Buyback Obligasi Bikin Market Confident

NERACA

Jakarta-Pembelian kembali atau buyback obligasi yang diperoleh pemerintah senilai Rp 738 miliar dari total penawaran yang masuk mencapai Rp 1,608 triliun dinilai pengamat tidak hanya menjadi langkah strategis untuk merestrukturisasi utang yang jatuh tempo, namun juga dapat menjadikan market lebih confident.

Pengamat obligasi PT Lembaga Penilai Harga Efek, Fakhrul Aufa mengatakan, dilakukannya buyback obligasi oleh pemerintah dapat menjadi langkah untuk merestrukturisasi utang. “Dengan buyback, utang yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat kemudian ditukar dengan obligasi yang memiliki waktu jatuh tempo yang lama,”katanya di Jakarta, Senin (19/11).

Adanya buyback tersebut, menurut Fakhrul bisa jadi dilakukan untuk menambah outstanding seri FR0064 yang menjadi obligasi yang ditawarkan agar bisa menjadi seri SUN benchmark tahun depan.

Selain itu, hal tersebut juga sebagai langkah agar beban utang semakin berkurang, “Kalau kita lihat obligasi yang ingin ditukar memiliki kupon antara 7.4-14.28 sementara kupon obligasi yg ditawarkan pemerintah adalah sebesar 6.125, jadi dengan berkurangnya kupon nantinya beban utang akan semakin berkurang,”jelasnya.

Dia menilai, buyback obligasi yang dilakukan pemerintah tidak memiliki pengaruh terhadap aktivitas perdagangan di pasar sekunder. Hal itu karena mekanisme dalam pembelian kembali SUN berbentuk seperti halnya lelang sun biasanya, terlebih pasar sekunder saat ini masih didorong oleh keaktifan transaksi ORI009.

Berbeda dengan Fakhrul, Handy Yunianto, pengamat obligasi dari PT Mandiri Sekuritas mengatakan buyback atau pembelian kembali obligasi yang dilakukan pemerintah biasanya dilakukan pada saat kondisi market sedang mengalami koreksi. Hal ini dilakukan untuk membuat pasar lebih confident. “Biasanya ketika daya belinya turun dan nilainya menjadi rendah sehingga diharapkan harga tidak jatuh terlalu dalam.” ujarnya.

Fakhrul mengatakan, di negara lain seperti halnya Filipina buyback obligasi dilakukan untuk untuk mengurangi outstanding utang yang dimiliki pemerintah. Harga pada saat buyback pun, menurut dia biasanya menjadi lebih bagus karena investor juga memanfaatkan momentum tersebut untuk mendapatkan harga yang bagus.

Menurut Fakhrul, buyback obligasi yang dilakukan pemerintah memiliki nilai tambah sekaligus kerugin bagi investor. “Bagi yang senang trading mungkin happy. Biasanya pemerintah melepas beberapa seri voluntary, namun kecewanya investor tidak dapat menikmati bunga obligasi yang tinggi. Sementara untuk investor yang hold maturity hal tersebut tidak akan terlalu berpengaruh.” ungkapnya.

Pasar Masih Positif

Handy menilai pasar obligasi akhir tahun ini masih positif meskipun tidak menunjukkan kinerja sebagus tahun lalu. Transaksi harian di tahun menurut dia tidak akan berbeda dengan tahun sebelumnya, yaitu berkisar antara Rp8-9 triliun per hari, dan sejauh ini masih didominasi investor asing. Sementara untuk obligasi korporasi transaksi harian mengalami peningkatan, yaitu dari sebelumnya sekitar Rp 400 miliar menjadi Rp 800 miliar.

Sementara Dirjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, Robert Pakpahan mengatakan, pada tahun ini pemerintah telah menerbitkan surat utang negara atau obligasi sangat besar, atau sudah mencapai 98%. “Tahun ini (penerbitan surat utang) sudah mau selesai. Kami sudah menerbitkan sekitar 98% dan sepertinya sudah cukup. Tapi memang ada sedikit lagi sekitar Rp500 miliar,” kata Robert.

Untuk jadwal penerbitan surat utang negara dalam metode lelang tersebut masih akan dilakukan dua kali lagi. Namun kemungkinan besar untuk penerbitan yang terakhir dipastikan akan dibatalkan. (lia)

BERITA TERKAIT

Gandeng Kerjasama Gojek - Astra Bikin Perusahaan Patungan GoFleet

NERACA Jakarta – Kembangkan ekspansi bisnis, PT Astra International Tbk (ASII) bersama Gojek membentuk perusahaan patungan yang diberi nama GoFleet…

Investor Ritel di Pasar Obligasi Masih Minim

NERACA Jakarta – Tren pertumbuhan obligasi yang terus meningkat tidak diiringi dengan pertumbuhan investor ritel yang berinvestasi di pasar obligasi.…

Profit Taking Investor Bikin IHSG Terkoreksi

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (17/7) sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Genjot Pertumbuhan KPR, BTN Gandeng TNI

NERACA Jakarta – Kejar pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk terus memperluas kerjasamanya. Setelah awal…

Perluas Inklusi Keuangan Lewat Inovasi Layanan Kekinian

Istilah fintech (Financial Technology)  kini bukan hal yang asing didengar seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri digital saat ini. Bergerak dinamis perubahan industri…

Bantah Kendalikan Harga Saham - Bliss Properti Siap Tempuh Jalur Hukum

NERACA Jakarta – Emiten properti, PT Bliss Properti Indonesia Tbk (POSA) angkat bicara soal tuduhan soal mengendalikan harga saham yang…