Kasus Gunawan Yusuf Dibuka Kembali - SP3 Dugaan Penipuan Dibatalkan

Jakarta - Polisi diminta untuk melanjutkan penyidikan atas dugaan tindak pidana penggelapan dan penipuan yang dilakukan Claudine Jusuf dan Gunawan Jusuf. Hal ini sesuai dengan Putusan Pra Peradilan No. 33/Pid.Prap/2012/PN.JKT.SEL yang telah diputuskan oleh Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dalam sidang yang terbuka untuk umum pada tanggal 19 Oktober 2012.

Demikian siaran pers Oscar Sagita dari Law Firm Lucas SH & Partners, kuasa hukum Toh Keng Siong, Direktur Aperchance Company Limited, yang diterima NERACA, Senin (19/11).

Seperti diketahui, Toh Keng Siong tengah bersengketa dengan Gunawan Jusuf perihal dana Toh senilai US$ 134 juta (sekitar Rp 1,13 triliun) yang ditempatkan oleh PT Makindo (dahulu PT Makindo, Tbk) dalam bentuk Time Deposit Confirmations dan dijamin oleh PT Makindo (dahulu PT Makindo, Tbk) bahwa akan dibayar pada saat jatuh tempo dengan memberitahukan 2 hari sebelum tanggal jatuh tempo.

Karena belakangan Toh Keng Siong tak bisa menarik dananya meski telah sudah jatuh tempo, maka akhirnya Toh Keng Siong, mengambil langkah hukum secara pidana dengan melaporkan Claudine Jusuf dan Gunawan Jusuf ke Mabes Polri atas dugaan tindak pidana penggelapan dan penipuan.

Menurut Oscar, berdasarkan amar Putusan Pra Peradilan No. 33/Pid.Prap/2012/PN.JKT.SEL, tanggal 19 Oktober 2012, setidaknya ada 4 poin, yang diputuskan majelis hakim. Pertama, Mengabulkan permohonan pra peradilan dari pemohon untuk seluruhnya.kedua, Menyatakan surat tentang ketetapan penghentian penyidikan No. Pol.: S..Tap/51a/VII/2004 tanggal 20 Juli 2004 dan Surat Perintah Penghentian Penyidikan No Pol: SPPP/R/51/VII/2004/Dit II Eksus tanggal 20 Juli 2004, adalah tidak sah. Ketiga, Memerintahkan termohon untuk melanjutkan penyidikan atas dugaan tindak pidana penggelapan dan penipuan yang dilakukan para tersangka Claudine Jusuf dan Gunawan Jusuf, sebagaimana laporan polisi No. Pol: LP/125/IV/2004/Siaga-III tanggal 20 April 2004. Hakim juga Membebankan kepada termohon untuk membayar biaya permohonan sebesar Rp 10.000.- (sepuluh Ribu Rupiah).

Oscar menjelaskan bahwa berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi No.65/PUU-IX/2012 tanggal 1 Mei 2012, semua putusan praperadilan telah berkekuatan hukum tetap. “Oleh karena itu, secara hukum tidak ada upaya hukum apapun terhadap Putusan Pra Peradilan No. 33/Pid.Prap/2012/PN.JKT.SEL, tanggal 19 Oktober 2012,” katanya.

Sejak 20 April 2004, Toh telah melakukan upaya hukum pidana terhadap Claudine Yusuf dan Gunawan Yusuf dengan melaporkan kasus pidana penggelapan dan penipuan ini ke Mabes Polri. Namun, usahanya mengalami kendala.

Hanya dalam waktu tiga bulan sejak adanya laporan penggelapan dan penipuan yang dilakukan Claudine Yusuf dan Gunawan Yusuf, Mabes Polri telah mengeluarkan SP3 dan bahkan ketika Aperchance telah mengajukan bukti baru (novum), Mabes Polri begitu saja mengabaikannya dan tidak mau membuka kembali SP3 dan melanjutkan penyidikan atas diri Claudine Yusuf dan Gunawan Jusuf. Padahal, Claudine Yusuf, dan Gunawan Yusuf sempat dijadikan tersangka.

Menurut sumber yang dekat dengan Gunawan Yusuf, berlarut-larutnya masalah ini hingga bertahun-tahun boleh jadi karena kedekatan Gunawan Yusuf dengan istana dan orang-orang yang berpengaruh di lingkaran kekuasaan.

