Kadin Ajak Investor China Kembangkan Ekonomi Kreatif

NERACA

Jakarta – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Komite Tiongkok (KIKT) bersama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendorong agar para investor China bisa bersama-sama berinvestasi untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Misalnya dengan mengalihkan kerjasama perdagangan dan investasi dari yang berbasis komoditi ke pengembangan sumber daya manusia (SDM).

“Kreativitas manusia adalah modal utama, dan tidak memerlukan biaya yang sangat mahal untuk kerjasama investasi kedua negara, Indonesia dan Tiongkok,” Adi Harsono, Wakil Ketua KIKT di Jakarta, Senin (19/11).

Pasalnya Kadin melihat investor asal negeri tirai bambu mampu mengembangkan dan membangun ekonomi kreatif di Indonesia terutama industri perfilman dan computer games. Investasi tersebut relatif lebih murah dari sisi permodalan ketimbang sektor pertambangan, kehutanan dan lain sebagainya. Apalagi kegiatan pertambangan tidak ramah lingkungan.

Akibatnya, banyak perusahaan tambang yang menguras sumber alam tanah air, karena tidak memurnikan bahan mentah sebelum diekspor. "Sehingga kami akan mengalihkan investasi tersebut ke ekonomi kreatif,” kata Adi.

Misalnya, pembuatan film China di Indonesia bisa dengan memanfaatkan keindahan alam Indonesia, termasuk Bali, Lombok atau Candi Borobudur di Jawa Tengah. Kalau investasi bisa berjalan dengan baik, Pemerintah Indonesia bisa memberi kemudahan untuk pembangunan studio film China.

“Saya melihat banyak perusahaan China yang berhasil memproduksi computer games dan handphone. Tapi industri kuliner China juga bisa mendatangkan keuntungan, banyak restoran dengan menu Chinese food digemari turis asing di Jakarta. Sehingga semua investasi berbasis ekonomi kreatif tetap membuka lapangan pekerjaan buat orang Indonesia,” jelasnya.

Targetkan Pertumbuhan

Sebelumnya, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan, pemerintah menargetkan pertumbuhan industri kreatif setiap tahunnya naik 10-15%. “Ekonomi kreatif ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Agung.

Menurut dia, pengembangan ekonomi kreatif perlu terus didorong. Apalagi, sektor ini tidak hanya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi saja tetapi juga untuk meningkatkan kualitas dan citra bangsa.

Lebih lanjut, Agung mengatakan, saat ini banyak tradisi dan kearifan lokal daerah masih dikembangan dan diangkat untuk menjadi karya kreatif yang akan menambah penerimaan daerah juga. Pemerintah, lanjutnya, akan terus mendorong lebih banyak tempat dan ruang untuk berkreasi untuk terus mengembangkan industri kreatif.

“Sekarang tinggal bagaimana kita meningkatkan daya saingnya,” tambah Agung. Ia menambahkan, peningkatan industri kreatif memang menjadi arahan presiden sesuai dengan Inpres No.6/2009 tentang Pengembangan Industri Kreatif.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Euis Saedah mengatakan pertumbuhan industri ekonomi kreatif Indonesia dinilai mampu mendorong untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8% dalam RAPBN 2013. "Produk yang ada bukan hanya sekedar produk pabrikan tetapi memiliki nilai lebih dan daya beli masyarakat sudah semakin baik," ujarnya.

Menurut dia, produk yang dihasilkan industri kecil dan menengah Indonesia memiliki nilai kreativitas dan inovasi yang tinggi, dan itu semua bagian dari industri ekonomi kreatif. Karena itu dia menilai prospek industri ini ke depannya akan semakin baik terlebih dengan meningkatnya jumlah kelas menengah di Indonesia.

Euis mengatakan, pemerintah sudah memberikan insentif berupa potongan harga bagi pembelian mesin untuk produksi industri tersebut. Menurut Euis besaran potongan harganya hingga 40 persen dari harga pembelian, sehingga bisa mendorong produktifitas produksi industri ekonomi kreatif. "Di tahun 2012 bukan hanya tekstil dan sepatu yang diberi potongan harga itu tetapi juga industri makanan, komponen, herbal, kosmetik, dan pengolahan jamu," ujarnya.

Selain itu, menurut Euis, pemerintah sudah memberikan pelatihan, pendampingan dan penyediaan tenaga ahli bagi tumbuhnya industri kreatif di Indonesia. Dengan demikian dia berharap ekonomi kreatif Indonesia bisa tumbuh lebih dari capaian selama ini yaitu 3-4%. Namun ia tidak bisa menyebut angka pastinya karena selama ini industri kreatif Indonesia masih dipengaruhi ketersediaan bahan baku dan teknologi dari luar negeri.

"Orang punya kreativitas dan inovasi bagus, tetapi teknologi yang tidak mendukung, jadi kerepotan. Misalnya, industri pakaian, kita belum bisa menyediakan mesin sendiri, masih tergantung impor," ujarnya.

BERITA TERKAIT

MA Ajak Media Wujudkan Badan Peradilan Agung

MA Ajak Media Wujudkan Badan Peradilan Agung  NERACA Bogor - Mahkamah Agung (MA) terus berupaya mewujudkan badan peradilan Indonesia yang…

Wika Bitumen Perkuat Bisnis Pengolahan Aspal - Gandeng Investor Asal Cina

NERACA Jakarta – Melengkapi bisnis di sektor konstruksi dan infrastruktur, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) melalui anak usahanya PT…

Kadin akan Tambah Fasilitas untuk OSS

      NERACA   Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia akan menambah fasilitas meja bantuan (help desk)…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Mentan Akan Bagikan Satu Juta Bibit Jeruk Koprok

NERACA Jakarta - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan, akan membagikan satu juta bibit jeruk keprok kepada masyarakat pada 2018…

Industri Sawit RI-India Jalin Kerjasama Produksi

NERACA Jakarta – Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), The Solvent Extractors' Association (SEA) India, dan Solidaridad Network Asia Limited (SNAL) menandatangani…

Strategi Niaga - Pemerintah Perlu Lobi Amerika Terkait Ancaman Pencabutan GSP

NERACA Jakarta – Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai, pemerintah perlu melobi pemerintah Amerika Serikat terkait potensi pencabutan fasilitas…