Tarif Cukai Naik Tidak Padamkan Kepulan Emiten Rokok

NERACA

Jakarta- Kenaikan tarif cukai dan harga rokok sejauh ini tidak menghalangi pertumbuhan kinerja perusahaan dan pabrikan rokok di Indonesia. Lihat saja, di pasar modal Indonesia pun kinerja saham dari emiten rokok memiliki prospek yang cukup cerah untuk jangka panjang.

Presiden Direktur Wismilak Inti Makmur Tbk, Ronald Walla mengatakan secara confident akan dapat meningkatkan pangsa pasar pasca digelarnya penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO). “Untuk perusahaan di Jawa Timur dan di Jateng, market share kami sekitar 45%, Sumatera 10%, dan setelah IPO ini ditargetkan pangsa pasar dapat meningkat,”katanya di Jakarta, Senin (19/11).

Menurutnya, pihaknya akan terus melakukan pengembangan usaha, terlebih pertumbuhan industri rokok di Indonesia cukup menjanjikan. Dana yang diperoleh dari pelepasan saham ke publik tersebut, lanjut dia sebesar 50% akan digunakan sebagai belanja modal, 30% untuk modal kerja, dan 20% untuk pelunasan utang perbankan.

Sejauh ini, kata Ronald, kemampuan keuangan perseroan juga cukup solid dan menunjukkan kinerja yang baik. Pada 2007-2011 penjualan rokok tumbuh 33 persen per tahun. Saat ini kapasitas produksi per tahun Wismilak mendekati tiga miliar batang rokok untuk sigaret kretek tangan (SKT) dan sigaret kretek mesin (SKM).

Ronald menilai, terjadinya kenaikan cukai rokok setiap tahunnya tidak terlalu berpengaruh terhadap perseroan. Pasalnya, perseroan selalu mengantisipasi terjadinya kenaikan cukai. Karena itu, pihaknya menargetkan kapasitas produksi dapat mengalami kenaikan sebesar 60%. “Kenaikan cukai setiap tahun sekitar 7-12%, jadi kondisi itu sudah kita antisipasi,” ujarnyanya.

Hal senada juga dikatakan oleh pengamat dari PT Ciptadana Securities, Mitchel Jauwanto. Dia menilai, prospek bagi emiten rokok hingga tahun depan masih cerah. “Daya beli konsumen tetap tumbuh, terlebih produk rokok termasuk tidak elastis terhadap harga. Maksudnya, seberapa pun tarif cukai dan harga rokok dinaikkan, pengaruhnya terhadap penjualan relatif kecil.” jelasnya.

Proyeksi tersebut didukung oleh kinerja emiten rokok lainnya, seperti HM Sampoerna. Pada kuartal ketiga 2012, perseroan mencatat kenaikan penjualan 26,4% menjadi Rp48,46 triliun. Sementara laba bersihnya juga mengalami peningkatan sebesar 24,72% menjadi Rp 7,43 triliun. Namun sayangnya, saham HM Sampoerna hanya ada sekitar 1,83% di bursa saham sehingga kurang menarik untuk dimainkan. Meskipun demikian, kata Mitchel, saham ini layak untuk dikoleksi akan berpotensi mengalami penguatan menjadi Rp57.000 sampai dengan akhir tahun 2012.

Sementara untuk Gudang Garam, pada kuartal ketiga 2012 tidak menujukkan kinerja yang cukup baik, di mana laba bersih perseroan sebesar Rp3,01 triliun atau mengalami penurunan sekitar 20,6% dibanding periode yang sama 2011. Meskipun demikian, kinerja perseroan masih dinilai solid secara fundamental karena tercatat tidak memiliki utang. Jadi, emiten ini masih dimungkinkan memiliki peluang penguatan (rebound). (lia)

BERITA TERKAIT

Tarif Tol Trans Jawa Bakal Turun - Mempertimbangkan Kontrak dan Investasi

      NERACA   Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan penurunan tarif tol…

GRUP GARUDA INDONESIA TURUNKAN TARIF TIKET 20% - AKR Masuk Jadi Pesaing Avtur Pertamina

Jakarta-Merespon imbauan Presiden Jokowi sebelumnya, maskapai grup Garuda Indonesia akhirnya menurunkan harga tiket pesawat terhitung mulai kemarin (14/2). Sementara itu,…

Optimisme Ekonomi Tumbuh Positif - Pendapatan Emiten Diperkirakan Tumbuh 9%

NERACA Jakarta – Mempertimbangkan keyakinan masih positifnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri menjadi alasan bagi BNP Paribas IP bila pasar saham…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Adira Finance Terkoreksi 28,81%

Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) mencatatkan laba bersih Rp1,815 triliun atau turun 28,81% dibanding periode…

Optimisme Ekonomi Tumbuh Positif - Pendapatan Emiten Diperkirakan Tumbuh 9%

NERACA Jakarta – Mempertimbangkan keyakinan masih positifnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri menjadi alasan bagi BNP Paribas IP bila pasar saham…

MNC Sekuritas Kantungi Mandat Tiga IPO

Keyakinan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bila tahun politik tidak mempengaruhi minat perusahaan untuk go publik, dirasakan betul oleh PT…