Obligasi Rupiah Memikat, Namun Rawan Fluktuatif

NERACA

Jakarta - Asian Development Bank (ADB) mencatat terjadi peningkatan pasar surat utang (obligasi) berdenominasi rupiah di Indonesia menjadi US$110 miliar per September 2012. Angka itu naik sebesar 0,4% dibandingkan kuartal sebelumnya atau naik 7,4% dibanding tahun lalu. Sementara investor asing menggenggam pasar obligasi di Indonesia hingga 30%.

Kepala Kantor ADB untuk Kawasan Integrasi Ekonomi Regional Prof. Dr. Iwan Jaya Azis mengatakan, untuk obligasi rupiah di Indonesia nilainya sangat tinggi, yakni 33%. Sementara di Malaysia saja hanya 20%. “Itu ada unsur positif dan negatif. Positifnya, menunjukkan kepercayaan pihak investor luar negeri kepada pasar Indonesia. Sedangkan negatifnya, pasar obligasi di Indonensia masih relatif kecil. Nah, kalau pasarnya kecil tapi pemain asingnya banyak, itu sangat rentan,” ujar Iwan di Jakarta, Kamis (22/11).

Dia kembali menerangkan, jika investor asing menarik dananya maka keseluruhan pasar obligasi Indonesia akan goyang. Solusi ke depan, kata Iwan, bukan mengurangi peserta atau investor asing melainkan harus meningkatkan serta mengembangkan pasar domestik. “Walau bagaimana pun juga, kita masih butuh mereka (investor asing),” tambahnya.

Terkait pembiayaan infrastruktur, Iwan menjelaskan memerlukan sumber dana tidak hanya dari perbankan dan APBN, namun bisa menggunakan obligasi untuk mendapatkan dana dari publik. Akan tetapi, untuk mendapatkan dana segar tersebut dibutuhkan kepercayaan investor.

“Karena di dunia keuangan, pasar obligasi itu yang paling penting komiditinya adalah kepercayaan. Sebab apabila pasar sedang kacau, misalnya terjadi default atau gagal bayar, maka pasar akan kehilangan keprcayaan terhadap pasar,” jelasnya. Oleh karena itu, lanjut Iwan, pemerintah perlu membangun kepercayaan tersebut, dengan menempatkan pihak regulator.

“Seperti sekarang pelan-pelan Indonesia sudah mengarah ke OJK, untuk memperkuat regulasi di pasar keuangan, termasuk obligasi korporasi,” ujarnya. Dia mengakui, obligasi korporasi di Indonesia masih terbilang kecil, padahal pasarnya masih sangat besar. Hal itu karena masih banyak perusahaan-perusahaan besar dan ternama yang belum terdaftar.

Menurut dia, pembiayaan melalui obligasi memerlukan waktu jangka panjang, sehingga diperlukan jaminan keamanan. Oleh sebab itu, obligasi menggunakan mata uang lokal dianggap lebih aman, karena tidak ada risiko nilai tukar sehingga dapat mencegah terjadinya krisis moneter yang pernah terjadi pada tahun 1997-1998.

Sebagai informasi, pasar obligasi korporasi Indonesia tumbuh 3,1% dibanding kuartal sebelumnya. Sedangkan, jika dibanding periode yang sama tahun lalu terdapat kenaikan sebesar 27,2%. Namun, kondisi berbeda justru dialami pasar obligasi pemerintah, yang menyusut 0,1% dibandingkan kuartal sebelumnya, meski masih lebih tinggi secara tahunan (year on year/yoy) sebesar 4,2%. Kendati demikian, kepemilikan asing terhadap obligasi berdenominasi rupiah pemerintah Indonesia terus meningkat menjadi sebesar 29,7%.

Miliki Risiko

Sementara ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih menilai, pasar di Indonesia memang sangat menarik untuk pasar obligasi rupiah dengan melihat perkembangan perekonomian Indonesia yang pesat. Namun terdapat beberapa risiko pasar obligasi yang harus dihadapi oleh Indonesia.

