Analis : Harga Terkoreksi, Logam Mulia Masih Jadi Incaran

NERACA

Jakarta –Meskipun harga emas terus mengalami penurunan seiring dengan menguatnya nilai tukar rupiah, tidak membuat surut minat masyarakat berinvestasi emas. Pasalnya, emas logam mulia masih menjadi aset "safe haven" di saat terjadinya ketidakpastian ekonomi global.

Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra mengatakan, meski investor masih fokus pada ketidakpastian pertumbuhan global dan khawatir atas 'fiscal cliff' AS, namun emas dapat menjadi 'safe haven' disaat terjadinya ketidakpastian akan ekonomi,”Emas akan menjadi pilihan investasi bagi masyarakat,”katanya di Jakarta, Senin (19/11).

Dia menambahkan, harga emas global bergerak meningkat tipis pada awal pekan ini. Harga emas global Senin (19/11) meningkat 7,80 poin menjadi US$ 1.726,70 per ons atau terangkat 0,45 dibanding hari sebelumnya.

Meski demikian, lanjut dia, peningkatan emas itu tertahan seiring dengan beberapa investor melikuidasi keuntungan dari bullion untuk menutupi kerugian di pasar lain seperti ekuitas, “Beberapa investor melihat emas sebagai aset beresiko, mirip dengan komoditas lainnya atau saham. Namun, emas dapat menutupi kerugian ditempat lain,”ujarnya.

Dia juga mengatakan, perhatian pasar emas saat ini adalah pembicaraan anggaran antara Presiden AS Barack Obama dan para pemimpin kongres. Karena itu, dirinya mengharapkan sentimen yang muncul di pasar global positif bagi pasar emas sehingga dampaknya akan baik bagi harga logam mulia di dalam negeri.

Sementara, harga emas di Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian (UBPP) Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk pada awal pekan ini senilai Rp579.200 per gram. Sedangkan, harga emas batangan ukuran lima gram dan 10 gram masing-masing senilai Rp2,746 juta dan Rp5,452 juta. Harga "buyback" atau pembelian emas jika konsumen menjual kembali ke Antam senilai Rp510.000 per gram.

Sebelumnya, dirinya sempat memperkirakan harga emas pada perdagangan awal pekan kemarin akan bergerak berkonsolidasi pada level "support-resistance" US$ 1.718-1.736 per troy ons. Sebagai informasi, emas untuk pengiriman Desember 2012 naik 90 sen, atau kurang dari 0,1%, menjadi US$ 1.714,70 per troy ons di Comex, divisi dari New York Mercantile Exchange dan harga emas ini melemah 0,9 persen bila dibandingkan dengan penutupan akhir pekan lalu.

Sehari sebelumnya, harga emas merosot US$ 16,30 per troy ons, setelah laporan World Gold Council mengindikasikan bahwa permintaan emas melemah pada kuartal ke tiga. (bani)

BERITA TERKAIT

BPS: NPI Masih Defisit di Agustus 2018 - MESKI EKSPOR TUMBUH, LAJU IMPOR LEBIH DERAS

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data neraca perdagangan Indonesia (NPI) sepanjang Agustus 2018 mengalami defisit sebesar US$1,02 miliar, menurun sedikit…

Ombudsman Masih Temukan Indikasi Maladministrasi di Sukamiskin

Ombudsman Masih Temukan Indikasi Maladministrasi di Sukamiskin NERACA Bandung - Ombudsman Republik Indonesia masih menemukan adanya indikasi maladministrasi di Lembaga…

BPS Sumsel Catat Harga Daging Ayam Turun

BPS Sumsel Catat Harga Daging Ayam Turun NERACA Palembang - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga daging ayam di Sumatera…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Kondisi Ekonomi Masih Baik - Minat Perusahaan Untuk IPO Tetap Tinggi

NERACA Jakarta - Nilai tukar rupiah yang sempat mengalami depresiasi cukup dalam dan memberikan sentimen negaif terhadap kondisi indeks harga…

Debut Perdana di Pasar Modal - Saham PANI Oversubscribed 14 Kali

NERACA Jakarta – Di tengah rapuhnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan juga terkoreksinya indeks harga saham gabungan (IHSG)…

Investor Summit 2018 Sambangi Surabaya

Rangkaian acara paparan publik dari perusahaan tercatat secara langsung di 8 kota Investor Summit 2018 kembali berlanjut dengan tujuan kota…