Ditunjang Infrastruktur, Emiten Properti Masih Kokoh - Prospek Bisnis Tahun Depan

NERACA

Jakarta-Meskipun memiliki prospek 'cerah' yang didukung oleh tingkat permintaan yang masih cukup tinggi, perkembangan dan kinerja industri properti di tahun 2013 perlu didukung oleh pengembangan infrastruktur yang dilakukan pemerintah maupun swasta.

Executive Director Agung Podomoro Land, Very Y Setiady mengatakan, pertumbuhan properti pada kota-kota besar harus diimbangi dengan pengembangan infrastrukturnya,”Sektor properti akan menjadi sesuatu yang tidak efisien jika tidak ditunjang dengan pengembang di sektor infrastruktur.”ujarnya di Jakarta, Kamis (22/11).

Very mengatakan, sejauh ini kendala pembangunan properti Indonesia, khususnya Jakarta, yaitu kondisi infrastruktur yang kurang memadai. Sementara untuk permintaannya, lanjut dia mengalami peningkatan yang cukup signifikan, baik untuk perkantoran, apartemen, maupun shopping center.

Dengan adanya permintaan yang cukup tinggi pada sektor properti tersebut, kata dia, para developer atau pengembang memberikan kontribusi yang positif. Meskipun demikian, perlu lokasi dan pengelolaan yang baik, sehingga tantangan pada sektor properti kedepannya dapat mengalami peningkatan yang lebih baik.

Selain infrastruktur, kendala lain yang juga menghambat pengembangan properti di Indonesia yaitu regulasi pemerintah yang membebankan pajak terlalu tinggi.“Ritel bisnis bisa memberikan kontribusi yang besar bagi negara, sehingga tidak perlu lagi masyarakat untuk berbelanja diluar negeri. Hal tersebut juga akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi kita, seharusnya bisa dikurangi beban pajaknya.” tambahnya.

Masih Tetap Tumbuh

Senior Associate Director Research and Advisory Cushman and Wakefield, Arief Rahardjo, mengatakan pertumbuhan industri properti diperkirakan masih akan mengalami peningkatan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi masih akan sama seperti saat ini, dan bahkan bisa lebih besar. “Performancenya masih akan lebih baik, di dua tahun terakhir ini permintaan untuk kawasan industri sangat tinggi namun masih terhambat pada supplynya, yaitu lahannya yang saat ini sudah terbatas,” ujarnya

Menurut Arief, harga lahan yang semakin tinggi menjadikan supply untuk tingkat hunian saat ini lebih sedikit. Hal tersebut, lanjut dia membuat harga hunian baik vertikal maupun horizontal menjadi sangat mahal. “Tergantung developer akan menambah supply-nya atau tidak untuk setiap sektornya,” tambahnya.

Dia menilai, tantangan bagi sektor industri properti akan lebih kepada sumber daya manusia pada tenaga kerja di bidang tersebut. Permintaan kenaikan upah minimal bagi karyawan tidak hanya memperlambat kondisi ekonomi di sektor properti namun berdampak pada semua sektor.

Karena itu, lanjut dia harus ada langkah cepat yang dilakukan pemerintah agar hal tersebut tidak menjadi berlarut dan merugikan kondisi perekonomian yang saat ini sedang cukup aktif. Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang mengatakan, perkembangan saham untuk sektor properti di tahun 2013, tidak akan lebih tinggi dari tahun 2012. Perkembangan sektor tersebut lanjut Edwin tidak ditentukan oleh meningkatnya harga atau permintaan yang naik secara signifikan.

Kata Edwin, perkembangan saham sektor tersebut lebih kepada bagaimana emiten properti mencatatkan kinerjanya. “Terjadinya kenaikan harga yang tajam tidak didukung oleh faktor fundamental sehingga sektor ini dimungkinkan akan terseleksi.” jelasnya. (lia)

BERITA TERKAIT

Infrastruktur Kawasan Perikanan Budidaya Dipacu

NERACA Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggandeng Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dalam penyediaan infrastruktur  bidang…

Optimalkan Tiga Lini Bisnis Baru - Mitra Investindo Siapkan Capex US$ 3 Juta

NERACA Jakarta – Menjaga keberlangsungan usaha pasca bisnis utama terhenti pada akhir tahun lalu, PT Mitra Investindo Tbk (MITI) bakal…

Gelar IPO, Bliss Properti Lepas 1,7 Miliar Saham

Satu lagi, perusahaan yang bakal mencatatkan saham perdananya di pasar modal adalah PT Bliss Properti Indonesia. Dalam prospektus yang diterbitkan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Astrindo Raih Pendapatan US$ 27,16 Juta

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) membukukan pendapatan sebesar US$27,16 juta atau melesat…

Optimalkan Tiga Lini Bisnis Baru - Mitra Investindo Siapkan Capex US$ 3 Juta

NERACA Jakarta – Menjaga keberlangsungan usaha pasca bisnis utama terhenti pada akhir tahun lalu, PT Mitra Investindo Tbk (MITI) bakal…

Laba Betonjaya Melesat Tajam 144,59%

Di tahun 2018, PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTON) mencatatkan laba tahun berjalan senilai Rp27,81 miliar atau naik 144,59% dibandingkan periode…