”Obligasi rupiah mempunyai nilai risiko dengan fluktuasi nilai tukar rupiah,” kata Lana kepada Neraca, Kamis. Menurut dia, kepemilikan asing yang hampir 30% memperlihatkan kondisi pasar obligasi Indonesia cukup menarik bagi investor asing. Kepemilikan ini perlu diwaspadai juga apabila investor asing ini keluar atau menarik dananya dari obligasi rupiah ini.

”Oleh karena itu, pemerintah Indonesia harus memproteksi apabila hal itu terjadi,” tambahnya. Lana menjelaskan untuk memberikan perlindungan terhadap kepemilikan obligasi kemudian sebagai antisipasi arus modal yang bergejolak maka pemerintah menyiapkan kebijakan untuk melakukan proteksi. Pemerintah juga harus mengelola utang secara baik dan bertanggung jawab sehingga tidak merugikan Indonesia.

”Untuk itu, pemerintah harus menyiapkan suatu alternatif untuk antisipasi terhadap krisis global sehingga kejadian pada tahun 1998 tidak terulang kembali,” ungkapnya. Di tempat terpisah, Chief Economist Bank Mandiri, Destry Damayanti mengatakan, obligasi rupiah masih berpeluang dibandingkan dengan obligasi mata uang asing, karena dengan pertumbuhan yang mencapai 6% serta current depression hanya 0,5% tentu masih lebih menguntungkan dibandingkan dengan obligasi mata uang asing.

Dibandingkan seperti Filipina, di mana current depression mencapai 3%, obligasi rupiah masih lebih menarik dibandingkan yang lainnya. Destry mengakui, defisit anggaran masih di kisaran 1,5%, dan rasio pembayaran utang sudah lebih baik ketimbang tahun sebelumnya, ini tentunya pemerintah pasti akan memanfaatkan utang untuk menunjang perekonomian yang lebih produktif di masa depan.

Walau prospek obligasi masih menarik, kupon obligasi korporasi menunjukkan tren kenaikan. Ini terjadi karena investor mengacu pada yield (imbal hasil) Surat Utang Negara (SUN) yang pada awal tahun naik di angka 4% menjadi 6% (Mei 2012). ”Akibatnya, kupon obligasi korporasi pun mengalami kenaikan, yakni yang semula pada awal tahun rata-rata 7% hingga 8%, kini menjadi 9% dan 10%,” ujarnya. mohar/novi/ardi

BERITA TERKAIT

Investor Ritel di Pasar Obligasi Masih Minim

NERACA Jakarta – Tren pertumbuhan obligasi yang terus meningkat tidak diiringi dengan pertumbuhan investor ritel yang berinvestasi di pasar obligasi.…

Marak di Semester Kedua - Pefindo Taksir Obligasi Capai Rp 135 Triliun

NERACA Jakarta – Memasuki semester kedua tahun ini, banyak sentimen positif yang bakal menjadi pemicu tren pasar obligasi kembali marak.…

Percepat Pembangunan di Jabar - Pemprov Jabar Terbitkan Obligasi Daerah

NERACA Jakarta –Besaranya minat pemerintah daerah untuk menerbitkan obligasi daerah, terus bertambah. Kali ini, pemerintah provinsi Jawa Barat kembali menyampaikan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

INDUSTRI OTOMOTIF SAMBUT POSITIF PENURUNAN BUNGA - BI Prediksi Pertumbuhan Stagnan di Triwulan II

Jakarta-Kalangan industri otomotif menyambut positif penurunan suku bunga acuan. Pasalnya, penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia bisa berdampak pada penurunan…

Indonesia Perlu Pertajam Strategi Diplomasi Ekonomi

  NERACA Jakarta - Kepala Departemen Ekonomi dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri, meyakini strategi…

BIROKRASI KURANG RAMAH HAMBAT INVESTASI - Istana Tak Terobsesi Kejar Pertumbuhan Tinggi

Jakarta-Istana Kepresidenan menyatakan pemerintah tak terobsesi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi selangit di tengah situasi ekonomi global yang sedang melambat seperti…