Waspadai Usaha Investasi Jadi-jadian

Bagi yang ingin melipatgandakan uang, berhati-hatilah. Sebab, saat ini banyak tawaran investasi dengan imbalan bunga yang sangat menggiurkan. Dalam sekejap uang di kantong dapat berlipat-lipat. Jika tak hati-hati, justru terkuraslah isi kantung dan menyesal di kemudian hari. Ingat kasus Koperasi Langit Biru yang berkantor di Perumahan Bukit Cikasungka Blok ADF Nomor 2,3,4, dan 5, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang yang dipimpin Jaya Komara?

Pada awalnya, masyarakat tergiur dengan usaha daging sapi yang digerakkan Jaya, kini telah meninggal saat ditahan polisi. Karena, Jaya menawari investasi antara Rp385 ribu hingga Rp14 juta. Imbalannya bunga 10% sebulan atau 240% dalam dua tahun. Sebanyak 115 ribuan orang yang tergiur hingga Jaya mampu menghimpun dana sebesar Rp500 miliar.

Bulan pertama dan kedua, transfer keuntungan lancar. Namun bulan-bulan berikutnya, Jaya pun kewalahan mentransfer bunga bisnis daging sapi tersebut, karena memang jumlahnya tak wajar. Bunga tak lagi mengucur, simpanan pokok pun melayang.

Contoh kasus berikutnya adalah yang dipraktekkan PT Gemilang Reksa Jaya (GRJ) yang beroperasi di kawasan Depok, Jabar, dan sekitarnya. Korban yang sudah terjerat mencapai 10 ribu orang. Mereka tergiur dengan iming-iming bunga besar. Dengan berinvestasi sebesar Rp10 juta, dalam lima bulan uang kembail sebesar Rp23 juta. Saat jatuh tempo dan para nasabah menagih janji, ternyata kantor PT GRJ sudah tutup.

Kapolres Depok AKBP Mulyadi Kaharni mengatakan, para korban tidak hanya tinggal di Depok, tapi juga berasal dari luar Jawa, termasuk Makassar dan Pekanbaru. "Saat digeledah polisi, kantor sudah kosong. Banyak nasabah yang enggan melapor karena takut uangnya akan hilang," ucap dia beberapa waktu lalu.

Praktik bank gelap seperti itu juga pernah dilakukan PT Sarana Perdana Indoglobal (SPI) yang bermarkas di Gajah Mada Plaza, Jakarta Pusat. SPI berhasil meraup uang nasabah hingga Rp 2 miliar melalui produk jasa investasi dan valuta asing itu memberikan imbal untung 15% per tahun. Angka itu di atas rata-rata kupon surat utang Negara (SUN) yang mencapai 10%, bunga SBI 9%, dan bunga deposito 6-8%.

Bukan hanya orang awam saja yang pernah menjadi korban penipuan seperti itu. Pengacara kondang OC Kaligis dan mantan Ketua DPR HR Agung Laksono juga pernah menjadi korban penipuan perusahaan transnasional Dressel Investment Limited. Perusahaan itu mencari mangsa di Indonesia dengan membentuk perusahaan lokal yaitu PT Wahana Bersama Globalindo (WBG) pada medio 2007-an.

Para direksi WBG, yaitu Krisno Abiyanto Soekarno, Thomas Aquino Ganang Rindarko, dan Paimin Landung sudah diadili dan divonis kurungan penjara sekian tahun. Mereka dijerat dengan UU 10/1998 tentang Perbankan, UU 25/2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, dan UU KUHP.

Kendati demikian, dana nasabah yang mencapai Rp3,5 triliun itu tetap saja menguap. Para direksi itu ternyata hanya agen. Dana besar dari sekitar seribu nasabah itu lari ke Dressel di luar negeri. Hingga kini dana para nasabah itu tak kunjung kembali.

Yang kembali menghangat adalah kasus investasi Antaboga yang dikelola manajemen Bank Century. Para petinggi Bank Century sudah menjalani vonisnya di penjara. Berhubung dana investasi belum juga kembali, para nasabah pun kembali giat mengejar manajemen bank yang kini sudah ganti baju menjadi Bank Mutiara.

Pilih yang Profesional

Pejabat Kementerian Koperasi dan UKM, yaitu Setyo Heryanto, deputi Bidang Kelembagaan mengingatkan agar kita memilih lembaga investasi dan pembiayaan, termasuk koperasi yang akuntabel. Artinya, harus menggambarkan profesionalisme pengelola, agar usaha yang dijalankan pengelola dapat dipertanggungjawabkan (responsibility), dapat dipertanyakan (answerability), dan dapat dipersalahkan (blameworthiness). Akuntabilitas merupakan satu dari lima prinsip keterbukaan publik dan good governance. Keempat prinsip lainnya adalah responsibilitas, kemandirian, dan fairness.

Masih banyak cara untuk berinvestasi. Ikut waralaba, misalnya. Sebentar lagi LPDB menggelar Festival Waralaba. Selain itu, bagi yang piawai bisa berbelanja saham. Tapi, jika tak waspada dan terburu nafsu, bisnis di bursa saham juga malah bisa bikin bangkrut. Sebaliknya, jika beruntung, nilai saham yang kita beli bisa berlipat ganda. Bisnis properti juga cukup menjanjikan, sebab semua orang membutuhkan tempat tinggal, baik secara tetap maupun sewa. Kini banyak orang berhenti bekerja sebagai karyawan, dan beralih profesi di sektor riil, baik jasa maupun produksi.

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) bahkan sudah menyasar kalangan mahasiswa di berbagai kampus untuk dididik menjadi wirausaha muda. Ketua Umum Hipmi DKI Jakarta Andhika Anindyaguna mengatakan, lebih baik menjadi pengusaha yang mampu menciptakan banyak lapangan kerja dari pada menjadi pegawai negeri sipil (PNS) atau bekerja sebagai karyawan swasta. Bahkan ada yang berprinsip, lebih baik jadi raja kecil dulu sebelum jadi raja besar, dari pada jadi budak besar. (bani saksono)

BERITA TERKAIT

Industri Properti Perlu Waspadai Suku Bunga dan Likuiditas

      NERACA   Jakarta – Industri properti dihimbau untuk mengantisipasi terhadap dua tantangan penting yaitu ketidakpastian ekonomi global…

Bianglala Investasi Bodong

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Investasi bodong pada lembaga keuangan tidak serta merta menyeret pada keuangan konvensional saja…

KPPU Gelar Workshop Asesmen Persaingan Usaha

KPPU Gelar Workshop Asesmen Persaingan Usaha NERACA Bandar Lampung – Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), Kurnia Toha, membuka kegiatan…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

KUR, Energi Baru Bagi UKM di Sulsel

Semangat kewirausahaan tampaknya semakin membara di Sulawesi Selatan. Tengok saja, berdasarkan data yang dimiliki Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulsel,…

Obligasi Daerah Tergantung Kesiapan Pemda

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai penerbitan obligasi daerah (municipal bond) tergantung pada kesiapan pemerintahan daerah karena OJK selaku regulator hanya…

Bank Mandiri Incar Laba Rp24,7 T di 2018

PT Bank Mandiri Persero Tbk mengincar pertumbuhan laba 10-20 persen (tahun ke tahun/yoy) atau sebesar Rp24,7 triliun pada 2018 dibanding…