Kemenhut Data Lahan Untuk Perluasan Kebun Tebu

Lahan Masih Bermasalah

Jumat, 06/05/2011

NERACA

Jakarta – Kementerian Kehutanan sedang mendata lahan hutan produksi yang penggunaannya masih bisa dialihkan untuk areal perkebunan tebu guna mendukung upaya pencapaian swasembada gula tahun 2014.

Menurut Direktur Pengukuhan dan Penatagunaan Kawasan Hutan Kementerian Kehutanan Tri Joko Mulyono, sesuai peta masih ada 16 juta hektare lahan yang bisa digunakan.

“Kami sedang mendata mana yang benar-benar bisa dikonversi. Kami juga sedang mengevaluasi izin prinsip penggunaan lahan hutan produksi,” kata Tri Joko di sela seminar tentang investasi industri gula di Jakarta, kemarin.

Baca juga: Pengamat Tegaskan Nuklir Aman untuk Sumber Energi

Dia menambahkan, lahan dengan izin prinsip lebih dari lima tahun yang sudah tidak bisa diperpanjang, akan diprioritaskan untuk perkebunan tebu. “Tanggal 21 Maret lalu kami sudah umumkan 182 izin prinsip lebih dari lima tahun yang belum memenuhi syarat. Kami akan evaluasi, kalau tidak dilanjutkan akan kami batalkan untuk diberikan ke investor yang serius, termasuk untuk perkebunan tebu,” jelasnya.

Tri Joko mengungkap, luas areal dari ke-182 izin prinsip pengelolaan itu sekitar 103 ribu hektare. Pada tahun 2010 pemerintah telah menerbitkan izin prinsip pengelolaan lahan seluas 40 ribu hektare di Merauke untuk perkebunan tebu.

Baca juga: Petani Tebu Minta Impor Gula Mentah Dibatasi

Pada awal 2011, imbuhnya, satu pemerintah kabupaten di Sumatera Selatan juga telah mengalihkan izin pengelolaan lahan seluas 40 ribu hektare untuk areal perkebunan tebu. “Pemerintah pusat juga telah mendorong pemerintah daerah yang lain untuk memrioritaskan lahan untuk perkebunan tebu,” terangnya.

Direktur Jenderal Industri Agro dan Kimia Kementerian Perindustrian Benny Wahyudi mengungkap, paling tidak 500 ribu hektare tambahan lahan diperlukan guna mendukung pencapaian swasembada gula. Lahan tersebut diperlukan untuk membangun setidaknya 20 unit pabrik gula beserta perkebunan tebu baru untuk menambah produksi gula sesuai target.

Baca juga: Ugadi Akan Minimalisasi Alih Fungsi Lahan Padi

Menurut peta jalan yang sudah dibuat pemerintah, revitalisasi industri gula nasional dilakukan dengan target produksi gula nasional yang pada 2009 sebanyak 2,6 juta ton dan turun jadi 2,2 juta ton tahun 2010, bisa naik menjadi 5,7 juta ton, sesuai kebutuhan nasional, pada 2014.

“Kalau lahan untuk itu sudah ada akhir tahun ini, kami optimis swasembada tercapai, tapi kalau sampai pertengahan tahun depan belum tersedia akan sulit karena untuk membangun pabrik butuh setidaknya dua tahun, menyiapkan perkebunan tebu sampai menghasilkan juga butuh waktu dua tahunan,” terang Benny.

Baca juga: Sertifikasi Lahan Budidaya Permudah Akses Modal

Menurutnya, masalah utama dalam melakukan proses revitalisasi industri gula dan tebu di Indonesia adalah terkait dengan persoalan lahan yang hingga kini masih banyak lahan yang belum jelas penggunaannya karena tidak ditertibkan.

Kebijakan Kemenhut untuk mengalokasikan lahan terlantar bagi perkebunan tebu, lanjut Benny, meski terlambat tetapi merupakan sebuah langkah yang tepat dalam mencapai tujuan revitalisasi industri gula.

Benny juga menuturkan, pada saat ini memang terdapat jutaan hektar yang awalnya dialokasikan untuk perkebunan tetapi kini sebagian lahan tersebut ada yang terlantar, dikuasai rakyat, atau dipindahtangankan tanpa pemberitahuan ke pemerintah pusat.

Baca juga: Rp 100 M untuk Restrukturisasi Mesin Industri

Untuk itu, lanjutnya, langkah penertiban yang sedang dilakukan terkait dengan lahan patut untuk didukung agar sistem pendataan terkait penggunaan lahan dapat lebih jelas lagi.

Dia mengemukakan, pihak Kementerian Perindustrian saat ini memfasilitasi berbagai rapat atau pertemuan dengan sejumlah pihak terkait dengan revitalisasi industri gula tersebut.

Selain menuturkan soal lahan, Benny juga menginginkan adanya kebijakan bea masuk yang fleksibel yang sangat diperlukan mengingat dinamisnya pergerakan harga gula pada saat ini. “Kalau terlalu tinggi kasihan konsumen, tetapi kalau terlalu rendah kasihan petani,” katanya.

Baca juga: Kemenperin Bakal Terapkan Standar Industri Hijau Untuk 4 Komoditi