Dukungan bukti-bukti kuat yang dimiliki Toh Keh Siong hingga sekarang tak mampu memaksa penegak hukum untuk menghadirkan Gunawan Yusuf ke Mahkamah Peradilan. Sebaliknya, Mabes Polri malah mengeluarkan SP3 sebelum melakukan penyidikan secara maksimal.

Kisah Penipuan

Pada mulanya, ketertarikan Toh Keh Siong untuk menanamkan uangnya di Makindo bermula ketika ia ketemu Gunawan Jusuf di Jakarta pada tahun 1997. Menindaklanjuti perjumpaan itu, Gunawan Jusuf dan ibunya (Rachmiwaty) berkunjung ke Singapura untuk melakukan presentasi kepada Toh Keh Siong.

Toh Keh Siong akhirnya bersedia mentrasfer uangnya sebesar US$ 60 juta ke rekening milik PT Makindo (PT Makindo, Tbk) untuk ditempatkan dalam bentuk Time Deposit Confirmations. Awalnya, PT Makindo (PT Makindo, Tbk) bisa memenuhi janjinya, dengan mengembalikan pokok berikut bunganya, setahun kemudian uang yang ditanam Toh Keh Siong berkembang menjadi US$ 67 juta.

Berikutnya, Toh Keh Siong kembali bersedia mentranfer uangnya ke rekening PT Makindo (PT Makindo, Tbk), namun ternyata dana tersebut tidak juga dikembalikan oleh PT Makindo (PT Makindo, Tbk) sampai sekarang, Sehingga total dana Toh Keh Siong yang belum dibayarkan oleh PT Makindo (PT Makindo, Tbk) dari tahun 1999-2002, yang ditransfer oleh Toh Keh Siong ke rekening PT Makindo (PT Makindo, Tbk) dalam berbagai bentuk mata uang (Singapore Dollar, US Dollar, New Zealand Dollar, Hong Kong Dollar, Japan Yen dan Euro) mencapai US$ 134 juta.

Sebulan sebelum jatuh tempo, sekitar Oktober 2002, Claudine Jusuf dalam surat elektroniknya yang ditujukan kepada Toh Keh Siong menyebutkan bahwa permintaan pencairan tagihan sebesar US$ 134 juta bisa dimasukkan 2 hari sebelum jatuh tempo.

Rupanya itu hanya janji kosong. Toh Keh Siong bernasib malang. Uangnya itu menguap hingga sekarang tidak pernah dikembalikan oleh PT Makindo (PT Makindo, Tbk).

PT Makindo (PT Makindo, Tbk) merupakan perusahaan yang dimiliki oleh Gunawan Jusuf. Kini, Gunawan Jusuf juga memiliki beberapa bisnis, termasuk kelompok usaha Sugar Group yang memproduksi gula dengan merek dagang “Gulaku”. (kam)

BERITA TERKAIT

Sikapi Tren Gagal Bayar - OJK Review Kembali Pemeringkat Obligasi

NERACA Jakarta – Banyaknya penerbitan obligasi korporasi yang gagal bayar, membuat reaksi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk turun tangan dan…

Kasus Korupsi Akibat Mahalnya Biaya Kampanye

Kasus Korupsi Akibat Mahalnya Biaya Kampanye NERACA Malang - Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Malang Corruption Watch (MCW) menyatakan bahwa tingginya…

LBH Minta OJK Tuntaskan Kasus Fintech - LBH DAN YLKI TERIMA BANYAK PENGADUAN PINJAMAN ONLINE

Jakarta- Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta diketahui telah menerima pengaduan 1.330 korban pinjaman online selama kurun waktu 4-25 November 2018.…

BERITA LAINNYA DI HUKUM BISNIS

UPN Jakarta Siap Hadapi Industri 4.0

UPN Jakarta Siap Hadapi Industri 4.0 NERACA Jakarta - Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN Veteran Dr Prasetyo Hadi mengatakan…

Mitra Pengemudi Laporkan Grab ke KPPU

Mitra Pengemudi Laporkan Grab ke KPPU NERACA Jakarta - Mitra pengemudi melaporkan Grab ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dengan…

Kelancaran Pembahasan RUU Tergantung Kesungguhan DPR-Pemerintah

Kelancaran Pembahasan RUU Tergantung Kesungguhan DPR-Pemerintah NERACA Jakarta - Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menilai kecepatan dan kelancaran pembahasan Rancangan…