Pengusaha Sawit Diminta Penuhi Standardisasi RSPO

NERACA

Jakarta - Direktur Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) Indonesia Desi Kusumadewi mengajak agar seluruh perusahaan yang menggunakan bahan minyak sawit untuk bisa memenuhi standarisasi RSPO. Pasalnya dengan perusahaan memenuhi standar tersebut maka perusahaan bisa dikatakan telah menjaga lingkungan dan peduli terhadap lingkungannya.

"Jika perusahaan telah memenuhi stadard RSPO maka bisa dikatakan perusahaan tersebut telah menjaga lingkungannya dan peduli terhadap sosial dengan masyarakat sekitar," ungkap Desi saat berdiskusi dengan wartawan di Jakarta, Senin (19/11).

Dia mengatakan untuk perusahaan bisa memenuhi standard RSPO syaratnya adalah perusahaan harus transparan, regulasi harus jelas, ekonomi yang berkelanjutan, peduli terhadap lingkungan dan sosial, pembukaan lahan yang bertanggung jawab dan perbaikan yang dilakukan oleh perusahaan secara terus menerus. "Intinya adalah bagaimana semua perusahaan berkomitmen untuk memperbaiki hal itu semua," ujarnya.

Secara manfaat, lanjut Desi, dari sisi kualitas produk yang sudah tersertifikasi atau belum akan sama saja. Namun yang membedakan adalah proses produksi untuk bisa mencapai produk jadi. Karena diproduksi dengan cara yang lebih peduli dengan lingkungan. "Dengan membeli produk tersertifikasi RSPO artinya telah menghargai lingkungan dan aspek sosial yang sustainable. Sehingga tidak akan pernah terjadi lagi kasus pembunuhan orang utang di Kalimantan Timur," katanya.

Di Indonesia, kata dia, sudah ada produk yang menggunakan sertifikasi RSPO atau dikenal dengan RSPO Trademark yang telah dipelopori oleh perusahaan ritel raksasa Carrefour dengan minyak goreng bermerek Ecoplanet. "Kepeloporan yang telah ditunjukan Carrefour merupakan langkah awal yang nantinua akan diikuti oleh anggota RSPO lainnya khususnya di Indonesia sebagai konsumen minyak sawit terbesar kedua di dunia," jelasnya.

Langkah Carrefour, lanjut Desi, merupakan indikator bahwa pasar di Indonesia telah siap menjunjung komitmen terhadap keberlanjutan dan kedua adalah enthical consumersim di Indonesia kian membaik dan ketiga adalah bahwa Indonesia merupakan negara konsumen penting di dunia.

Baru 14%

Di tempat yang sama, Sekretaris Jenderal RSPO Darrel Webber mengatakan bahwa 14% dari produksi minyak sawit di dunia kini telah bersertifikasi RSPO. "Saat ini kapasitas produksi minyak sawit yang tersertifikasi mencapai 7,2 juta ton atau 14% dari seluruh produksi minyak sawit di dunia. Sumbangan terbesar berasal dari Indonesia yang mencapai 45,5% disusul oleh Malaysia dengan 44,7% dan sisanya sebesar 9,8% berasal dari Papua Nugini, Kapulauan Solomon, Brasil, Kolombia, dan Pantai Gading," ucapnya.

Sementara untuk Indonesia tercatat hanya 10% dari total perkebunan sawit yang tersertifikasi RSPO. "Total lahan perkebunan sawit sekitar 8 juta hektar. Di Indonesia hanya 702 ribu hektar yang tersertifikasi artinya hanya 10% dari total keselurahan lahan sawit," ucapnya.

Dengan itu, dia mengharapkan agar masyarakat turut serta memperkenalkan standarisasi RSPO karena dengan begitu masyarakat turut serta menjaga lingkungannya. Darrel juga menjelaskan bahwa saat ini luas perkebunan sawit yang telah tersertifikasi RSPO mencapai 1,6 juta hektar atau seluas 22 kali luas negara Singapura dan nantinya akan bertambah dengan pesat.

Tak hanya itu, anggota yang tergabung denga RSPO juga cukup banyak dengan jumlah 1.088 anggota yang tersebar di 50 negara di dunia. "14% keanggotaan RSPO berasal dari Indonesia yang terdiri dari 54 growers dan 14 perusahaan minyak sawit yang beroperasi di Indonesia dan terdaftar di luar negeri," imbuhnya.

Berdasarkan hasil analisa dalam laporan Annual Communications of Progress (ACOP) RSPO, proyeksi volume produksi CSPO di tahun 2015 diperkirakan akan mencapai 12,9 juta ton. Menurut Darrel, hal ini juga disinyalir terjadi di sisi permintaan dimana volume permintaan gabungan CSPO diperkirakan juga akan meningkat.

"Proyeksi persediaan dan permintaan akan meningkat. Akan tetapi RSPO masih perlu meningkatkan tingkat komitmen anggotanya dari kelompok cconsumer goods dalan menggunakan CSPO. Sehingga nantinya proses transformasi pasar dan mendapatkan pangsa pasar yang dominan di pasar minyak sawit baik di Indonesia dan di dunia," jelasnya.

Sekedar informasi, RSPO merupakan asosiasi nirlaba yang menyatukan pemangku kepentingan dari tujuh sektor industri kelapa sawit yaitu produsen kepala sawit, pedagang, pengolah sawit, produsen produk-produk konsumen, ritel, perbankan, investor, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pelestarian lingkungan, LSM sosial.

BERITA TERKAIT

Bupati Sukabumi Tidak Merekomendasi Perluasan Lahan Sawit

Bupati Sukabumi Tidak Merekomendasi Perluasan Lahan Sawit  NERACA Sukabumi - Bupati Sukabumi Marwan Hamami menegaskan pihaknya tidak akan mengeluarkan rekomendasi…

Bank Mandiri Komitmen Ciptakan Pengusaha Baru - Wirausaha Muda Mandiri

    NERACAMalang – PT Bank Mandiri Tbk melalui ajang Wirausaha Muda Mandiri ciptakan ribuan pengusaha-pengusaha baru. Penciptaan pengusaha baru…

Pemprov Banten Diminta Berhati-hati Keluarkan Izin Reklamasi

Pemprov Banten Diminta Berhati-hati Keluarkan Izin Reklamasi NERACA Serang - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

DHL Express Indonesia Bangun Fasilitas Baru di Pulogadung

NERACA Jakarta – DHL Express, penyedia layanan ekspres internasional terkemuka di dunia, hari ini secara resmi meluncurkan fasilitas baru di…

Revolusi Industri 4.0 Buka Peluang Dongkrak Keterampilan SDM

NERACA Jakarta – Era revolusi industri 4.0 membuka kesempatan bagi sumber daya manusia (SDM) di sektor manufaktur untuk memiliki keahlian…

RI dan Korsel Berkolaborasi Untuk Sukseskan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian RI dan Dewan Riset Nasional untuk Ekonomi, Kemanusiaan, dan Ilmu Sosial atau National Research Council…