General Motor Berambisi Produksi 500 Ribu Mobil Ramah Lingkungan

NERACA

Jakarta - General Motor (GM) memiliki ambisi besar memproduksi 500.000 kendaraan ramah lingkungan. Mobil ramah lingkungan itu akan menggunakan mesin listrik atau hybrid. Kepala produki GM Mary Barra mengatakan GM fokus memproduksi mobil listrik, plug-in hybrid dan semi hybrid bukan hybrid 'klasik' seperti Toyota Prius.

"Mesin Plug-in menawarkan kesempatan unik untuk mengubah cara berpikir orang dan solusi ini akan memainkan peran penting dalam portofolio kami di masa mendatang," katanya di Jakarta, Senin (19/11).

Barra lebih lanjut mengatakan bahwa perkembangan teknologi sangat berperan menggenjot pentumbuhan mobil listrik lebih cepat dari yang kami bayangkan pada lima tahun lalu. Tentunya teknologi itu akan menjadi kunci strategi elektrifikasi GM di masa depan.

GM akan terus mengembangkan varian Chevrolet Volt dan memproduksi model-model mobil listrik. Sementara itu Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan mengatakan, mobil listrik produksi nasional kemungkinan akan diproduksi di sebuah pabrik di Surabaya, Jawa Timur. "Saya sudah melihat produksi mereka. Bentuknya seperti mobil model Carry," katanya.

Menurut Dahlan, produksi mobil listrik direncanakan akan mulai dilakukan April mendatang. Pabrik tersebut bisa produksi hingga 20.000 unit setahun. Dahlan mengatakan, mobil listrik bisa menjadi solusi dari berbagai permasalahan terkait dengan bahan bakar minyak selama ini. "Mobil listrik ini sangat efektif dan hampir tak ada masalah. Satu-satunya masalah dia adalah jika kehabisan baterai," ujar Dahlan setengah berseloroh.

Produsen mobil listrik PT Great Asia Link (Grain) siap memproduksi kendaraan hemat bahan bakar minyak tersebut secara massal pada tahun 2013. "Kapasitas produksi di pabrik kami di Kedung Anyar Gresik mampu mencapai 60.000 unit mobil listrik jenis matik dan 20.000 unit untuk mobil listrik manual," kata Manajer Pemasaran dan Penjualan PT Great Asia Link (Grain), Haryanto Setiawan.

Menurut dia, ketertarikannya memproduksi mobil listrik dikarenakan potensi pasarnya di Indonesia sangat bagus. Apalagi di Pulau Jawa sampai sekarang energi listriknya mengalami "oversupply". "Untuk itu, kami optimistis kendaraan beroda empat yang diproduksinya dapat diserap pasar otomotif," ujarnya.

Selain itu, di luar negeri seperti China dan Belanda juga telah menerapkan mobil listrik sebagai alat transportasi. Contoh, 20 5 pasar otomotif Belanda sudah menggunakan mobil listrik. "Di Belanda, mobil listrik banyak dioperasikan untuk taksi," tukas Haryanto.

Walau demikian, estimasi produksi massal pada bulan Maret tahun 2013 tidak bisa memenuhi seluruh kapasitas karena harus dilakukan secara bertahap. "Mengenai varian mobil listrik yang disiapkan, ada tiga antara lain Ravi, Hivi, dan Hevi (untuk mobil listrik 'pick up')," tuturnya.

Pihaknya berharap, dengan dikeluarkannya mobil listrik terutama manual dapat menguasai pangsa pasar lima persen dari total pasar mobil secara keseluruhan di Tanah Air yang mencapai 1 juta unit. "Untuk investasi, harga mobil listrik memang lebih mahal. Namun, biaya operasionalnya lebih murah 75 % dibandingkan mobil yang memakai BBM Nonsubsidi," paparnya.

Terkait kendala dioperasionalkannya mobil listrik, lanjut dia, ada pada pemasangan baterai. Tapi, sesuai perkembangan teknologi yang ada saat ini pihaknya sudah bisa menangani kendala tersebut. "Ketika memakai mobil listrik, untuk menempuh jarak 150 kilometer maka pengendara bisa menggunakan kecepatan rata-rata 120 Kilometer per jam," katanya.

BERITA TERKAIT

Bangun Pabrik di Kalimantan - Waskita Beton Terbitkan Obligasi Rp 500 Miliar

NERACA Jakarta –Danai pengembangan bisnis, yakni membangun pabrik di daerah Kalimantan,PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) melakukan periode penawaran awal…

Sektor Produksi - Industri Galangan Kapal Ingin Bea Masuk Komponen Diturunkan

NERACA Jakarta – Industri galangan kapal menginginkan bea masuk komponen diturunkan dari 5-12 persen menjadi hingga nol persen untuk meningkatkan…

Sekitar 8.500 Hektare Lahan Kritis Jabar Akan Direhabilitasi

Sekitar 8.500 Hektare Lahan Kritis Jabar Akan Direhabilitasi NERACA Bandung - Sekitar 8.500 hektare lahan kritis yang tersebar di Kesatuan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Ini Penjelasan Harga Cabai Merah Stabil Tinggi

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan mencatat harga cabai merah keriting dan cabai merah besar di sejumlah pasar tradisional menunjukkan peningkatan…

Perang Dagang Diharapkan Tidak Semakin Gerus Ekspor RI

NERACA Jakarta – PT. Bank Central Asia Tbk mengingatkan perlunya antisipasi dari pemerintah agar berlarutnya konflik perdagangan antara Amerika Serikat…

Reformasi WTO Untuk Mengembalikan Kredibilitas

NERACA Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyampaikan reformasi terhadap Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dapat mengembalikan fungsi lembaga tersebut terhadap…