Pemerintah Harus Libatkan Semua Pihak Untuk Mengevaluasi - Wajar 9 Tahun Rampung

Belakangan ini, pendidikan merupakan suatu kebutuhan primer. Karena perannya yang teramat penting, orang–orang berlomba untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin, namun pada saat yang sama ada sebagian masyarakat yang tidak dapat mengenyam pendidikan secara layak, baik dari tingkat dasar maupun sampai ke jenjang yang lebih tinggi.

Pendidikan dasar wajib yang dipilih Indonesia adalah 9 tahun yaitu pendidikan SD dan SMP, apabila dilihat dari umur mereka yang wajb sekolah adalah 7–15 tahun. Pendidikan merupakan hak yang yang sangat fundamental bagi anak.

Program wajib belajar 9 tahun sebenarnya telah dinyatakan rampung. Saat ini, pemerintah siap merintis wajib belajar 12 tahun. Rampungnya wajar 9 tahun secara kuantitatif ditunjukkan oleh daerah yang sudah memiliki Angka Partisipasi Kasar (APK) yang mencapai 98%.

Namun, klaim pemerintah tentang Wajib Belajar (Wajar) 9 tahun yang telah tuntas tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya di lapangan. Karena pada kenyataannya masih banyak anak usia jenjang pendidikan dasar yang kesulitan mengakses pendidikan atau putus sekolah. Keberadaan sekolah-sekolah di kolong jembatan adalah potret bahwa anak-anak masih kesulitan bersekolah.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pun mengakui jika penyelenggaraan program wajib belajar 9 tahun belum tuntas. Meski angka rata-rata APK yang tercatat cukup tinggi, Dirjen Pendidikan Dasar Kemdikbud, Suyanto, mengaku, belum ada perubahan signifikan pada keterbukaan masyarakat Indonesia terhadap pendidikan yang lebih tinggi.

"Memang kami akui, program wajar 9 tahun ini baru bisa dirampungkan aspek kuantitatifnya dahulu dan secara kualitatif, memang belum meningkat pada kualitasnya,” tutur Suyanto

Melihat akses pendidikan yang belum merata ini, pemerhati pendidikan anak menilai bahwa keberhasilan wajar sembilan tahun tidak hanya bicara soal kuantitas, namun juga harus menyentuh pada sisi kualitas. Kualitas pendidikan dasar belum menyentuh pada pembentukan karakter anak, padahal itu mendasar dan harus diperhatikan.

Banyak indikator yang menunjukkan wajar 9 tahun masih belum tuntas. Salah satunya adalah masih banyaknya anak putus sekolah. Ekonomi kerapkali menjadi faktor utama yang menyebabkan anak putus sekolah Bahkan, di kota-kota besar masih banyak anak-anak yang berada di jalanan pada jam sekolah untuk mencari uang. mengatakan angka putus sekolah jenjang pendidikan dasar masih tinggi.

Harus diakui persoalan kemiskinan di negeri ini masih pelik. Siswa dari keluarga miskin cenderung menjadi korban dari mahalnya biaya pendidikan di sekolah. Ukuran mahal dan tidak mahal memang relatif, namun kenyataan menunjukkan sebagian masyarakat belum mampu menopang tuntutan finansial untuk menyekolahkan anak-anaknya. Meskipun ada bantuan operasional sekolah (BOS), dana tersebut ternyata belum mampu mengatasi anak putus sekolah.

BERITA TERKAIT

Persatuan Bangsa Pasca Pemilu 2019 Mutlak Dibutuhkan untuk Kemajuan

  Oleh:  Aziz Kormala, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan   Kemerdekaan yang diperoleh Indonesia bukanlah pemberian tetapi hasil berjuang dengan penuh pengorbanan…

Sektor Riil - Investasi Meningkat, Pemerintah Siapkan SDM Industri Kompeten

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berperan aktif menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten untuk memenuhi kebutuhan dunia industri.…

Pemerintah Bakal Naikkan Iuran - Tekan Defisit BPJS Kesehatan

      NERACA   Jakarta – Pemerintah dalam hal ini Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan tengah mengkaji kenaikan iuran…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

Pentingnya Peran Peneliti untuk Mitigasi Bencana

  Kepala Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sri Sunarti Purwaningsih menilai pentingnya peran peneliti dan…

Perlukah Fatwa Haram untuk Games PUBG?

      Games Player Unknown's Battle Grounds (PUBG) semakin banyak menjadi perbincangan. Selain di kalangan anak muda yang gemar…

Pendidikan Swasta Perlu Diperkuat

    Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Prof Rhenald Kasali melihat laporan bank Dunia tentang indeks Modal Insani 2018 menguatkan…