleh sektor infrastruktur, properti, dan konsumen.

Sektor tersebut akan terus melesat tajam, lantaran kebijakan pemerintah pusat yang akan terus menggenjot pembangunan infrastruktur diberbagai lini, serta peranan pemerintah Indonesia yang memfokuskan pada proyek MP3EI. Karena itu, hal ini akan memicu saham-saham di sektor konstruksi dan infrastruktur bakal kebanjiran permintaan pembeli.

Lalu bagaimana dengan saham properti, tentunya masih juga menjadi minat investor karena menjadi kebutuhan masyarakat saat ini. Kendatipun, Bank Indonesia (BI) mengeluarkan kebijakan pembatasan uang muka atau down payment (DP) rupanya tidak mempengaruhi minat masyarakat untuk membeli rumah. Apalagi, saat ini daya beli masyarakat diklaim terus tumbuh.

Selain itu, pertumbuhan sektor properti masih ditopang maraknya investasi dan meningkatnya permintaan pada lahan industri setelah pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil di atas enam per tahun. Oleh karena itu, dominasi saham sektor properti sudah terlihat dari awal 2012 hingga kuartal III. Dimana sektor properti mencatatkan pertumbuhan laba per saham (earning per share-EPS) tertinggi dibandingkan sektor lainnya yaitu berkisar 57%.

Disamping itu, positifnya kinerja keuangan emiten sektor properti memberikan keyakinan para pelaku pasar dan investor untuk tetap mengkoleksi saham properti hingga tahun depan.

BERITA TERKAIT

Bantah Kendalikan Harga Saham - Bliss Properti Siap Tempuh Jalur Hukum

NERACA Jakarta – Emiten properti, PT Bliss Properti Indonesia Tbk (POSA) angkat bicara soal tuduhan soal mengendalikan harga saham yang…

Manufaktur - Peningkatan Investasi Perkuat Struktur Industri Elektronika

NERACA Jakarta – Industri elektronika di Indonesia diyakini akan semakin kuat struktur manufakturnya seiring masuknya sejumlah investor baru. Peningkatan investasi…

Alokasikan Dana Rp 1,2 Triliun - Tower Bersama Buyback 110,94 Juta Saham

NERACA Jakarta – Menjaga pertumbuhan harga saham di pasar, beberapa perusahaan masih mengandalkan aksi korporasi buyback saham. Hal inilah yang…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Industri Kerakyatan di Era Digitalisasi

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Indonesia kini telah memasuki era industri 4.0., tentu sebagai konsekuensinya adalah Indonesia masuk…

Tantangan Dihadapi Masih Besar

  Oleh: Tauhid Ahmad Direktur Eksekutif INDEF Indef telah melakukan penelitan-penelitian termasuk dampak perang dagang. Perhitungan indef terhadap dampak perang…

Manajemen Risiko Utang dan Investasi

    Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya   Utang yang terus menumpuk pada pemerintahan…