Kinerja Bank Lokal Belum Efisien - SUKU BUNGA TINGGI CERMIN USAHA BANK TIDAK TERPUJI

Jakarta – Kalangan akademisi dan pengamat menilai kinerja perbankan Indonesia saat ini ditengarai hanya untuk kepentingan bank sendiri ketimbang berperan sebagai agent of growth bagi perekonomian nasional. Ini terbukti sejak 2003 hingga Agustus 2012 besaran rasio net interest margin (NIM) secara konsisten selalu berada di atas 5% yang merupakan angka tertinggi di kawasan Asia.

“Semakin besar NIM maka semakin baik untuk bank yang bersangkutan, tetapi dapat menjadi boomerang bagi perekonomian nasional,” tegas Prof. Dr. Anthony Budiawan, Rektor Kwik Kian Gie School of Business di Jakarta, Selasa (20/11).

Hasil penelitian lembaganya yang dipimpin Anthony mengungkapkan, angka NIM perbankan Indonesia adalah yang tertinggi dari sebelas negara yang disurvei. Sejak 2003 hingga Agustus tahun ini angka NIM perbankan lokal selalu konsisten di atas 5%, bahkan Januari 2012 sempat naik melebihi 6%.

Kemudian menyusul Filipina menduduki peringkat kedua dengan NIM di atas 3%, dan selanjutnya perbankan di Taiwan, Singapura, Hong Kong, Vietnam dan India, yang mempunyai rasio cukup rendah antara 2%-3%. Rasio NIM adalah untuk mengukur tingkat penghasilan dari total aset produktif yang dimiliki oleh bank.

Anthony membandingkan dengan kondisi dengan Bank OCBC Singapore yang mampu memperlihatkan rasio NIM sebesar 1,79%, sangat jelas sekali bedanya dengan perbankan nasional yang tertinggal jauh tingkat efisiensinya.

Selain NIM, banyak pihak juga menerjemahkan rasio BOPO dengan Cost to Income Ratio (CIR), meski keduanya mengukur hal yang sama, tetapi ada perbedaan formula perhitungan membuat kedua rasio itu berbeda. Namun secara keseluruhan (lihat tabel) kedua rasio itu mencerminkan kondisi perbankan Indonesia belum efisien, jika dibandingkan OCBC Singapore.

Berdasarkan rasio efisiensi tersebut, menurut Anthony, dapat diambil kesimpulan tingkat suku bunga di negeri ini masih sangat tinggi, sehingga menghasilkan tingkat pengembalian investasi (return on assets-ROA) yang sangat besar, ketimbang kinerja bank lainnya di luar negeri. Faktanya suku bunga kredit perbankan lokal sekarang masih rata-rata di atas 10% per tahun, sementara suku bunga acuan (BI Rate) tercatat 5,75% dan LPS Rate 5,5%.

Meski demikian, dia mengakui ada perbedaan struktur geografi antara Indonesia dan Singapura. Di negeri Singa itu perbankan tidak memerlukan ongkos produksi besar seperti membuka kantor cabang atau menggunakan sumber daya manusia dalam kegiatan produksinya. “Secara geografis, tidak bisa dibandingkan maka tentu kalau dari ROA bank kita jauh lebih besar dari Singapura”, ujarnya.

Banyak Faktor

Kondisi perbankan lokal seperti ini pun diakui oleh Bank Indonesia. Menurut Jurubicara BI Difi A. Johansyah, memang perbankan di Indonesia masih belum efisien, yakni karena rata-rata masih mempunyai BOPO di atas 80%. "Iya, memang masih belum efisien karena banyak faktor. Memang bisa karena buka cabang secara agresif ataupun karena gaji bankir-nya yang tinggi. Namun BI tidak mengatur soal gaji itu," katanya, kemarin.

Dia juga mengatakan, semakin tinggi modal bank akan membuat semakin efisien. "Bank kita yang besar, contohnya bank besar di sini kan modalnya sudah bisa menyaingi perbankan di ASEAN," ujarnya.

Ekonom BRI Djoko Retnadi mengatakan, perkembangan perbankan nasional yang cukup pesat saat ini tidak serta merta mendorong efisiensi. “Saat ini nilai BOPO perbankan sudah cukup baik, tapi secara umum bank Indonesia belum fokus pada kredit massal.” ujarnya.

Menurut Djoko, kredit massal seperti kredit pemilikan rumah (KPR), kartu kredit, dan kredit perusahaan (corporate) adalah salah satu faktor yang mendorong bank-bank di luar negeri, seperti Singapura lebih efisien. Sejauh ini, menurut dia, sekitar 80% aset yang dimiliki perbankan di Indonesia masih didominasi oleh kredit individual atau ritel yang menyerap tenaga kerja yang begitu banyak sehingga menambah beban biaya operasional ditanggung bank.

Karena itu, dia menilai, perbankan di Indonesia perlu mencermati pendekatan baru dalam hal teknologi. Jika tidak demikian maka bukan tidak mungkin bisa menjadi peluang bagi bank asing untuk menarik nasabah karena dinilai lebih efisien dan menguntungkan.

Pengamat perbankan FEUI Aris Yunanto mengatakan bahwa komponen gaji karyawan bank dalam rasio BOPO bisa sampai 40%. Ini mencerminkan daya saing perbankan Indonesia menjadi lemah, sehingga membuat pasar perbankan Indonesia akan tergerus oleh masuknya perbankan asing mencari peluang usaha di negeri ini.

Ada beberapa hal, menurut Aris, yang bisa dilakukan untuk mengantisipasinya. Salah satunya adalah melakukan efisiensi dan integrasi, misalnya dengan memperbanyak ATM bersama. Cara lain adalah dengan memanfaatkan sistem. “Misal, kita kalau mau setor tidak perlu ke teller. Itu sudah mulai tapi kan belum banyak. Yang menggunakan sedikit, mesin yang ada juga belum banyak” ujarnya. iqbal/lia/ria/fba

BERITA TERKAIT

Anak Usaha Lippo Group Siap Perkuat Lini Usaha Logistik

Anak Usaha Lippo Group Siap Perkuat Lini Usaha Logistik NERACA Jakarta - Lippo Group menggandeng Sumitomo Corporation untuk memperkuat bisnis…

Ini Penjelasan Harga Cabai Merah Stabil Tinggi

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan mencatat harga cabai merah keriting dan cabai merah besar di sejumlah pasar tradisional menunjukkan peningkatan…

Dunia Usaha - Pemerintah Akselerasi Pembangunan Kawasan Industri Halal

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mengakselerasi pembangunan kawasan industri halal di dalam negeri. Kawasan industri halal merupakan sebagian atau…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

TERKAIT RENCANA REVISI UU DUNIA USAHA - Presiden Minta Masukan dari Kalangan Pengusaha

Jakarta-Presiden Jokowi memanggil kalangan pengusaha yang tergabung Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia), Kadin Indonesia dan Hipmi, untuk meminta masukan terobosan baru…

Pemerintah Harus Ciptakan Urbanisasi Berkelanjutan

NERACA Jakarta - Pengamat Tata Kota Universitas Trisaksi Nirwono Joga mengatakan Pemerintah Daerah harus bisa menciptakan pola urbanisasi berkelanjutan pasca…

TREN PENURUNAN SUKU BUNGA DI DUNIA - OJK: Saatnya Turunkan Bunga Acuan BI

Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai Bank Indonesia sudah saatnya segera menurunkan tingkat suku bunga acuan (7 Days Reverse Repo Rate-7DRRR).…