Indonesia Mampu Lawan Perlambatan Ekonomi Global - Anut Prinsip Kehati-hatian dalam Pengolahan Fiskal

Menkeu: Indonesia Mampu Lawan Perlambatan Ekonomi Global

NERACA

Jakarta - Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan kebijakan fiskal menjadikan Indonesia masih mampu bertahan dari dampak perlambatan ekonomi global. Padahal di belahan dunia lainnya yaitu perekonomian negara-negara Eropa, mayoritas penyebab kerapuhan terletak pada pengelolaan fiskal negara yang tidak berkelanjutan.

Menurut Agus, struktur belanja yang berkualitas semestinya masih memberikan ruang fleksibilitas bagi pemerintah untuk merespons berbagai kemungkinan yang terjadi. “Saat ini harus disadari bahwa perekonomian Indonesia dihadapkan pada iklim ekonomi dunia yang lebih dinamis, diliputi ketidakpastian dan volatilitas yang cukup tinggi,” kata dia dalam Seminar Nasional APBN 2013 Peningkatan Kualitas Belanja Negara di Jakarta, Selasa (20/11).

Oleh karenanya diperlukan fleksibilitas fiskal yang memadai bagi pemerintah untuk merespon dan menjawab gejolak dan dinamika yang terjadi. "Ruang fleksibilitas fiskal tersebut sangat terkait erat dengan ketersediaan ruang fiskal (fiscal space) yang memadai dalam struktur belanja APBN," ujarnya.

Selain itu, penyehatan fiskal harus didukung tiga efisiensi kebijakan belanja berkualitas di antaranya adalah efisiensi alokasi, teknis, dan ekonomi. "Sejumlah negara Eropa rapuh karena pengelolaan fiskal yang jauh dari prinsip kehati-hatian seperti yang terjadi pada Spanyol, Yunani dalam beberapa negara lain," kata Agus

Dalam konteks Indonesia, dia mengatakan untuk mencapai APBN yang sehat dan berkelanjutan perlu dua kondisi yang harus dipenuhi pemerintah. "Pertama APBN menuju berimbang atau surplus dan kedua, strategi pembiayaan anggaran mampu menjamin kesinambungan fiskal," ujarnya.

Secara eksternal, Agus melihat revisi ke bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia 2013 dari 3,9% pada Juli menjadi 3,6% pada Oktober 2012 . "Ini merupakan cerminan dari dampak yang mungkin timbul dari kondisi pengelolaan fiskal dari negara-negara Eropa," ungkapnya.

Penyeimbang Domestik

Namun demikian dari sisi internal, kuatnya permintaan domestik menjadi semacam penyeimbang dari melemahnya kinerja perekonomian global sehingga laju pertumbuhan ekonomi nasional masih terjaga pada level yang relatif cukup tinggi. Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, kata Agus, pemerintah masih bisa mengelola kebijakan fiskal yang suistanable. Defisit APBN 2013 ditetapkan sebesar Rp153.3 triliun atau sebesar 1,65% Produk Domestik Bruto (PDB).

Besaran defisit tersebut merupakan selisih antara pendapatan negara dan hibah yang diperkirakan mencapai sebesar Rp1.529,7 triliun dengan belanja negara yang ditetapkan sebesar Rp1.683 triliun. "Dengan angka defisit tersebut, rasio utang pemerintah diharapkan akan menurun menjadi kurang dari 23% terhadap PDB pada akhir tahun 2013," ujar Agus.

Masalah pengelolaan utang yang tidak hati-hati juga mendapat sorotan para pengamat. Mereka bahkan mendesak Presiden Susilo Bambang Yudoyono untuk segera mengeluarkan Peraturan Pemerintah soal moratorium utang agar Indonesia tidak terlilit utang luar negeri.

Ekonom senior EC-Think Telisa Falianty kepada NERACA, di Jakarta, Senin (19/11) mengatakan bahwa beban utang luar negeri Indonesia kini sudah cukup besar yang membebani APBN secara signifikan sehingga harus dievaluasi. “Salah satu evaluasi itu, termasuk opsi moratorium utang luar negeri,” kata dia.

Arif Nur Alam, peneliti dari Indonesia Budgetary Center, mengatakan bahwa apa yang terjadi di Yunani bisa pula terjadi di Indonesia, jika utang luar negeri begitu besar sedangkan terlalu membebani anggaran. “Alokasinya tidak jelas, utang kita belum diaudit dengan baik, utang diarahkan untuk kepentingan utama yang efektivitasnya tidak jelas, serta belum mampu meningkatkan keterserapan”, kata dia.

Menurut dia, dengan kondisi seperti itu, pengelolaan utang menjadi sangat rawan korupsi. (novi/doko)

BERITA TERKAIT

Volkswagen Segera Mampu Produksi 15 Juta Mobil Listrik

Volkswagen mengumumkan akan memiliki kapasitas untuk membangun hingga 15 juta mobil listrik selama beberapa tahun ke depan, berdasarkan laporan Reuters…

Bali Masuk dalam Daftar 10 Water Park Terpopuler Dunia

Taman bermain air atau water park, kerap menjadi pilihan masyarakat saat berwisata. Selain faktor keamanan yang terjamin, water park bisa…

Rumah Subsidi Tidak Goyah Diterpa Badai Ekonomi

Rumah Subsidi Tidak Goyah Diterpa Badai Ekonomi NERACA Jakarta - Ketua Umum DPP Himpunan Pengembang Pemukiman dan Perumahan (Himperra) Endang…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

China Berhasil Kuasai Ekonomi Dunia Dalam Waktu Singkat

      NERACA   Jakarta - Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ahmad Helmy Fuady menunjukkan data bahwa Cina…

Pemerintah Izinkan KEK Arun Lhokseumawe

      NERACA   Aceh - Presiden Joko Widodo mengatakan pemerintah pusat telah memberikan izin Kawasan Ekonomi Khusus Lhokseumawe,…

Butuh Rp600 Triliun untuk Benahi Transportasi Jabodetabek

  NERACA   Jakarta - Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) membutuhkan pembiayaan Rp600 triliun untuk mengimplementasikan Rencana Induk Transportasi Jabodetabek…