Perbankan Lokal Dinilai Sulit Bersaing di Tingkat Global

NERACA

Jakarta - Pengamat perbankan Anthony Budiawan menegaskan, apabila perbankan Indonesia tidak memperbaiki kinerja, maka akan mengalami kesulitan dalam menghadapi persaingan pasar bebas Asean 2020 mendatang. Hal ini terlihat dari tiga indikator kondisi perbankan, yaitu tingkat loan to deposit ratio (LDR) yang relatif rendah disertai dengan net interest margin (NIM) dan biaya operasi terhadap pendapatan operasi (BOPO) yang relatif tinggi.

"Mengenakan tingkat suku bunga pinjaman (NIM) yang tinggi untuk memperoleh tingkat keuntungan return on assets (ROA) yang tinggi merupakan tindakan yang tidak terpuji," tegas Anthony di Jakarta, Selasa. Menurut dia, pemerintah harus mengambil beberapa kebijakan dalam bidang ekonomi dan finansial untuk mendorong investasi terutama di industri manufaktur.

Caranya, lanjut Anthony, dengan mendorong industri manufaktur menggunakan teknologi yang baru untuk meningkatkan produktivitas. Namun, dia juga menilai kebijakan pemerintah selama ini masih kurang efektif untuk mendorong pertumbuhan kredit. Hal ini dipastikan bukan karena perbankan yang enggan memberikan pinjaman.

Masih wajar

Sementara menanggapi fluktuasi rupiah, Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan depresiasi mata uang rupiah saat ini masih wajar. "Rupiah sepanjang tahun ini diprediksi terdepresiasi sebesar enam persen, namun kondisi itu masih wajar," katanya.

Dia menilai kondisi nilai tukar saat ini masih cukup aman di tengah kondisi eksternal yang cenderung bergejolak. Meski demikian, terdepresiasinya nilai tukar domestik selama ini berhasil menurunkan defisit transaksi berjalan.

"BI akan melanjutkan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan kondisi fundamental. Rupiah dewasa ini mencerminkan kondisi pasar dan fundamentalnya,” tambahnya. Sementara itu, kurs tengah Bank Indonesia pada Rabu (21/11) tercatat mata uang rupiah bergerak melemah nilainya menjadi Rp9.643 dibanding sebelumnya di posisi Rp9.638 per dolar AS. [ardi]

BERITA TERKAIT

DINILAI MELANGGAR UU MINERBA - Iress Tolak Revisi PP 23/2010

Jakarta-Indonesian Resources Studies (Iress) menolak rencana pemerintah kembali merevisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan…

Pemahaman Masyarakat Mengenai UU Konsumen Dinilai Rendah

Pemahaman Masyarakat Mengenai UU Konsumen Dinilai Rendah NERACA Palembang - Pengurus Yayasan Lembaga Konsumen Sumatera Selatan menilai tingkat pemahaman masyarakat…

OJK Dorong Perbankan Di Bali Optimalkan Penyaluran Kredit Pariwisata

    NERACA   Denpasar - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong perbankan di Bali untuk mengoptimalkan penyaluran kredit sektor pariwisata…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Masalah Fintech, LBH dan OJK Masih Deadlock

      NERACA   Jakarta - Pertemuan antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta belum…

Penyaluran KUR 2018 Capai 95,2%

    NERACA   Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa kinerja penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR)…

Bank Nagari Didorong jadi Bank Syariah

    NERACA   Padang - Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Sumatera Barat (Sumbar) mendorong percepatan konversi Bank Pembangunan Daerah Sumatera…